Cirebon –
Kamis pagi (12/2/2026), langit di atas Desa Barisan, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, tampak cerah. Tidak ada mendung yang menggantung, apalagi rintik hujan. Namun bagi warga Blok Pon, ketenangan pagi itu hanyalah fatamorgana.
Sekitar pukul 04.00 WIB, saat pengeras suara masjid mulai bersahut-sahutan menjelang azan Subuh, air berwarna cokelat keruh datang menyelinap dari balik pintu. Tanpa peringatan dan tanpa suara badai, Sungai Cisanggarung ‘bertamu’ dengan cara yang paling tidak diinginkan.
Andi (48), seorang sopir warga setempat, harus menelan pil pahit. Rencananya untuk bekerja pagi itu karam dalam hitungan menit.
“Kondisi di sini terang dari sore, enggak hujan sama sekali. Ini murni air kiriman,” ujar Andi dengan nada getir saat ditemui di kediamannya.
Air merangsek begitu cepat. Di dalam rumahnya, genangan mencapai 20 sentimeter. Namun di akses jalan utama, air sudah berubah menjadi sungai buatan dengan kedalaman mencapai 1 meter atau setinggi paha orang dewasa. Transportasi lumpuh total. Truk yang biasa ia kemudikan tak mungkin menembus kepungan air.
“Anak-anak sekolah enggak bisa berangkat, saya juga enggak bisa kerja. Mengungsi pun sudah tanggung, lokasinya sudah seperti ini,” tambahnya.
Bagi Andi, ini bukan sekadar banjir tahunan. Ia mengenang kembali memori pahit puluhan tahun silam. Menurutnya, skala banjir kali ini sangat luar biasa.
“Banjir sebesar ini baru terjadi lagi sekarang. Terakhir yang parah begini itu sekitar tahun 1985,” ungkapnya.
Kisah perjuangan lain datang dari Christina (43), atau yang akrab disapa Istina. Sejak pukul 02.00 WIB, ia sudah bergelut di dapur menyiapkan nasi bungkus untuk dagangan sarapan warga. Ia berharap bisa mengais rezeki dari para tetangga yang hendak berangkat kerja.
Namun tepat pukul 04.00 WIB, saat nasi siap dikemas, air tiba-tiba menyerbu dapurnya. “Enggak sampai satu jam, air langsung tinggi. Kasur tenggelam semua, enggak sempat angkat-angkat perabot karena air datangnya mendadak sekali,” tutur Istina.
Meski rumahnya terendam setinggi betis, semangat Istina tidak padam. Di tengah genangan, ia tetap menjajakan nasi bungkusnya. Baginya, menyerah berarti kerugian ganda.
“Daripada rugi, ya tetap dijual. Alhamdulillah, masih ada saja tetangga yang beli,” katanya sambil tersenyum tipis.
Pantauan di lokasi menunjukkan pemandangan yang kontras. Di satu sisi, wajah cemas warga dewasa tampak saat mereka menerobos banjir atau berjaga di teras yang lebih tinggi. Di sisi lain, anak-anak kecil justru bermain di tengah air, meski risiko kesehatan dan keselamatan mengintai di balik air keruh tersebut.
Di antara gang-gang sempit pemukiman padat, petugas berseragam oranye dari BPBD dan relawan mulai menyusuri lokasi. Mereka memantau kondisi dan memastikan tidak ada warga, terutama lansia, yang terjebak dalam situasi berbahaya.
Luapan Sungai Cisanggarung ini ternyata tidak hanya melumpuhkan Desa Barisan di Losari. Sejumlah titik di wilayah Kecamatan Ciledug dan Waled juga melaporkan kondisi serupa.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih bertahan di rumah masing-masing sembari menanti air surut. Mereka tetap waspada terhadap potensi kiriman air susulan dari wilayah hulu sungai.
Warga di Losari, Ciledug, dan Waled kini hanya bisa menggantungkan harapan pada langkah konkret pemerintah. Mereka lelah harus terus “bermain judi” dengan cuaca, di mana langit cerah sekalipun tak lagi menjamin rumah mereka tetap kering.
“Harapan kami ya cuma satu, biar ditangani serius sama pemerintah. Biar Cisanggarung enggak terus-terusan meluap saat kami sedang tidur,” tutup Andi penuh harap.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.







