Bandung –
Bencana longsor yang menerjang Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat mengungkap fakta penting terkait karakter alam kawasan tersebut.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut, wilayah yang terdampak longsor dulunya merupakan jalur aliran sungai.
Plh Kepala PVMBG Badan Geologi, Edi Slameto, menjelaskan timnya menemukan adanya fenomena penyimpangan arah aliran material longsor ke selatan. Fenomena ini dinilai tidak terjadi secara kebetulan, melainkan mengikuti jejak alam yang sudah terbentuk sejak lama.
“Ada satu fenomena yang menurut tim kami ada peristiwa penyimpangan atau limpasan ke arah selatan,” kata Edi, Jumat (30/1/2026).
Hasil penelusuran lapangan yang dikombinasikan dengan data serta keterangan warga lama setempat menguatkan temuan tersebut. Jalur yang dilalui material longsor ternyata merupakan alur air di masa lalu, meski kini tidak lagi terlihat jelas sebagai sungai aktif.
“Ternyata dulunya menurut data dan pengakuan penduduk yang sudah lama tinggal di situ memang, jalur limpasan ini adalah dulunya adalah sungai, mungkin sungai kecil atau parit atau apa,” ujarnya.
Menurut Edi, saat volume material longsor melampaui daya tampung lereng, alam secara alami akan memilih jalur paling mudah dilalui. Dalam konteks di Desa Pasirlangu, jalur tersebut adalah bekas aliran sungai yang kembali “diaktifkan” oleh limpasan material longsor.
“Jadi ketika terjadi over flow material, maka ya pasti akan memilih jalurnya. Alam ini punya logikanya sendiri,” ungkap Edi.
Ia menjelaskan, material debris dari longsor bergerak ke arah selatan sebelum berkembang menjadi aliran yang mengikuti alur sungai dan kemudian berbelok ke arah barat.
Kondisi itu menyebabkan terjadinya limpasan dan penyimpangan aliran bahan rombakan yang memperluas dampak bencana ke kawasan permukiman.
“Material debris bergerak ke arah Selatan lalu berkembang menjadi aliran mengikuti alur sungai berbelok menuju ke barat. Terjadi limpasan penyimpangan aliran bahan rombakan ke arah selatan karena terjadi over flow material,” tuturnya.







