Kisah Titin, Guru Ngaji Difabel Indramayu Rawat Asa dan Bangkit dari Duka

Posted on

Indramayu

Matahari pagi belum benar-benar tinggi ketika Titin Maryatin (35) mulai menyibukkan diri di rumah sederhananya di Desa Kroya Blok Rancakitiran, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu. Sapu di tangannya bergerak pelan menyusuri lantai. Aktivitas rutin berlanjut dengan mengepel, mencuci piring, mencuci pakaian, hingga menyiapkan keperluan mengajar.

Titin menjalani seluruh rutinitas domestik tersebut dengan kondisi disabilitas fisik yang disandangnya sejak lahir. Titin merasa tak ada alasan untuk berhenti bergerak dan berdaya.

Anak kedelapan dari sembilan bersaudara itu tinggal bersama adik dan dua keponakannya setelah kedua orang tuanya berpulang. Rumah itu menjadi saksi bisu bagaimana hari-harinya diisi dengan produktivitas tanpa jeda, jauh dari kesan keluhan.

Sejak pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB, Titin seolah tak mengenal lelah. Ia mengajar mengaji dari rumah ke rumah dalam bentuk les privat, sebelum kemudian melanjutkan pengabdiannya di madrasah diniyah setempat.

Untuk menjangkau anak-anak didiknya, ia mengandalkan sepeda listrik roda tiga. Kendaraan itulah yang membantunya menembus sudut-sudut desa demi mengamalkan ilmu tanpa pamrih.

Saat disinggung mengenai semangat hidupnya, Titin bercerita sejak kecil ia telah merajut asa untuk menjadi guru. Tak ada rasa minder yang dibiarkannya hinggap di dalam hati.

“Waktu kecil saya sangat semangat. Bahkan cita-cita saya ingin menjadi guru,” ujar Titin saat ditemui di madrasah diniyah tempat dia mengajar, Selasa (17/2/2026).

Semangat itu telah bersemi sejak ia masih di bangku sekolah. Titin mengenyam pendidikan layaknya anak-anak lain, meski sayangnya, kendala biaya memaksa pendidikannya terhenti di tengah jalan. “Bukan karena di-bully. Alhamdulillah tidak ada yang mem-bully saya,” katanya.

Ujian mental justru datang setelah ia putus sekolah. Terlalu lama berada di rumah membuatnya merasa terkungkung. Sesekali saat menghadiri acara di luar, pertanyaan polos dari anak-anak kecil kerap mengusik batinnya.

“Bu, kenapa kakinya kecil?”

Pertanyaan itu sederhana dan tanpa niat menyakiti, namun Titin mengakui hatinya sempat rapuh. Ia pernah berada di titik terendah hingga mempertanyakan takdir kepada Sang Pencipta, “Ya Allah, kenapa saya seperti ini? Kenapa tidak seperti yang lain?”

Pergulatan batin itu tidak berlangsung singkat. Ia belajar menerima keadaan dirinya secara perlahan, ibarat seseorang yang sedang menjahit luka dengan penuh kesabaran.

Cobaan hidup Titin tak berhenti pada keterbatasan fisik. Salah satu fase terberat dalam hidupnya adalah saat ia menikah melalui jalur perjodohan orang tua. Meski awalnya bukan pilihan hati, ia tetap patuh dan menerima keputusan tersebut.

Suaminya yang bekerja sebagai nelayan jarang berada di rumah. Tak lama setelah pernikahan itu, sang ibu meninggal dunia. “Itu sangat berat sekali bagi saya. Seperti kehilangan pegangan hidup,” ujarnya.

Di tengah duka kehilangan ibu, sang suami yang baru pulang melaut hadir menjadi penguat. Dari momen itulah, benih cinta dan rasa sayang yang mendalam mulai tumbuh di hati Titin.

Namun, luka itu belum sempat mengering ketika suaminya meninggal dunia hanya berselang beberapa bulan setelah kepergian ibunya. Tak lama kemudian, sang ayah pun menyusul berpulang ke Rahmatullah.

Titin kehilangan tiga sosok pilar utama dalam hidupnya dalam rentang waktu yang sangat berdekatan. Kehilangan beruntun itu nyaris meruntuhkan pertahanannya. Lalu bagaimana ia bisa tetap berdiri tegak?.

“Saya banyak berkumpul dengan orang-orang yang menyemangati saya. Guru-guru, teman-teman,” katanya.

Ia memilih untuk berada di lingkungan yang suportif. Ketika ada pihak yang meragukan kemampuannya karena kondisi fisik, Titin memilih untuk tetap berpikir jernih dan tidak reaktif.

“Jangan terlalu dipikirkan, jangan terlalu dimasukkan ke hati. Jalani saja. Nanti pasti ada kebahagiaan tersendiri,” ujarnya.

Saat suaminya wafat, ia mencari ketenangan dengan membaca surat Yasin. Amalan itu ia tujukan untuk kedua orang tuanya, almarhum suaminya, serta untuk kekuatan dirinya sendiri selama 100 hari berturut-turut.

Lewat doa-doa lirih itulah, keteguhan hatinya kembali tumbuh. “Saya rutin baca Yasin sampai saya hafal. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa tegar lagi,” kata dia.

Di Desa Kroya, mungkin tak banyak yang menyadari pergulatan batin hebat yang pernah dilalui Titin Maryatin. Warga hanya melihat sosok guru ngaji yang gigih mengendarai sepeda listrik roda tiga, menyapa anak-anak dengan sabar, dan baru berhenti saat malam mulai larut.

Di balik kesederhanaan itu, Titin adalah potret nyata tentang cara manusia berdamai dengan takdir. Ia merawat luka menjadi kekuatan dan menyalakan cahaya ilmu bagi anak-anak desa yang sedang belajar mengeja huruf-huruf Al-Qur’an.