Jakarta –
Sore itu, di bawah suasana sejuk lereng Gunung Ciremai, Ogan (19) tampak sibuk melayani pembeli yang datang ke warung sederhana miliknya, Saung Kahiyang.
Senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya setiap kali menyuguhkan kopi dan kudapan kepada pengunjung. Bagi Ogan, warung kecil di tengah hamparan sawah itu bukan sekadar tempat usaha, melainkan titik balik perjalanan hidupnya.
Sebelum mendirikan warung, Ogan pernah berada di fase yang menurutnya paling berat, menganggur selama dua tahun. Bukan tanpa usaha, lulusan SMK itu mengaku telah mengirim banyak lamaran ke berbagai perusahaan. Ia bahkan rela mengikuti bursa kerja atau job fair berbayar dengan harapan segera mendapat pekerjaan tetap. Namun hasilnya nihil.
“Sudah ke mana-mana melamar, ikut job fair yang berbayar juga, tapi tetap saja belum dapat kerja,” tutur Ogan belum lama ini.
Selama masa menganggur itu, ia tak tinggal diam. Untuk mengisi waktu sekaligus membantu kebutuhan sehari-hari, Ogan bekerja serabutan. Apa pun dikerjakan mulai dari mengantar tabung gas melon hingga menjadi tukang ojek konvensional. Penghasilannya tak menentu, rata-rata hanya sekitar Rp50 ribu per hari.
“Sempat menganggur dua tahun. Kerja serabutan seperti mengojek atau mengantar gas melon. Sehari paling dapat Rp50 ribu, itu juga tidak menentu,” ujarnya.
Warung tengah sawah di lereng Ciremai Foto: Fahmi Labibinajib/ |
Penghasilan yang minim dan rasa khawatir terjebak dalam kemalasan membuat Ogan berpikir keras. Ia takut terlalu lama menganggur akan mematahkan semangatnya, bahkan menyeretnya ke pergaulan yang tidak jelas. Berbekal tekad dan modal seadanya, ia akhirnya memberanikan diri membuka warung kopi sederhana di lahan sawah milik orang tuanya.
“Mencari kerja ke mana-mana tidak dapat, akhirnya buka usaha sendiri. Takut kelamaan jadi malas. Kebetulan warkop seperti ini lagi tren. Ini dulunya lahan sawah orang tua, tapi saya tidak bisa bertani, jadi dibuat warung,” kata Ogan.
Meski menyuguhkan panorama eksotis Gunung Ciremai dan suasana alam yang asri, perjalanan awal Saung Kahiyang tidak langsung mulus. Warungnya sempat sepi pengunjung. Dalam sehari, paling banyak hanya sekitar sepuluh orang yang datang-itu pun didominasi petani sekitar.
Namun Ogan memilih bertahan. Baginya, sepi dan ramai adalah risiko yang harus dihadapi setiap perintis usaha.
Perlahan, titik terang muncul setelah warungnya viral di media sosial, khususnya TikTok. Sejak saat itu, jumlah pengunjung meningkat signifikan. Dalam sehari, Ogan kini bisa meraup laba bersih hingga ratusan ribu rupiah.
Warung tengah sawah di lereng Ciremai Foto: Fahmi Labibinajib/ |
“Kalau sekarang ramai, bersihnya bisa sampai Rp120 ribu sehari. Lumayan daripada menganggur atau kerja ke orang lain,” tuturnya.
Ke depan, Ogan berharap Saung Kahiyang bisa semakin berkembang. Ia ingin memperluas warungnya sekaligus membantu perekonomian orang tua.
“Harapannya semoga bisa lebih ramai lagi, biar bisa bantu orang tua. Warung suasana alam seperti ini masih potensial untuk dikembangkan,” pungkasnya.
Saung Kahiyang milik Ogan berlokasi di Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, dengan jam operasional pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB.









