Bandung –
Momentum bulan suci Ramadhan selalu menjadi waktu yang tepat untuk berbagi nasihat, tausiyah, dan pesan kebaikan, baik di masjid, sekolah, kantor, maupun lingkungan masyarakat. Ceramah yang singkat namun bermakna seringkali justru lebih mudah dipahami dan diingat oleh jamaah. Selain itu, ceramah yang singkat membuat pendengarnya tidak gampang bosan.
Ramadhan 2026 menjadi kesempatan istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat keimanan. Dalam berbagai kegiatan seperti kultum setelah salat tarawih, ceramah menjelang berbuka puasa, hingga pengajian rutin, seringkali diperlukan teks ceramah Ramadhan singkat. menyajikan 3 teks ceramah Ramadhan singkat 2026 terbaru. Simak di bawah ini.
3 Teks Ceramah Ramadhan Singkat 2026
Ceramah 1: Berbahagia dengan Datangnya Ramadan
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas izin dan kasih sayang-Nya, pada tahun 2026 ini kita kembali dipertemukan dengan bulan yang paling mulia, bulan yang penuh rahmat dan ampunan, yaitu bulan suci Ramadan. Tidak semua orang diberi kesempatan sampai di bulan ini. Maka pertemuan kita dengan Ramadan adalah nikmat yang luar biasa.
Hadirin yang dimuliakan Allah, kebahagiaan menyambut Ramadan adalah tanda hidupnya iman di dalam dada. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa siapa yang bergembira dengan datangnya Ramadan, Allah haramkan jasadnya dari api neraka. Tentu kegembiraan ini bukan sekadar kegembiraan lahiriah, bukan karena suasana meriah atau hidangan berbuka yang berlimpah, melainkan karena kita sadar bahwa pintu ampunan sedang dibuka selebar-lebarnya.
Ramadan adalah tamu agung yang datang hanya setahun sekali. Ia membawa hadiah istimewa: pahala yang dilipatgandakan, doa-doa yang diijabah, serta malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jika ada tamu mulia datang ke rumah kita, tentu kita bersiap dengan sebaik-baiknya. Maka bagaimana dengan Ramadan yang datang membawa rahmat Allah?
Oleh karena itu, mari kita sambut Ramadan dengan hati yang bersih. Bersihkan diri dari dendam, dari iri, dari kebiasaan buruk yang selama ini melekat. Jangan sampai Ramadan datang, tetapi hati kita masih penuh dengan kesombongan dan kelalaian. Persiapan terbaik bukan hanya stok bahan makanan, tetapi juga stok niat dan tekad untuk berubah.
Saudara-saudaraku, Ramadan adalah madrasah ruhani. Di bulan ini kita dilatih menahan lapar dan dahaga, bukan semata-mata menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan lisan dari dusta, menahan mata dari maksiat, dan menahan hati dari prasangka buruk. Puasa yang sejati adalah puasa yang melahirkan perubahan akhlak.
Mari kita jadikan Ramadan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Jika tahun lalu tilawah kita satu juz sehari terasa berat, tahun ini kita tingkatkan. Jika tahun lalu shalat malam masih jarang, tahun ini kita biasakan. Jangan sampai Ramadan berlalu begitu saja tanpa peningkatan kualitas iman.
Ingatlah, belum tentu kita dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya. Banyak saudara kita yang tahun lalu masih bersama kita, kini telah lebih dulu menghadap Allah. Maka jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Setiap detik di bulan Ramadan adalah peluang untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Kebahagiaan menyambut Ramadan juga harus kita wujudkan dalam kepedulian sosial. Perbanyak sedekah, bantu mereka yang kekurangan, bahagiakan anak yatim dan fakir miskin. Ramadan bukan hanya tentang hubungan kita dengan Allah, tetapi juga tentang hubungan kita dengan sesama manusia.
Akhirnya, semoga rasa bahagia ini menjadi awal perjalanan spiritual kita menuju derajat takwa yang sesungguhnya. Semoga Ramadan tahun ini menjadi Ramadan terbaik dalam hidup kita, Ramadan yang menghapus dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita, dan menjadikan kita hamba-hamba Allah yang lebih taat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ceramah 2: Bersiap Mengisi Ramadan dengan Membersihkan Batin
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.
Hadirin yang dirahmati Allah, sebelum kita melangkah lebih jauh dalam ibadah puasa Ramadan, ada satu hal yang sangat krusial untuk kita siapkan, yaitu “wadah”-nya. Wadah itu bukan piring atau gelas, melainkan batin kita. Sebab, sebersih apa pun amal yang kita lakukan, jika hati kita kotor, maka sulit bagi cahaya keberkahan untuk menetap di dalamnya.
Ibarat air jernih yang hanya bisa tertampung dengan baik dalam gelas yang bersih, keberkahan Ramadan pun hanya akan terasa manis jika hati kita bersih dari noda. Jika hati masih dipenuhi dendam, iri, dan prasangka buruk, maka puasa hanya akan terasa sebagai beban fisik, bukan kenikmatan ruhani.
