Cimahi –
Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Seorang pria ditemukan tewas di bawah Flyover Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Selasa (10/2/2026) pagi. Berdasarkan penelusuran, pria tersebut diketahui merupakan seorang pelajar di salah satu SMK di Kota Cimahi.
Pelajar berinisial R itu diduga melompat dari atas jembatan layang tersebut. Hingga kini, motif remaja berusia 17 tahun itu mengakhiri hidupnya masih belum diketahui pasti, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta kerabat yang ditinggalkan.
Kematian R menjadi pemicu trauma lama yang kembali terbuka bagi lingkungan sekolahnya. Pada Juni 2024, salah seorang guru di sekolah tersebut juga ditemukan tewas di Flyover Cimindi, perbatasan Kota Cimahi dan Kota Bandung.
Saat pihak sekolah, baik guru maupun siswa, mulai memulihkan trauma tersebut, insiden yang melibatkan R kembali menguak luka lama yang sempat coba disembuhkan.
“Ya, sebetulnya dari kejadian yang tahun 2024, waktu itu guru kami. Dia baru jadi guru di sekolah kami, dan dia juga secara kepribadian baik, nggak ada hal yang aneh,” kata Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Humas SMK tersebut, Siti Darajat saat ditemui, Rabu (11/2/2026).
Belum pulih sepenuhnya dari trauma dua tahun lalu, pada awal 2026 ini mereka kembali dikejutkan dengan kabar kematian R yang diduga melompat dari Flyover Pasupati.
“Pastinya kaget banget, karena anak ini juga dikenal baik. Dia sopan dan santun gitu ya terhadap guru maupun temannya. Lalu motivasi belajar almarhum ini tinggi,” katanya.
Sebelum kejadian kedua ini, pihak sekolah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya mitigasi agar insiden serupa tidak terulang. Namun, upaya kolektif tersebut belum mampu membendung peristiwa tragis ini kembali terjadi.
“Dan dari situ kami sudah mengantisipasi agar tidak ada percontohan, tidak menjadi hal-hal yang kurang baik gitu ya untuk siswa kami. Kami selalu melakukan bimbingan konseling, lalu mengadakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya lebih ke sosial gitu, keagamaan, bahkan penguatan mental siswa lewat capacity building gitu,” katanya.
Kini, pihak sekolah harus bekerja ekstra keras. Dua kejadian memilukan dalam kurun waktu dua tahun dikhawatirkan memberikan dampak negatif terhadap citra institusi serta kondisi psikologis para siswa lainnya.
“Dan untuk ke depannya itu setelah kejadian 2024 dan 2026 ini ya, pastinya ini akan menjadi evaluasi kami bagaimana lebih mendalami lagi kondisi siswa-siswa kami. Kami harus lebih mengenal karena ternyata siswa yang baik-baik saja terlihat di sekolah belum tentu baik kondisinya,” katanya.
“







