Kisah Ojol Umar, Terluka Saat Demo Jakarta dan Dijenguk Wapres Gibran - Giok4D

Posted on

Umar Amarudin (32), driver ojek online (ojol) asal Desa Cikidang, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, tak pernah menyangka perjalanan mengantar pesanan di Jakarta pada Kamis (28/8/2025) berubah menjadi peristiwa kelam.

Saat itu, Umar hanya melintas di sekitar kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, untuk mengantarkan orderan. Namun, kerusuhan yang tiba-tiba pecah membuatnya menjadi korban.

Umar dikenal sebagai sosok pekerja keras di mata keluarganya. Ia tinggal di Jakarta bersama adiknya, Yusuf, dan sudah lima tahun terakhir bekerja sebagai driver ojol. Sehari-hari, Umar berangkat dari kosannya di kawasan Slipi, menjemput orderan, lalu pulang malam bersama Yusuf yang bekerja di sebuah toko ritel.

“Ia itu kakak saya, kondisinya alhamdulillah sudah sadar, tapi kita masih menunggu hasil rontgen. Saat ini di RS Pelni, dekat dari lokasi kejadian,” kata Yusuf kepada infoJabar.

Yusuf mengungkapkan, kronologi awal insiden yang menimpa Umar berdasarkan cerita rekan-rekan ojol di lokasi. Saat itu, Umar sedang dalam perjalanan mengantarkan penumpang dan melintas di sekitar Petamburan ketika situasi mulai memanas.

Menurut Yusuf, informasi tentang Umar sempat simpang siur. Awalnya, keluarga mendapat kabar Umar meninggal dunia. Namun, setelah mengecek ke teman-teman ojol di Jakarta, terungkap bahwa korban tewas adalah Affan Kurniawan, driver ojol lain.

Selain luka-luka, Yusuf juga memastikan bahwa motor dan ponsel Umar hilang saat kejadian. “HP-nya nggak ada, motor juga nggak ada. Sekarang teman-teman ojol masih coba cek keberadaan motornya,” tambahnya.

Bagi Usman, saudara kembar Umar, peristiwa ini meninggalkan luka emosional yang dalam. Sejak Kamis siang, sebelum kabar kejadian diterima, ia sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Saya merasa enggak enak, perasaan enggak enak karena itu saudara kembar. Mungkin ada koneksi, ya saya enggak enak aja seharian,” kata Usman dengan suara bergetar.

Usman menceritakan, begitu kabar tersebar, keluarga dibuat kalut. Informasi simpang siur membuat semuanya panik.

“Keluarga syok, apalagi awalnya ada yang bilang dia meninggal. Tapi setelah dicek teman-teman ojol, alhamdulillah Umar selamat. Sekarang fokus kami cuma satu, semoga dia cepat pulih,” ujarnya.

Ketua DPC SPI Sukabumi, Tusyana Priyatin, yang kini menjadi kuasa hukum keluarga Umar, menegaskan kondisi Umar masih memerlukan pemantauan ketat dari tim medis. Luka-lukanya cukup serius, termasuk patah pada bagian dada, memar di kepala, dan cedera di beberapa bagian tubuh.

Kondisi Moch. Umar Amarudin (32), driver ojek online (ojol) asal Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, mulai berangsur membaik setelah menjalani perawatan intensif di RS Pelni Jakarta.
Umar menjadi korban dugaan kekerasan saat kericuhan aksi unjuk rasa di Jakarta, Kamis (28/8/2025) malam.

Pihak keluarga sendiri saat ini telah menunjuk kuasa hukum dari DPC Serikat Pengacara Indonesia (SPI) untuk mencari keadilan atas kasus yang menimpa Umar.

Dihubungi infoJabar, Ketua DPC SPI Sukabumi Tusyana Priyatin mengatakan, saat ini kondisi Umar sudah sekitar 60 persen pulih dan mulai bisa berbicara. Namun, proses pemulihan masih panjang karena Umar mengalami beberapa luka serius.

“Sekarang kondisinya sekitar 60 persen, sudah bisa bicara dan masih dalam proses pemulihan. Ada patah di bagian dada, banyak memar termasuk di kepala,” kata Tusyana, Sabtu (30/8/2025).

Tusyana menjelaskan, keluarga Umar menunjuk kuasa hukum karena ingin mendapatkan keadilan atas dugaan tindakan represif yang dialami Umar. Menurut keterangan saksi, Umar bukan peserta aksi, melainkan sedang bekerja sebagai driver ojol ketika peristiwa itu terjadi.

