Kisah Pohon Angsana Raksasa Ciamis: Memori Penjajahan dan Mitosnya

Posted on

Sebuah pohon angsana berdiri tegak di sudut Dusun Citapen Kolot, Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis. Batangnya yang sangat besar dengan diameter 15 meter menunjukkan usianya sudah ratusan tahun.

Di bagian tengah batang, terdapat sebuah rongga besar yang menganga vertikal, cukup luas hingga beberapa dewasa dapat berdiri di dalamnya. Bagi masyarakat setempat, pohon ini istimewa. Pohon ini menyimpan kisah masa lalu yang diceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Di dalam rongga pohon itu, terdapat makam Eyang Sanggabuana, leluhur yang dipercaya sebagai sosok pembuka wilayah Citapen Kolot pada masa lampau. Keberadaan makam di dalam batang pohon angsana menjadikannya sebagai penanda sejarah warga setempat.

Daun-daun hijau di tiga cabang pohon angsana menaungi area di sekitarnya, menciptakan suasana teduh dan hening. Tak jauh dari pohon, tampak area pemakaman sederhana lainnya dan lahan kosong yang cukup luas, membentang tanpa bangunan. Lahan tersebut diketahui merupakan aset milik pemerintah desa setempat.

Letak pohon angsana ini tidak jauh dari jalan desa, namun suasananya tetap terasa sunyi dan terpisah dari hiruk-pikuk aktivitas warga. Kesunyian itu memberi ruang bagi siapa pun yang datang untuk berhenti sejenak, beristirahat dan menenangkan pikiran.

Dasta (78), warga setempat yang dipercaya menjaga pohon angsana tersebut mengungkapkan keistimewaan pohon bercabang tiga yang telah berusia ratusan tahun itu. Ia menuturkan, pada masa penjajahan Belanda, pohon tersebut kerap dimanfaatkan warga sebagai tempat persembunyian.

“Dulu waktu penjajahan, orang-orang sering bersembunyi di atas pohon ini. Letaknya di rongga cabang yang bagian atas,” ujar Dasta saat ditemui di lokasi belum lama ini.

Menurutnya, meskipun serdadu Belanda melintas di sekitar lokasi, warga yang bersembunyi di dalam rongga pohon angsana tetap tak terlihat. Rongga tersebut bahkan cukup luas dan mampu menampung sekitar tujuh hingga sepuluh orang sekaligus.

“Dari luar kelihatan seperti batang biasa, padahal di dalamnya bisa muat banyak orang,” katanya.

Dasta juga menyebut, Eyang Sanggabuana yang dimakamkan di kawasan tersebut diyakini masih memiliki garis keturunan Prabu Siliwangi. Karena itu, keberadaan pohon angsana ini dipercaya menjadi pelindung kampung dan warga sekitar.

Pohon ini konon dijaga secara gaib oleh Singadepa dan Wangsadepa. Mereka yang menjaga kampung dari kejahatan.

Dastan menyebut, selama pohon tersebut berdiri, lingkungan sekitar relatif aman dari tindak kriminal. “Di sini aman-aman saja, jarang ada maling. Kalaupun ada yang berniat jahat, orang itu tidak akan bisa pulang,” ujarnya.

Hingga kini, Pohon Angsana yang berusia ratusan tahun tersebut tetap berdiri kokoh dan tak seorang pun berani menebangnya. Jika dianggap membahayakan, penanganan hanya sebatas pemangkasan dan itu pun harus dilakukan oleh dirinya.

“Tidak boleh ditebang. Kalau memang sudah membahayakan, paling hanya dipangkas, dan itu pun saya yang harus melakukannya,” pungkas Dasta.

Gambar ilustrasi