Persib Bandung menutup putaran pertama Super League 2025/2026 dengan status pemuncak klasemen usai menumbangkan Persija Jakarta. Kemenangan tipis 1-0 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (11/1/2026) sore, memastikan Maung Bandung menyandang predikat juara paruh musim.
Namun euforia kemenangan itu diminta tidak berlarut-larut. Mantan pemain Persib yang turut mengantar Maung Bandung berjaya di era 1994 dan 1995, Yudi Guntara, mengingatkan perjalanan menuju gelar juara masih panjang dan penuh tantangan.
Menurut Yudi, kemenangan atas Persija bukanlah garis finis, melainkan titik awal untuk menghadapi tantangan yang lebih berat di putaran kedua. Apalagi, jarak poin di papan atas klasemen masih sangat rapat.
“Tentu ya, kemenangan atas Persija di akhir paruh pertama ini bukan akhir, kan sudah digaris bawahi bahwa persaingan masih ketat sehingga perjalanan kita masih panjang,” ujar Yudi, Senin (12/1/2026).
“Dan pesan saya, jangan lengah, jangan sampai lengah,” sambungnya.
Yudi menilai Persib harus tetap menjaga fokus karena bukan hanya persaingan domestik yang menanti. Tantangan dari level Asia juga sudah di depan mata lewat babak 16 besar AFC Champions League Two (ACL 2).
“Kemudian ACL kita juga akan dihadapkan dengan klub yang tidak mudah dimana kita akan menghadapi Ratchaburi FC, dan kalau kita menang mungkin Persib akan menghadapi Gamba Osaka,” katanya.
Meski mengingatkan soal jalan terjal yang masih menanti, Yudi tetap memberikan apresiasi atas performa Persib, terutama kepada Beckham Putra yang menjadi penentu kemenangan melawan Persija lewat gol cepat di menit ke-5 babak pertama.
Dalam pandangan Yudi, dominasi penguasaan bola Persija sepanjang laga bukan cerminan Persib ditekan habis-habisan. Ia menilai hal itu merupakan bagian dari strategi yang dirancang pelatih Bojan Hodak.
“Saya kira dengan dibiarkannya Persija menguasai penguasaan bola bukan berarti pemain kita disuruh untuk bertahan, tidak kalau menurut saya, alasannya karena kualitas penguasaan bola pemain Persija memang baik, jadi kita lebih dominan menunggu momen (counter, serangan balik), terutama di babak pertama,” terang Yudi.
Kekuatan Persib di lini tengah menjadi kunci. Thom Haye, Marc Klok, dan Eliano Reijnders dinilai sukses meredam kreativitas Persija sehingga lawan kesulitan menembus jantung permainan.
“Ditambah sesekali juga Beckham masuk ke dalam sama Berguinho sehingga pemain Persija sulit tembus di tengah, mereka lebih berusaha bermain di sektor flank atau sayap antara di kiri atau kanan buat menuju ke si Allano,” jelasnya.
Menurut Yudi, perubahan ritme pertandingan baru terasa di babak kedua. Selain karena Persija bermain dengan sepuluh orang usai kartu merah Bruno Tubarao, Mauricio Souza juga memilih memasukkan pemain-pemain berkarakter menyerang.
“Di babak kedua Pelatih Persija Mauricio Souza memasukan pemain tipe menyerang, ditambah Bruno hilang kontrol, mungkin frustasi karena selalu gagal di tengah,” katanya.
Yudi mengakui Persija sempat memiliki peluang emas di babak pertama. Ia bahkan menilai jalannya laga bisa berubah drastis jika peluang tersebut berbuah gol.
“Tapi tidak bosan-bosan saya sampaikan bahwa di dalam sepak bola semua bisa terjadi termasuk gagalnya peluang Persija di babak pertama, dan saya prediksi kalau saja itu berhasil masuk mungkin jalannya pertandingan bisa saja berbeda,” ujarnya.
Meski demikian, Yudi tetap mengapresiasi kerja keras seluruh pemain Persib. Ia pun berharap manajemen Persib dapat menambah amunisi baru untuk menghadapi padatnya jadwal di putaran kedua dan AFC Champions League Two.
“Rekrutan pemain kalau menurut saya di sektor tengah mungkin ya,” pungkasnya.







