Sukabumi –
Warga Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, dihebohkan dengan kemunculan seekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang berkeliaran di permukiman. Satwa lindung tersebut terlihat melompat antar-atap rumah warga.
Kemunculan lutung di Cisaat bukan yang pertama kali. Catatan menunjukkan pada Desember 2022, lutung jawa juga sempat turun ke permukiman dan berhasil dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Peristiwa ini pertama kali diketahui sejumlah ibu yang sedang mencuci di kolam sekitar permukiman, Jumat (30/1/2026). Awalnya, warga mengira hewan tersebut monyet biasa, namun fisiknya berbeda.
“Awalnya dilihat sama ibu-ibu yang lagi nyuci di kolam. Tiba-tiba ramai, karena ada binatang mirip monyet tapi bentuknya beda,” ujar Sigit (40), warga Cisaat, kepada.
Teriakan para ibu memicu warga lain berdatangan. Setelah didekati, warga memastikan hewan itu adalah lutung dengan ciri khas bulu hitam legam dan ekor panjang. Menurut Sigit, lutung tersebut sempat mendekati salah satu rumah warga yang kosong. Di area itu memang sering terdapat tumpukan sampah di luar rumah.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
“Kemungkinan lagi lapar, cari makan. Dia sempat mendekat ke rumah warga, tapi nggak lama ketahuan sama warga lain, akhirnya kabur lagi,” katanya.
Hingga kini, lutung tersebut belum berhasil dievakuasi karena terus berpindah lokasi. Informasi terbaru menyebutkan satwa itu berada di wilayah Cibolang Kidul, Desa Cibatu.
“Pertama kali ketahuan itu di Jalan Siliwangi, Desa Cibatu, Cisaat. Sekarang katanya pindah ke daerah Cibolang Kidul,” ucap Sigit.
Warga menduga kemunculan lutung dipicu faktor musim. Saat musim hujan, lutung dari kawasan Situ Gunung kerap turun mendekati permukiman. “Kalau dibilang sering sih nggak. Biasanya kalau musim hujan baru kelihatan. Kalau musim panas jarang banget terlihat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Resort Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Asep Suganda menyatakan asal-usul lutung tersebut belum dipastikan. Ia menduga satwa itu merupakan hasil pelepasan oleh manusia.
“Bisa jadi juga dibawa orang. Mungkin ditangkap dari lokasi lain, dipelihara, terus dilepas lagi,” kata Asep.
Ia menjelaskan populasi lutung di kawasan Situ Gunung memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. “Beberapa tahun ke belakang awalnya tidak terlalu banyak. Sekarang populasi meningkat karena mereka merasa aman dan nyaman, tidak ada perburuan, sehingga perkembangbiakannya cepat,” jelasnya.
Asep menyebut ketersediaan pakan di alam masih melimpah, sehingga lutung sebenarnya tidak memiliki kecenderungan untuk merambah permukiman. “Ruang gerak dan bahan makanan di alam masih banyak, sehingga sebenarnya tidak akan keluar jauh. Mereka juga belum terlalu terhabituasi dengan manusia,” katanya.
Asep menegaskan lutung adalah satwa dilindungi. Dari lima jenis primata di kawasan Gunung Gede Pangrango, empat di antaranya menghuni Situ Gunung. “Di Situ Gunung tidak ada jenis monyet ekor panjang, jadi ekosistemnya berbeda. Lutung justru lebih dominan. Ada dua jenis kera dan dua jenis monyet di sana,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menangkap atau memelihara lutung jika kembali terlihat. “Jangan ditangkap untuk dipelihara karena itu justru menyulitkan diri sendiri. Biarkan satwa tetap di alam. Biasanya kasus seperti ini berawal dari iseng, lalu dilepas karena repot,” tegas Asep.
Terkait penanganan, Asep akan berkoordinasi dengan BKSDA mengingat lokasi kemunculan lutung berada di luar otoritas taman nasional. “Kami akan menginformasikan hal ini ke BKSDA untuk penanganan lebih lanjut,” pungkasnya.
“






