Cirebon –
Sejumlah labi-labi yang diperkirakan telah berusia sekitar 30 tahun bisa ditemui di Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Mereka menjadi penghuni paling senior di objek wisata Cikuya, tempat ribuan labi-labi dirawat dan dikenalkan kepada para pengunjung.
Desa Belawa dikenal sebagai daerah yang memiliki objek wisata edukasi sekaligus konservasi. Nama Cikuya sudah lama melekat, merujuk pada banyaknya labi-labi atau yang disebut kuya oleh masyarakat sekitar.
Memasuki area wisata, pengunjung disambut pepohonan yang rimbun. Rindangnya tanaman membuat suasana terasa lebih sejuk. Di kolam-kolam yang tersedia, labi-labi tampak berenang pelan, sesekali muncul ke permukaan air.
Keberadaan ribuan kuya menjadi daya tarik utama dari objek wisata ini. Pengunjung dapat melihat langsung dari dekat, memperhatikan gerak-gerik dan bentuk tubuhnya, hingga mengenal lebih jauh hewan tersebut.
Pemandu objek wisata Cikuya, Awod, mengatakan kawasan ini bukan sekadar tempat rekreasi. Pengunjung juga bisa mendapatkan pengetahuan mengenai kehidupan labi-labi.
Menurut Awod, pengunjung dapat belajar tentang siklus hidup labi-labi. Mulai dari proses bertelur, penetasan, sampai melihat labi-labi yang masih kecil atau tukik.
Selain wisatawan umum, Cikuya juga kerap menerima kunjungan rombongan sekolah. Mereka datang untuk belajar sekaligus melihat langsung proses konservasi yang berjalan.
“Karena ini tempat wisata dan edukasi, jadi pengunjung itu tidak hanya masyarakat umum. Ada juga anak-anak sekolah yang berkunjung ke sini,” kata Awod kepada saat ditemui di objek wisata Cikuya, baru-baru ini.
Objek wisata Cikuya di Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon Foto: Ony Syahroni/ |
Awod menjelaskan, kuya yang menempati objek wisata Cikuya di Desa Belawa ini merupakan labi-labi dengan nama ilmiah Amyda cartilaginea.
“Ini adalah Amyda cartilaginea atau orang lebih kenalnya dengan nama labi-labi atau bulus. Tapi untuk masyarakat sekitar menyebutnya kuya,” kata Awod.
Saat ini, kata dia, jumlah labi-labi di objek wisata Cikuya sudah mencapai ribuan ekor, mulai dari yang berukuran kecil hingga besar. Masing-masing ditempatkan di kolam berbeda menyesuaikan ukurannya.
“Yang dewasa ada 200 ekor lebih. Tukik di tahun kemarin ada 1.500. Kemudian yang menetas dari bulan Oktober sampai Januari ini kita punya 800 tukik,” kata Awod.
Dari ribuan ekor itu, beberapa di antaranya sudah berumur sekitar 30 tahun. Ukurannya pun lebih besar dibanding yang lain. “Saat ini yang paling tua di sini sekitar 30 tahun lebih. Ada lima ekor,” ucap Awod.
Dengan konsep wisata alam, Cikuya menawarkan pengalaman berbeda. Tidak sekadar berkunjung, wisatawan juga bisa pulang dengan tambahan wawasan tentang labi-labi yang telah lama menjadi bagian dari Desa Belawa.
Biaya masuk ke objek wisata ini pun cukup terjangkau. Pengunjung tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk berkunjung.
“Untuk pengunjung dewasa, biaya masuknya hanya Rp5.000, sedangkan anak-anak Rp3.000,” kata Awod.








