Majalengka –
Nama Ulya Aufiya Mutmainnah (29) mulai dikenal luas sebagai aktivis disabilitas di Kabupaten Majalengka dalam beberapa tahun terakhir. Perempuan asal Kecamatan Ligung ini tengah fokus membangun jaringan dan gerakan akar rumput melalui komunitas yang ia dirikan, Pelita Inklusi Nusantara (Pinus) Majalengka.
Sebelum aktif di ‘Kota Angin’, Ulya lebih banyak menimba pengalaman di Cirebon saat menempuh pendidikan di Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon. Di kampus tersebut, ia aktif sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang membentuk karakter kepemimpinan serta kepekaan sosialnya.
Meski telah lama bergelut di organisasi, kiprahnya sebagai aktivis disabilitas di tanah kelahiran terbilang baru. Keputusan untuk pulang kampung menjadi titik balik keseriusannya dalam membangun gerakan di daerah sendiri.
“Selama ini aktivitas saya memang lebih banyak di Cirebon. Ketika melihat pergerakan disabilitas di sana (Cirebon) sudah mulai solid antara dinas dan stakeholder, saya terinspirasi membangun hal yang sama di Majalengka,” kata Ulya saat berbincang dengan belum lama ini.
Pengalaman pribadi sebagai penyandang disabilitas saat duduk di bangku kuliah menjadi pemicu utama. Ia mengenang bagaimana tidak semua tenaga pendidik memahami kebutuhan spesifik mahasiswa disabilitas.
“Cara mengajar, interaksi, komunikasi itu berbeda. Tidak semua paham bagaimana memperlakukan mahasiswa disabilitas,” ujarnya.
Di kampus itu pula, ia berhasil meraih beasiswa akademik pada 2020. Namun baginya, prestasi tersebut tidak menghapus kenyataan pahit bahwa akses pendidikan bagi penyandang disabilitas masih belum merata.
“Kalau akses pendidikan kurang, itu akan berdampak ke pekerjaan dan lingkungan sosial. Pola pikirnya juga berbeda antara yang punya modal pendidikan dan yang tidak,” tuturnya.
Bekal Advokasi dari Yogyakarta
Guna memperkuat kapasitas diri, Ulya mengikuti Sekolah Perempuan yang digelar SAPDA (Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak) di Yogyakarta. Selama setahun, ia mendalami advokasi kebijakan, komunikasi strategis dengan pemangku kepentingan, hingga kepemimpinan komunitas.
Dari proses belajar tersebut, ia menyadari bahwa isu disabilitas bukan sekadar perkara bantuan sosial. Menurutnya, persoalan ini bersifat kompleks dan memerlukan pendekatan lintas sektor.
“Isu disabilitas itu bisa masuk ke semua ranah. Kita harus punya perspektif interseksionalitas, supaya kebutuhan yang berbeda bisa dipenuhi secara setara,” katanya.
Lahirnya Pinus Majalengka
Sekembalinya ke Majalengka, Ulya mendapati pergerakan disabilitas di daerahnya belum terkonsolidasi dengan kuat. Ia melihat minimnya komunikasi dengan dinas terkait, serta belum optimalnya implementasi regulasi di tingkat desa maupun kecamatan.
Berangkat dari keresahan itu, ia mendirikan Pelita Inklusi Nusantara (Pinus) Majalengka. Komunitas ini berfokus pada pendampingan bagi orang tua, anak, serta pemuda disabilitas.
“Selama ini disabilitas sering dipandang hanya soal bantuan sosial. Padahal mereka juga punya gagasan dan bisa memberi masukan ke pemerintah,” ujarnya.
Sejak 2019, Ulya aktif mendampingi keluarga disabilitas di Majalengka. Ia menyoroti Peraturan Daerah (Perda) Disabilitas yang telah eksis selama lima tahun, namun dinilai masih tumpul karena belum memiliki petunjuk teknis yang jelas.
“Perdanya ada, tapi juknisnya belum jelas. Dinas juga kadang bingung implementasinya seperti apa,” katanya.
“Adapun terkait regulasi Perda disabilitas itu sendiri ternyata masih perlu perbaikan-perbaikan. Perbaikan-perbaikan di sini bukan berarti kurang baik atau jelek, tapi perbaikan-perbaikan di sini, umumnya hanya poin-perpoin. tidak menjelaskan secara komprehensif bagaimana cara penanganan, cara solusi dan sebagainya juklak, juknisnya,” sambungnya.
Dorong Pendidikan Inklusi
Saat ini, salah satu fokus utama Pinus yang bermitra dengan SAPDA Yogyakarta dan Dinas Pendidikan Majalengka adalah penguatan pendidikan inklusi di akar rumput. Langkah ini bertujuan agar muncul komitmen rencana aksi yang berpihak terhadap keberfungsian pendidikan inklusi di masa depan. Ulya menilai pendidikan inklusi memberikan ruang bagi siswa disabilitas untuk belajar bersama nondisabilitas dengan pendekatan yang adaptif.
“Pendidikan inklusi itu mengupayakan hak setara. Mungkin cara proses belajarnya bisa berbeda, tapi tujuannya tetap sama, yaitu memperoleh hak dalam pendidikan” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan inklusi juga membentuk kesiapan sosial yang lebih matang dibandingkan sistem segregatif. Kini, melalui Program Daya SAPDA Yogyakarta, Ulya berkomitmen terus membangun kolaborasi lintas sektor dan mendorong regenerasi gerakan disabilitas di daerahnya.
“Sekecil apa pun pergerakannya, yang penting bisa memberikan dampak. Saya ingin teman-teman disabilitas di Majalengka bisa belajar bersama dan berani menyuarakan haknya,” pungkasnya.







