Krisis iklim kian memperberat beban lahan pertanian yang selama bertahun-tahun bergantung pada pupuk dan pestisida kimia. Di tengah ancaman kerusakan tanah dan penurunan produktivitas itu, secercah harapan justru muncul dari hamparan sawah di Kampung Cipari, Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
Sekelompok petani membuktikan bahwa bertani tanpa bahan kimia tak hanya menyelamatkan alam, tetapi juga mampu mendongkrak hasil panen secara signifikan.
Kelompok tani Indonesia Wahana Agrikultur Natural (IWAN) sukses memanen padi jenis Kebuli yang ditanam sepenuhnya menggunakan pupuk organik. Hasilnya tak main-main, produktivitas lahan melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan metode konvensional.
Penggerak utama di lapangan adalah Gery Dwi Samudra (24), petani milenial yang aktif mendorong pertanian ramah lingkungan. Ia menyebut penggunaan pupuk organik langsung berdampak pada ketahanan tanaman padi.
“Secara kualitas dan kuantitas jauh lebih baik. Yang paling terasa, tanaman jadi lebih kuat dan tidak mudah terserang hama dibandingkan saat masih pakai pupuk kimia,” ujar Gery saat ditemui di lokasi panen, Senin (5/1/2026).
Lonjakan hasil panen tercatat jelas. Dari lahan seluas 1.000 meter persegi, produksi padi yang sebelumnya hanya berkisar 250 hingga 300 kilogram kini mampu mencapai 600 sampai 700 kilogram dalam satu musim tanam.
Tak hanya itu, waktu panen pun menjadi lebih singkat. Gery menjelaskan, usia tanam yang biasanya memakan waktu sekitar empat bulan kini bisa dipangkas menjadi 3 bulan 10 hari.
“Meski kondisi cuaca hujan terus seperti sekarang, tanaman tetap tumbuh optimal dan kualitasnya terjaga,” tambahnya.
Sementara itu, pembina kelompok IWAN, Iwan Heryawan (63) menuturkan, bahwa penggunaan pupuk organik bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan upaya memulihkan kembali kesehatan tanah yang rusak akibat pemakaian bahan kimia dalam jangka panjang.
“Gunakan pupuk organik yang sudah tersertifikasi. Tanah kita harus dinaikkan kualitasnya, dari pH 5-6 ke level ideal 7-9. Ini bukan hanya soal panen hari ini, tapi soal masa depan pertanian,” tegas Iwan.
Ia menambahkan, pulihnya unsur hara tanah juga berdampak pada kembalinya ekosistem alami sawah. Sejumlah indikator seperti belut dan mikroorganisme tanah yang sempat menghilang kini mulai bermunculan kembali.
Selain ramah lingkungan, padi Kebuli organik ini juga lebih aman dikonsumsi karena bebas dari residu bahan kimia sintetis. Iwan pun mengaku bangga melihat keterlibatan generasi muda seperti Gery yang mau turun langsung ke sawah dan menjadi pelopor pertanian sehat.
“Intinya, pangan yang dihasilkan harus sehat. Ketahanan pangan adalah kekuatan negara. Kalau tanahnya sehat dan petaninya cerdas, pangan kita akan kuat,” tutupnya.







