Bandung –
Siapa yang tidak mengenal jingle penjual susu keliling? Melodi khas itu biasanya langsung mengingatkan kita pada gerobak susu yang ikonik.
Namun, ada yang berbeda dari Iyos. Ia memilih menggunakan sepeda untuk menembus gang-gang sempit di sekitar Kota Bandung.
Iyos telah menekuni profesi sebagai penjual susu di bawah naungan KPBS (Koperasi Peternakan Bandung Selatan) sejak 2019. Ia sempat merantau ke Jakarta selama 20 tahun hingga akhirnya terkena PHK dan memutuskan pindah ke Bandung.
“Saya dulu 20 tahun di perusahaan Jakarta sampai akhirnya kena PHK, terus pindah ke Bandung tahun 85-an” kata Iyos saat ditemui, Kamis (5/3/2026).
Iyos langsung menjajal peruntungan dengan berdagang saat pertama kali menginjakkan kaki di Bandung. “Awalnya sebelum ke jualan susu, saya coba-coba jual bubur kacang hijau sampai bakso juga pernah” ungkapnya.
Selama tujuh tahun berjualan susu, Iyos kerap berpindah majikan. “Saya itu jualan pindah-pindah dunungan (majikan). Dari Antapani, terus ke Jalan Sadang Serang, balik ke Jalan Suci, terus ke Jalan Kemuning, terakhir sekarang ke Jalan Cianjur” ujarnya.
Alih-alih menggunakan gerobak dorong standar pemberian agen, Iyos memilih sepeda pribadi untuk menyusuri gang sempit, seperti di kawasan Cibunut dan Kosambi. Ia merasa gerobak standar kurang praktis untuk menjangkau rute perumahan padat penduduk.
“Umumnya mah pakai roda. Saya juga pakai roda tadinya. Tapi karena masuk gang-gang ini sempit, repot gitu, jadi saya ganti sepeda sendiri” jelasnya.
Boks penyimpanan pada sepedanya pun merupakan hasil rakitan sendiri agar bisa menampung berbagai varian produk. “Sepeda ini juga disesuaiin, boksnya juga beli sendiri. Karena kalau pake sepeda bisa masuk ke gang kecil,” ujar Iyos.
Meski penggunaan sepeda memberikan fleksibilitas akses, hal tersebut berdampak pada kapasitas boks yang dibawa untuk berjualan. Kapasitas susu yang dibawanya jauh lebih sedikit.
“Kalau pake roda itu temen saya ada yang bawa 70 sampai 100 produk sehari, kalau pake sepeda kira-kira 50-60 produk paling banyak” ungkap Iyos.
Memasuki Ramadan, rutinitas Iyos berubah. Jika biasanya ia sudah berangkat sejak pukul 06.00 WIB, kini ia baru mulai berkeliling pada pukul 14.00 WIB demi menyasar warga yang tengah bersiap berbuka puasa.
“Karena puasa, kita ditentukan jam dua baru bisa dagang. Biasanya jam enam sore baru jalan pulang, malah kadang sampai jam tujuh malam baru sampai rumah” tutup Iyos.







