Pemerintah Provinsi Jawa Barat akhirnya mengantongi kepastian krusial untuk memulai proyek strategis Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka di Kabupaten Bandung.
Surat penugasan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dinantikan kini memasuki tahap final dan segera diserahkan secara resmi kepada Gubernur Jawa Barat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, menyatakan proses administrasi di tingkat pusat telah rampung menyusul pertemuan intensif antara Pemprov Jabar dan jajaran Kementerian ESDM.
“Sebenarnya belum terbit secara fisik, tetapi sudah final. Kemarin Pak Sekda bertemu Dirjen ESDM dan beliau menyampaikan drafnya sudah di meja Pak Menteri,” ujar Ai saat dikonfirmasi, Kamis (15/1/2026).
Ia menyebut, surat penugasan tersebut menjadi landasan utama bagi Pemprov Jabar untuk melangkah ke tahapan berikutnya dalam proyek pengelolaan sampah regional tersebut.
“Insyaallah paling lambat minggu ini sudah bisa diterima Pak Gubernur. Progresnya sudah terang benderang,” katanya.
Dengan terbitnya surat penugasan ESDM, tahapan lanjutan akan segera dijalankan, terutama terkait Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PLN. Menurut Ai, proses ini diproyeksikan berjalan relatif cepat karena aspek harga sudah disepakati sebelumnya.
“Kami akan segera menindaklanjuti PJBL dengan PLN. Saya kira prosesnya tidak akan lama karena sudah ada kesepakatan harga, jadi tidak ada lagi negosiasi yang alot,” ucapnya.
Setelah PJBL rampung, proyek TPPAS Legok Nangka akan memasuki fase financial close sebagai syarat pemenuhan pembiayaan. Konsorsium pemenang tender, PT Jabar Environmental Solutions (JES), diperkirakan membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan untuk menuntaskan tahap ini.
“Setelah PJBL, akan ada proses financial close untuk pemenuhan pembiayaan dari pihak Sumitomo dan JES sekitar 6-9 bulan. Baru setelah itu dilanjutkan dengan proses konstruksi,” jelas Ai.
Pemprov Jabar menargetkan pembangunan fisik fasilitas pengolahan sampah tersebut dapat dimulai pada 2026. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, konstruksi ditargetkan dimulai paling lambat pada Agustus 2026.
“Mudah-mudahan konstruksi bisa dimulai paling lambat Agustus nanti,” imbuhnya.
Ai mengakui, proses menuju realisasi proyek Legok Nangka diwarnai berbagai dinamika, terutama pada tahap penugasan kementerian yang sempat meleset dari target waktu awal. Namun, ia optimistis target konstruksi tetap bisa dicapai pada 2026.
“Dinamikanya luar biasa. Penugasan menteri yang kami harap cepat ternyata sempat mundur karena beberapa kendala. Tapi sejauh ini target konstruksi 2026 tetap kami kejar, semoga bisa lebih cepat dari perkiraan,” pungkasnya.
Dengan terbitnya surat penugasan ESDM, tahapan lanjutan akan segera dijalankan, terutama terkait Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PLN. Menurut Ai, proses ini diproyeksikan berjalan relatif cepat karena aspek harga sudah disepakati sebelumnya.
“Kami akan segera menindaklanjuti PJBL dengan PLN. Saya kira prosesnya tidak akan lama karena sudah ada kesepakatan harga, jadi tidak ada lagi negosiasi yang alot,” ucapnya.
Setelah PJBL rampung, proyek TPPAS Legok Nangka akan memasuki fase financial close sebagai syarat pemenuhan pembiayaan. Konsorsium pemenang tender, PT Jabar Environmental Solutions (JES), diperkirakan membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan untuk menuntaskan tahap ini.
“Setelah PJBL, akan ada proses financial close untuk pemenuhan pembiayaan dari pihak Sumitomo dan JES sekitar 6-9 bulan. Baru setelah itu dilanjutkan dengan proses konstruksi,” jelas Ai.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Pemprov Jabar menargetkan pembangunan fisik fasilitas pengolahan sampah tersebut dapat dimulai pada 2026. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, konstruksi ditargetkan dimulai paling lambat pada Agustus 2026.
“Mudah-mudahan konstruksi bisa dimulai paling lambat Agustus nanti,” imbuhnya.
Ai mengakui, proses menuju realisasi proyek Legok Nangka diwarnai berbagai dinamika, terutama pada tahap penugasan kementerian yang sempat meleset dari target waktu awal. Namun, ia optimistis target konstruksi tetap bisa dicapai pada 2026.
“Dinamikanya luar biasa. Penugasan menteri yang kami harap cepat ternyata sempat mundur karena beberapa kendala. Tapi sejauh ini target konstruksi 2026 tetap kami kejar, semoga bisa lebih cepat dari perkiraan,” pungkasnya.







