Luhut soal Perang AS-Israel Vs Iran: Dalangnya Negara Maju

Posted on

Cimahi

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengupas soal pecahnya konflik antara Amerika dengan sekutunya, Israel menghadapi Iran. Perang di Timur Tengah itu berlangsung lebih dari sepekan belakangan.

Luhut menyebut kondisi global saat ini ada di dalam ketidakpastian. Belum usai perang berkepanjangan antara Rusia-Ukraina, disusul ketegangan di Amerika dengan Venezuela karena penahanan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro oleh Delta Force, kini pecah perang antara Amerika-Israel dengan Iran.

“Point saya, uncertainty (ketidakpastian) ini masih tinggi. Oleh karena itu kita di dalam negeri harus kompak juga menghadapi ini karena semua dunia menghadapi masalah ini,” kata Luhut di Unjani Cimahi, Rabu (11/3/2026).

Luhut menyinggung jika pecahnya konflik di banyak negara saat ini kebanyakan melibatkan negara maju. Ia dengan lantang mencontohkan bagaimana Amerika dan Inggris memicu konflik di sebuah negara dengan kesewenang-wenangannya.

“Tapi kalau jujur, kalian belajar sejarah sebenarnya yang menjadi malapetaka (perang) ini semua dalangnya adalah negara-negara maju. Anda lihat betapa Inggris yang menjajah lalu memecah Palestina dengan Israel. Anda lihat Amerika, negara-negara barat setelah Perang Dunia Kedua, Arab Saudi dipecah dengan Abu Dhabi, dengan Dubai, dengan semua,” kata Luhut.

Belum lagi ketidaksukaan negara maju ketika negara-negara yang dijajah mendeklarasikan kemerdekaan. Seperti Indonesia di tahun 1945 yang kemudian memicu gerakan kemerdekaan dari negara jajahan lainnya.

“Dan kalau anda lihat Rubbio, Menteri Luar Negeri Amerika,.di Muenchen pidato sepuluh hari yang lalu, dia sudah mengatakan salah kita melepaskan penjajahan dulu. Jadi Indonesia ini sebagai katakanlah penyatu Asia-Afrika waktu itu dianggap kita salah, bahwa kita mendorong kemerdekaan negara-negara berkembang. Sekarang mereka ingin lagi melakukan kolonisasi atau penjajahan lagi dalam bentuk yang beda,” kata Luhut.

“Anda bisa bayangkan Presiden Maduro diambil oleh Delta Force begitu saja, enggak ada yang ribut sekarang. Apa mau begini? Apa mau bisa begitu terus kita? Kan tidak. Ada PBB, tiba-tiba dibikin sekarang Board of Peace. Siapa yang buat? Amerika. Jadi kita sebagai negara dengan UUD kita yang menjelaskan bebas aktif, itu saya kira sudah pola yang paling benar. Kita baik pada semua, kita bisa berkomunikasi dengan semua,” imbuhnya.

Mengoptimalisasikan Karakter Mahasiswa

Sementara itu Rektor Unjani, Agus Subagyo mengatakan Luhut dihadirkan dalam rangka memberikan materiamengenai ‘Optimalisasi Peran dan Karakter Mahasiswa dalam Memanfaatkan Bonus Demografi Guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045’.

Mahasiswa Unjani sendiri disiapkan agar sapat dapat meneladani nilai kepemimpinan yang ditunjukkan Luhut selama berkarier di dunia militer maupun pemerintahan.

“Harapannya memang para mahasiswa semuanya bisa meneladani nilai-nilai kepemimpinan yang telah ditorehkan oleh Luhut Binsar Pandjaitan,” ujarnya.