Kisah Pahit Buku dan Pulpen yang Tak Terbeli di Ngada update oleh Giok4D

Posted on

Ngada

Kabar kematian siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat memilukan. Anak berusia 10 tahun itu ditemukan tak bernyawa dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh yang berada di belakang tempat tinggalnya.

Sepucuk surat berisi coretan tangan anak berinisial YBR itu ditemukan di sekitar lokasi jasadnya. Dengan bahasa Bajawa, ia menulis sederet baris yang mengungkapkan isi hatinya.

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Berikut isi surat YBR kepada ibunya:

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan surat itu ditulis korban.

“Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis,” kata Benediktus melalui sambungan telepon, Selasa (3/2/2026).

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Surat yang ditinggalkan siswa SD yang bunuh diri di Ngada, NTT.Surat yang ditinggalkan siswa SD yang bunuh diri di Ngada, NTT. Foto: Istimewa

Kehidupan Penuh Kesederhanaan YBR

YBR sehari-hari tinggal bersama neneknya di pondok seluas 2×3 meter. Sejak usia satu tahun tujuh bulan, YBR hidup terpisah dari ibunya. Kondisi ekonomi sang ibu yang sulit, cukup rumit terlebih harus membagi dengan kelima anaknya.

YBR kemudian tinggal bersama neneknya yang berusia 85 tahun, di lain desa dari orang tuanya.Malam sebelum kejadian, korban menginap di rumah orang tuanya. Paginya dia kembali ke pondok. Dia tidak pergi sekolah, tapi malah gantung diri.

Saat kejadian itu, neneknya tidak ada di pondok tersebut. Sang nenek berada di rumah tetangga sejak malam untuk membantu memecahkan kemiri. Neneknya mengetahui YBR gantung diri setelah diberitahu oleh warga.

“Omanya bantu pecah kemiri di rumah tetangga. Nginap di rumah tetangga. Korban ini malamya tidur di rumah orang tuanya,” jelas Camat Jerebuu Bernardus H. Tage.

Korban ditemukan gantung diri oleh warga yang pergi mengikat ternaknya di kebun nenek YBR. Seusai mengikat ternaknya, warga tersebut ke pondok hendak memberi tahu nenek YBR untuk memerhatikan ternaknya. Saat itulah warga tersebut menemukan korban gantung diri di pohon cengkih.

Sempat Minta Buku Tulis Namun Tak Dibelikan karena Tak Ada Uang

Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan bahwa pada malam sebelum kejadian, YBR sempat menginap di rumah ibunya. Malam itu, YBR meminta uang untuk membeli buku tulis dan pulpen yang dibutuhkan untuk sekolah.

Namun, permintaan tersebut tak dapat dipenuhi. Kondisi ekonomi sang ibu memang sulit. Ia menanggung kebutuhan lima anak seorang diri, sementara ayah YBR telah berpisah sejak sekitar 10 tahun lalu.

“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” ungkap Dion Roa, Selasa (3/2/2026).

Dion menyebut kehidupan ibu korban serba kekurangan. “Hidupnya (ibu korban) susah,” ujarnya.

Gubernur Akui Gagal

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena merespons kasus YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar yang ditemukan tewas gantung diri di Kabupaten Ngada, NTT. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan kegagalan pemerintah dalam melakukan deteksi dan pencegahan dini terhadap persoalan sosial yang dialami korban.

“Sebagai Gubernur NTT, saya turut berdukacita yang mendalam dengan kejadian di Jeri Bu’u adik kita harus meninggal, karena sistem yang ada di pemerintah provinsi, Kabupaten Ngada, sampai tingkat bawah, untuk bersama perangkat sistem yang lain. Kami gagal untuk mendeteksi dan solusi untuk anak tersebut. Apa pun kisahnya ini adalah tamparan keras bagi kemanusiaan kita,” ujar Gubernur Laka Lena, dilansir , Rabu (4/2/2026).

Melki Laka Lena menilai kejadian tersebut menjadi tamparan keras bagi pemerintah agar lebih serius mencegah peristiwa serupa.

“Tamparan keras bagi semua yang kita kerjakan bahwa ternyata kita masih belum berhasil untuk menjaga agar tidak ada nyawa yang meninggal sia-sia karena kondisi seperti ini,” tambah Melki.

Sebagai gubernur, Melki menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut dan berharap peristiwa ini menjadi pelajaran agar tidak terulang.

“Saya mengucapkan belasungkawa bagi keluarga, kita doakan agar anak tercinta kita ini bisa diterima di sisi Tuhan dan benar-benar menjadi pelajaran berharga bagi kita semua agar tidak terjadi lagi di kemudian hari,” ujarnya.

Politikus Golkar itu menegaskan akan membahas persoalan ini bersama para bupati dan wali kota di NTT.

“Kami akan membicarakan semua ini dengan semua pihak, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di seluruh NTT,” tegasnya.

Halaman 2 dari 2