Lebaran 2026 Berpotensi Beda, Ini Jadwal Versi Muhammadiyah dan Pemerintah | Info Giok4D

Posted on

Bandung

Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 diperkirakan jatuh pada pekan ketiga Maret 2026. Namun, perayaan Lebaran di Indonesia tahun ini berpotensi tidak berlangsung serentak. Hal ini disebabkan adanya perbedaan metode penentuan awal bulan Syawal yang digunakan oleh sejumlah organisasi Islam dan pemerintah.

Potensi perbedaan tersebut dijelaskan oleh peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin. Ia menyebutkan bahwa perbedaan Lebaran 2026 kemungkinan terjadi karena adanya dua pendekatan dalam menentukan awal bulan Hijriah, yakni hilal lokal dan hilal global.

Hilal lokal merujuk pada penentuan awal bulan berdasarkan posisi hilal yang terlihat di wilayah tertentu, seperti Indonesia atau Asia Tenggara. Metode ini menjadi acuan pemerintah Indonesia dalam menentukan awal Ramadan maupun Syawal. Sementara itu, hilal global tidak dibatasi wilayah geografis. Jika di satu lokasi di dunia hilal sudah memenuhi kriteria visibilitas, maka awal bulan Hijriah dapat berlaku secara global. Pendekatan ini menjadi dasar yang digunakan oleh Muhammadiyah melalui konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Potensi Perbedaan Penetapan 1 Syawal 1447 H

Menurut Thomas Djamaluddin, posisi hilal pada 29 Ramadan 1447 H atau 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria yang digunakan pemerintah Indonesia dan negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Kriteria MABIMS mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat agar dapat dinyatakan memenuhi syarat visibilitas. Berdasarkan perhitungan astronomi, posisi hilal pada waktu magrib di kawasan Asia Tenggara pada 19 Maret 2026 masih berada di bawah kriteria tersebut.

Karena itu, jika mengacu pada standar MABIMS yang digunakan pemerintah Indonesia, awal Syawal 1447 H kemungkinan jatuh pada 21 Maret 2026. Dengan kata lain, Lebaran berpotensi dirayakan pada Sabtu, 21 Maret 2026, meski keputusan resminya tetap menunggu sidang isbat pemerintah.

Thomas menjelaskan bahwa pada saat matahari terbenam tanggal 19 Maret 2026, kondisi hilal di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi syarat yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, penetapan 1 Syawal menurut metode ini berpotensi bergeser ke hari berikutnya.

Jadwal Lebaran Versi Muhammadiyah

Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan tanggal 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini didasarkan pada metode hisab yang digunakan dalam Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Keputusan tersebut tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang penetapan hasil hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.

Dalam perhitungan KHGT, ijtimak atau konjungsi bulan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026. Setelah itu, pada saat matahari terbenam terdapat wilayah di muka bumi yang sudah memenuhi Parameter Kalender Global (PKG).

Parameter tersebut mensyaratkan tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat. Ketika syarat ini terpenuhi di salah satu wilayah di dunia, maka awal bulan baru dalam kalender global dapat ditetapkan.

Berdasarkan kriteria tersebut, Muhammadiyah memastikan bahwa Idulfitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Penetapan Lebaran Versi Pemerintah

Sementara itu, pemerintah masih belum melakukan penetapan 1 Syawal 1447 H. Kepastian tanggal Lebaran 2026 di Indonesia tetap menunggu keputusan resmi dari pemerintah melalui sidang isbat.

Sidang ini akan digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) pada Kamis, 19 Maret 2026. Proses sidang isbat menjadi mekanisme resmi yang digunakan pemerintah Indonesia untuk menetapkan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa sidang isbat akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB.

Dalam sidang tersebut, pemerintah akan memadukan data hisab (perhitungan astronomi) dengan hasil rukyatul hilal (pengamatan langsung terhadap hilal) dari berbagai titik pemantauan di Indonesia.

Proses sidang juga dilakukan secara terbuka dan melibatkan berbagai pihak agar hasil penetapannya dapat diterima secara luas oleh masyarakat.

Sejumlah lembaga dan organisasi akan dilibatkan dalam proses sidang isbat Lebaran 2026. Di antaranya adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta berbagai planetarium dan observatorium di Indonesia.

Selain itu, pemerintah juga mengundang perwakilan dari berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, untuk turut menyampaikan pandangan serta data yang dimiliki.

Melalui proses tersebut, pemerintah berharap keputusan yang dihasilkan dapat menjadi rujukan bersama bagi umat Islam di Indonesia.

Perbedaan Lebaran di Indonesia

Perbedaan penetapan awal Ramadan maupun Idulfitri sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia sudah cukup terbiasa dengan adanya perbedaan hari raya antara organisasi Islam tertentu dengan keputusan pemerintah.

Meski demikian, perbedaan tersebut umumnya tidak mengurangi semangat kebersamaan umat Islam dalam merayakan Idulfitri. Banyak masyarakat tetap menghormati perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan kalender Hijriah.

Yang terpenting, momentum Lebaran tetap menjadi waktu untuk mempererat silaturahmi, saling memaafkan, serta merayakan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.