Saudara-saudaraku, penyakit hati sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat besar. Sombong membuat kita merasa paling benar. Iri dan dengki membuat kita sulit bahagia melihat orang lain mendapat nikmat. Padahal, Ramadan datang untuk melembutkan hati, bukan mengeraskannya.
Karena itu, sebelum memasuki Ramadan 2026 ini, mari kita saling memaafkan. Lepaskan beban lama yang mungkin selama ini kita simpan diam-diam. Tidak ada ruginya meminta maaf lebih dulu. Justru itu tanda kelapangan jiwa dan kedewasaan iman.
Hubungan antar sesama manusia (hablumminannas) yang harmonis akan memudahkan hubungan kita dengan Allah (hablumminallah). Ketika hati terasa ringan karena sudah memaafkan dan dimaafkan, maka shalat akan lebih khusyuk, doa lebih mengalir, dan tilawah terasa lebih menyentuh.
Selain membersihkan hubungan sosial, kita juga harus membersihkan niat. Tanyakan pada diri sendiri, untuk apa kita berpuasa? Apakah sekadar menggugurkan kewajiban? Atau sungguh-sungguh ingin meraih ridha Allah dan menjadi pribadi yang lebih bertakwa?
Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ramadan adalah perjalanan spiritual. Ia mengajarkan kita untuk menahan amarah, menjaga lisan, mengontrol pikiran, dan memperbaiki sikap.
Mari kita jadikan awal Ramadan ini sebagai momentum berbenah diri. Kurangi keluhan, perbanyak syukur. Kurangi membicarakan kekurangan orang lain, perbanyak introspeksi diri. Karena perubahan besar selalu dimulai dari hati yang bersih.
Semoga dengan batin yang telah kita siapkan, Ramadan tahun ini benar-benar menjadi bulan penyucian jiwa. Semoga Allah membersihkan hati kita dari segala penyakit, menerima amal ibadah kita, dan menjadikan kita pribadi yang lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada-Nya. Aamiin.
Ceramah 3: Kiat-kiat Sukses Meraih Pahala di Bulan Ramadan
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.
Hadirin yang dimuliakan Allah, setiap orang tentu ingin sukses. Namun kesuksesan di bulan Ramadan bukan diukur dari seberapa lengkap menu berbuka, bukan pula dari seberapa ramai unggahan tentang kegiatan ibadah kita. Kesuksesan Ramadan diukur dari seberapa efektif kita memanfaatkan waktu untuk mendekat kepada Allah SWT.
Kiat pertama untuk sukses di bulan Ramadan adalah manajemen waktu. Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan, di mana satu amal dilipatgandakan pahalanya. Maka rugi besar jika waktu berlalu hanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Atur jadwal harian: kapan tilawah, kapan shalat sunnah, kapan bersedekah, bahkan kapan beristirahat agar tubuh tetap kuat beribadah.
Jadikan setiap menit di bulan ini sebagai ladang amal. Saat bekerja, luruskan niat bahwa itu bagian dari ibadah. Saat menyiapkan hidangan berbuka untuk keluarga, niatkan sebagai bentuk pelayanan dan kasih sayang karena Allah. Dengan niat yang benar, aktivitas biasa bisa bernilai luar biasa.
Kiat kedua adalah istiqomah, yaitu konsisten dalam beramal. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit. Jangan hanya semangat di awal Ramadan, lalu melemah di pertengahan, dan lalai di akhir.
Tetapkan target yang realistis. Misalnya, membaca Al-Qur’an satu juz sehari, shalat tahajud dua rakaat setiap malam, atau sedekah subuh setiap pagi meskipun jumlahnya tidak besar. Yang penting bukan banyaknya, tetapi keberlanjutannya. Konsistensi itulah yang membentuk karakter takwa dalam diri kita.
Kiat ketiga adalah menjaga kualitas puasa. Jangan sampai kita menahan lapar dan haus, tetapi lisan tetap mudah berbohong, tangan mudah menyakiti, dan hati masih penuh prasangka buruk. Puasa bukan hanya menahan diri secara fisik, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari maksiat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa adalah perisai. Perisai itu melindungi kita dari api neraka dan dari perbuatan dosa. Namun jika kita sering melakukan ghibah, memfitnah, atau berkata kasar, maka perisai itu akan berlubang. Akibatnya, pahala puasa bisa berkurang bahkan habis tanpa kita sadari.
Selain itu, manfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadan dengan lebih sungguh-sungguh. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tingkatkan doa, perbanyak istighfar, dan mintalah ampunan dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT.
Akhirnya, semoga dengan manajemen waktu yang baik, istiqomah dalam amal, dan menjaga kualitas puasa, kita termasuk orang-orang yang sukses di bulan Ramadan. Sukses bukan hanya meraih pahala berlimpah, tetapi juga keluar dari Ramadan sebagai pribadi yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih bertakwa. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
