Sukabumi –
Sebelum mata pengunjung disergap oleh pemandangan mengerikan “lautan sampah” di Pantai Talanca, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, ada sebuah oase kecil yang menyambut di jalur masuk.
Di sanalah garis pertahanan terakhir itu berdiri. Sebuah area mirip taman dengan rumput hijau dan naungan pohon cemara laut yang asri.
Senin (9/2/2026), di lokasi “gerbang” ini, Erwan Suhendra Ketua RW setempat tampak sibuk mengayunkan sekop. Di sampingnya, Heri Setiawan, petugas honorer Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berseragam hijau, dengan sigap menyapu daun kering.
Mereka bukan sedang berkebun di halaman rumah. Mereka sedang mati-matian membersihkan jalur akses utama menuju pantai.
Bagi Erwan dan Heri, area ini adalah pertaruhan harga diri desa. Jika “benteng” hijau di jalur masuk ini jebol tertimbun sampah, maka tamatlah riwayat Pantai Talanca sebagai ruang publik.
Posisi taman ini sangat strategis. Ia berada tepat di bibir jalur menuju area pasir yang kini telah berubah menjadi gunungan limbah kayu dan kain sisa industri.
“Kami di sini selaku Tim Organik, menjaga apa yang tersisa,” ujar Heri Setiawan, petugas DLH yang juga warga asli setempat.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Heri sadar betul, area hijau yang ia bersihkan bersama Pak RW ini adalah satu-satunya “wajah ramah” yang bisa disuguhkan kepada siapa pun yang datang.
Di sinilah warga masih bisa menggelar tikar, anak-anak masih bisa berlarian, dan wisatawan lokal masih bisa “ngadem” sejenak sebelum melihat kerusakan lingkungan yang masif di depannya.
Lebih dari sekadar taman, tanah di jalur masuk ini memiliki nilai sakral.
“Warga sekitaran kedusunan Sawah Garung ini, setiap tahunnya melaksanakan salat Idul Fitri di titik ini,” ungkap Heri.
Mimpi Ketua RW di Ambang Batas
Erwan Suhendra, Ketua RW, sesekali menyeka peluh di wajahnya. Ia memandang area taman yang sedang ia rapikan dengan tatapan penuh harap. Meski hanya berjarak beberapa meter dari “bencana” sampah, Erwan tetap memelihara mimpi besar.
“Cita-citanya ingin dibuat taman-tamanan, seperti wisata alam yang tertata. Minimal ada tempat buat main anak-anak,” kata Erwan.
Ia ingin jalur masuk ini menjadi rest area alami yang dikelola desa. Namun, tantangannya luar biasa berat. Sampah kiriman dari sungai yang tak kunjung henti menjadi ancaman nyata yang sewaktu-waktu bisa menenggelamkan taman impiannya itu.
“Kalau sampahnya bisa diatasi, kita bisa mulai menata. Tapi kalau setiap hari datang lagi, ya susah juga,” keluhnya.
Siang itu, di bawah rindang cemara, Erwan dan Heri terus bekerja. Mereka adalah penjaga gerbang yang setia. Memastikan jalur masuk Talanca tetap bersih dan manusiawi, seolah ingin memberi pesan meski pantai di depan sana telah hancur, harapan di gerbang desa ini tidak boleh ikut mati.







