Langka Air Tawar, Begini Cara Warga Bermuda Bertahan Pakai Atap Rumah

Posted on

Bandung

Masyarakat Pulau Bermuda di Atlantik Utara punya cara unik untuk memanen air hujan, di tengah keterbatasan sumber air tawar. Lalu bagaimana caranya?

Bukan dengan meletakkan banyak wadah besar atau toren, masyarakat di Pulau Bermuda justru mengandalkan rumah mereka. Atap rumah mereka dibangun dengan bentuk yang unik agar dapat menampung air hujan.

Dilansir BBC, bentuk atap tersebut mengerucut bak limas, tetapi dibuat berundak seperti anak tangga. Fungsi anak tangga tersebut adalah memperlambat aliran air hujan deras sehingga membantu talang mengumpulkan air dan menyalurkannya ke dalam tangki di bawah rumah untuk disimpan.

Model atap seperti ini telah diterapkan sejak 400 tahun lalu hingga saat ini. Cara ini cukup efektif karena di pulau tersebut curah hujan tahunannya cukup tinggi dan tersebar merata sepanjang tahun sehingga tangki-tangki air tiap rumah bisa terisi. Ukuran tangki-tangki tersebut setara dengan kapasitas 8 galon.

Bukan hanya bentuknya yang unik, material dari atapnya pun khusus, yakni dari batuan kapur yang memiliki bobot cukup berat. Fungsi dari material ini untuk memastikan atap tidak bergeser atau terbang ketika ada badai.

Selain itu, mortar kapur memiliki sifat antibakteri sehingga air hujan yang jatuh mengenai atap dan masuk ke dalam tangki air aman digunakan.

Namun, sekarang mortar telah diganti dengan cat berwarna putih. Apakah akan tetap aman? Iya, warna putih dipilih karena dapat memantulkan sinar ultraviolet dari matahari sehingga membantu memurnikan air.

Bentuk atap di sana juga sebisa mungkin dibuat lebar agar dapat menampung lebih banyak air. Namun, karena semakin banyak yang tinggal di pulau tersebut, lahan yang tersedia pun semakin kecil sehingga banyak yang mengakali dengan membangun rumah 2 lantai agar ada ruang di atas.

Meskipun sudah memiliki inovasi super canggih, masyarakat di Pulau Bermuda tetap memiliki kebiasaan untuk menghemat air. Mereka tahu diri bahwa persediaan air tawar tidak melimpah seperti di negara lain.

“Kamu punya secangkir air dan itulah yang kamu gunakan untuk menyikat gigi. Kamu menghemat air dalam cangkir sehingga dengan sisa air terakhir bisa dipakai untuk bilasan terakhir,” kata Stuart Hayward, seorang ahli lingkungan yang sejak kecil diajarkan oleh orang tuanya untuk menghemat air, seperti yang dikutip pada Senin (9/2/2026).

“Kamu tidak bisa menggunakan banyak detergen agar saat selesai mencuci piring, tidak ada busa yang tersisa. Air itu bisa digunakan untuk menyiram kebun,” tambahnya.

Sayangnya, masalah air ini diperparah dengan gaya hidup wisatawan ke pulau tersebut. Banyak wisatawan disebut bisa memakai 2x lipat jumlah air tawar dibandingkan penduduk setempat dalam sekali kunjungan. Mereka bahkan tidak masalah dengan harga yang harus dibayar. Hal ini yang sering dikeluhkan oleh penduduk setempat.

Air tersebut memang tidak didapat dari air hujan seperti warga sekitar. Pihak pemilik wisata atau hotel biasanya mendapat air tawar dan bersih dari pasokan air terbatas dari ‘lapisan’ bawah tanah atau lapisan air tanah tawar yang terletak di atas air asin yang lebih berat.

Namun, pulau ini semakin bergantung pada pabrik desalinasi, yakni yang memiliki teknologi untuk menghilangkan kadar garam dan mineral terlarut dari air laut. Saat ini terdapat enam pabrik desalinasi di seluruh Bermuda, yang menghasilkan total 13.500 meter kubik air per hari.