“Yang mereka inginkan adalah keadilan, karena dia bukan peserta aksi, tiba-tiba disiksa dan diintimidasi seperti itu. Sampai sekarang saya sebagai kuasanya dan tim merasa kecewa, karena instansi Polri tidak hadir. Pembiayaan dibiayai Pemprov DKI, mereka juga sudah melihat keadaan Umar,” jelasnya.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Pada Jumat (29/8/2025) malam, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka datang menjenguk Umar di RS Pelni. Kehadiran Wapres memberi dukungan moral bagi keluarga dan Umar yang masih dalam pemulihan.

Menurut Tusyana, Wapres Gibran meminta Umar menceritakan kronologi kejadian. Dalam percakapan itu, Umar menegaskan bahwa ia datang untuk mengantarkan orderan, bukan ikut aksi demo.

“Mas Gibran minta kronologis, Umar cerita dari awal. Dia datang untuk mengantarkan orderan. Sampai sana ada Brimob, yang lain pergi, dia enggak lari karena merasa bukan peserta aksi demo. Lalu dia ditanya sama oknum aparat, ‘kamu lagi apa,’ belum sempat jawab langsung dipukul, ditendang, dilempar, sampai tidak sadarkan diri,” tutur Tusyana.

Dalam pertemuan itu, Umar juga mengadu kepada Gibran soal motor dan ponselnya yang hilang. Mendengar cerita tersebut, Gibran mencatat semua informasi untuk ditindaklanjuti.

“Mas Gibran mencatat apa saja yang hilang, katanya telepon seluler dan motor juga hilang saat aksi. Itu semua didengar dan dicatat oleh Mas Gibran,” tambah Tusyana.

Menurut Tusyana, keluarga Umar berharap proses hukum bisa berjalan tuntas. Namun, untuk saat ini, mereka memilih fokus pada pemulihan kondisi Umar.

“Yang mereka inginkan adalah keadilan, karena dia bukan peserta aksi, tiba-tiba disiksa dan diintimidasi seperti itu. Sampai sekarang saya sebagai kuasanya dan tim merasa kecewa karena instansi Polri tidak hadir,” tegas Tusyana.

Karena situasi Jakarta yang masih belum kondusif, langkah hukum dari pihak keluarga dan SPI akan dilakukan setelah kondisi Umar stabil. “Sekarang fokusnya pemulihan keluarga korban. Untuk upaya hukum, kami masih menunggu waktu yang tepat,” pungkasnya.

Firasat Tak Enak Saudara Kembar

Dijenguk Wapres Gibran, Curhat soal Motor dan Ponsel Hilang

Pada Jumat (29/8/2025) malam, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka datang menjenguk Umar di RS Pelni. Kehadiran Wapres memberi dukungan moral bagi keluarga dan Umar yang masih dalam pemulihan.

Menurut Tusyana, Wapres Gibran meminta Umar menceritakan kronologi kejadian. Dalam percakapan itu, Umar menegaskan bahwa ia datang untuk mengantarkan orderan, bukan ikut aksi demo.

“Mas Gibran minta kronologis, Umar cerita dari awal. Dia datang untuk mengantarkan orderan. Sampai sana ada Brimob, yang lain pergi, dia enggak lari karena merasa bukan peserta aksi demo. Lalu dia ditanya sama oknum aparat, ‘kamu lagi apa,’ belum sempat jawab langsung dipukul, ditendang, dilempar, sampai tidak sadarkan diri,” tutur Tusyana.

Dalam pertemuan itu, Umar juga mengadu kepada Gibran soal motor dan ponselnya yang hilang. Mendengar cerita tersebut, Gibran mencatat semua informasi untuk ditindaklanjuti.

“Mas Gibran mencatat apa saja yang hilang, katanya telepon seluler dan motor juga hilang saat aksi. Itu semua didengar dan dicatat oleh Mas Gibran,” tambah Tusyana.

Menurut Tusyana, keluarga Umar berharap proses hukum bisa berjalan tuntas. Namun, untuk saat ini, mereka memilih fokus pada pemulihan kondisi Umar.

“Yang mereka inginkan adalah keadilan, karena dia bukan peserta aksi, tiba-tiba disiksa dan diintimidasi seperti itu. Sampai sekarang saya sebagai kuasanya dan tim merasa kecewa karena instansi Polri tidak hadir,” tegas Tusyana.

Karena situasi Jakarta yang masih belum kondusif, langkah hukum dari pihak keluarga dan SPI akan dilakukan setelah kondisi Umar stabil. “Sekarang fokusnya pemulihan keluarga korban. Untuk upaya hukum, kami masih menunggu waktu yang tepat,” pungkasnya.

Dijenguk Wapres Gibran, Curhat soal Motor dan Ponsel Hilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *