Sukabumi –
Di sebuah sudut Kota Sukabumi, deretan bambu yang kerap dianggap biasa justru menjelma menjadi produk bernilai tinggi. Di tangan M. Syamsudin, bambu-bambu itu diolah menjadi pulpen kaligrafi yang kini menembus pasar internasional.
Syamsudin tak sekadar membuat alat tulis biasa. Ia memproduksi pulpen khusus untuk kaligrafi dengan bahan utama bambu lokal. Menurutnya, karakteristik bambu lokal mampu menghasilkan goresan yang lebih halus dan kuat dibandingkan pena pada umumnya.
“Pulpen biasa itu hanya satu garis, kalau kaligrafi bisa lebar. Hasil tulisannya juga lebih bagus,” ujarnya kepada di Pondok Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka Sukabumi, Kamis (26/2/2024).
Keunggulan bambu menjadi nilai jual utama. Selain kuat, teksturnya mendukung hasil tulisan yang lebih presisi. Tak heran jika produknya diminati hingga ke Timur Tengah-wilayah yang secara geografis minim tanaman bambu.
“Di Timur Tengah itu nggak ada bambu. Jadi mereka tertarik (impor) dengan bahan ini,” katanya.
M. Syamsudin, eksportir pulpen bambu kaligrafi (Foto: Siti Fatimah/). |
Dari Sukabumi, pena kaligrafi buatannya telah diekspor ke 14 negara. Di antaranya Uni Emirat Arab (Dubai), Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Mesir, Turki, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, India, dan Pakistan. Pasarnya juga merambah Eropa hingga Amerika, seperti Belanda, Amerika Serikat, dan Kanada.
Biasanya, permintaan dalam jumlah besar datang dari toko alat tulis atau kolektor perlengkapan kaligrafi. Untuk kategori pemesan individu, rata-rata mereka mengambil sekitar 30 item dalam sekali transaksi.
Soal harga, pulpen kaligrafi bambu itu dibanderol mulai dari 1,5 dolar AS hingga 14 dolar AS per item, tergantung jenis dan tingkat kerumitannya.
Bahan bakunya pun beragam. Syamsudin memanfaatkan bambu berdiameter kecil sekitar 8-10 milimeter yang menyerupai ranting, hingga jenis bambu besar seperti bitung dan gombong. Bambu-bambu itu kemudian diolah dan dibentuk menjadi mata pena khas kaligrafi.
“Di Sukabumi kebetulan banyak sekali bambu. Itu yang kami manfaatkan,” tuturnya.
Dari bahan alam yang tumbuh subur di tanah lokal, Syamsudin membuktikan bahwa kreativitas bisa menembus batas negara. Pena bambu buatannya bukan hanya alat tulis, tetapi juga duta kecil kaligrafi Indonesia di panggung dunia.








