Bandung –
Harapan digantungkan setinggi kanvas yang dipajang di sepanjang Jalan Braga. Di antara gedung-gedung kolonial dan riuh langkah pejalan kaki yang lalu-lalang, Iin (57) duduk menanti seseorang yang bersedia berhenti sejenak, menatap, lalu jatuh hati pada lukisan yang ia pajang.
Bagi Iin, lukisan-lukisan itu bukan sekadar barang dagangan. Setiap kanvas adalah potongan cerita yang tumbuh bersama jalan paling ikonik di Bandung itu.
Sejak 1985, ketika Braga belum seramai sekarang, Iin sudah setia menggelar karya-karyanya di sana. Melukis, baginya, bukan hanya hobi yang terbawa dari masa muda, tetapi telah menjadi napas kehidupan.
“Ada beberapa unsur. Pertama lingkungan, kedua saya hobi lukis juga. Sekarang saya umurnya 57, sekitar 42 tahun yang lalu saya mulai melukis.” kenangnya saat berbincang dengan belum lama ini.
Menariknya, di balik goresan kuas yang tampak terampil, Iin tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang seni. Semua kemampuan itu ia pelajari sendiri.
“Tidak ada latar belakang pendidikan, saya otodidak,” ungkapnya.
Meski tanpa pendidikan seni, Iin memegang teguh prinsip profesionalisme dalam berkarya. Baginya, profesional bukan soal gelar, melainkan soal komitmen terhadap waktu, proses, dan tanggung jawab kepada pembeli. Ketika ada pesanan, rasa lelah bukan lagi alasan.
“Tentu capek, tapi profesional. Kalau memang ada order yang harus diselesaikan tanggal sekian hari, ya kita juga tidak mengenal capek, target aja harus diselesaikan,” kata pria yang berjualan hampir setiap hari dari pagi hingga sekitar pukul 22.00 WIB.
Antara Imajinasi dan Realita
Dalam berkarya, Iin sering bermain di antara imajinasi dan kenyataan. Ia tidak selalu terpaku pada kondisi asli sebuah objek, melainkan mencoba menambahkan sentuhan yang membuat pemandangan terasa lebih hidup di mata penikmatnya.
Salah satu contohnya ketika melukis Gunung Tangkuban Perahu.
“Ada kalanya pakai tema, tapi yang jelas lebih cenderung ke imajinasi. Cuman kalau memang kita bikin, katakanlah kita bikin lukisan Gunung Tangkuban Perahu, kalau kita melihat secara langsung itu kan wilayahnya hutan semua, tidak ada sawah. Saya bikin imajinasi bagaimana supaya lebih indah. Saya bikinlah sawah – sawahnya biar kelihatan natural,” jelasnya.
Meski telah puluhan tahun berkarya, Iin tetap ingin lukisannya bisa dijangkau oleh berbagai kalangan. Harga lukisan yang ia jual pun relatif terjangkau.
Ia membanderol karyanya mulai dari Rp100.000 untuk ukuran kecil, seperti kanvas 10R atau sekitar 20 x 25 sentimeter.
Selama bertahun-tahun berjualan, ia juga terbiasa menerima beragam komentar dari pembeli. Bagi Iin, setiap orang memiliki selera yang berbeda, sehingga kritik bukanlah sesuatu yang harus dihindari.
“Komentar ataupun kritik oleh konsumen selalu ada, karena pandangan itu relatif. Ada yang mengatakan suka dengan seperti ini, saya belum tentu suka, begitu pun sebaliknya. Tidak ada istilah jago, dan semakin dikomentari semakin matang. Itu salah satu bumbu buat saya, bagaimana supaya kita lebih evaluasi, lebih koreksi,” ucapnya.
Soal cepat atau lambatnya lukisan terjual, ia juga tidak terlalu memikirkannya. Menurutnya, setiap karya memiliki ‘jodohnya’ masing-masing.
“Luar biasa, ada kalanya baru dapat pagi, sorenya udah langsung kena jual, tapi ada kalanya juga berbulan-bulan. Itu relatif,” katanya.
Kejujuran sebagai “Mahkota”
Di tengah persaingan usaha, Iin memilih memegang satu prinsip sederhana: kejujuran. Ia tidak memiliki strategi pemasaran khusus atau membuka cabang di tempat lain. Yang terpenting baginya adalah memberikan kualitas terbaik serta jujur kepada pembeli, termasuk soal bahan cat yang digunakan.
“Tidak ada strategi yang spesifik. Yang jelas berikan yang terbaik dalam hal melukis. Ada kalanya kita cat yang biasa, ada kalanya cat yang mahal, kita apa adanya jangan bohong. Biar nantinya bahwa kejujuran itu mahkota kehidupan. Kalau kita gak jujur menyimpan bom waktu, mungkin dalam jangka sekian waktu juga ada terbuka, sehingga kelihatan bohongnya,” kata dia.
Salah satu momen yang paling membahagiakan baginya adalah ketika karyanya dibeli oleh keluarga pejabat negara, yakni orang tua dari Andika Perkasa.
“Kerika melukis dibeli sama seorang Ibu Panglima Besar, pangat. Waktu itu ibunya Pak Andika dibeli karya saya, seperti itu saja, bahagianya luar biasa itu karena dibeli oleh pejabat negara, itu bangga buat saya,” tuturnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Menutup perbincangan, Iin menyampaikan pesan bagi generasi muda yang ingin menekuni dunia seni namun masih diliputi rasa ragu karena masa depan yang dianggap tidak pasti.
Menurutnya, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kepintaran atau kekayaan, melainkan keberanian untuk mencoba.
“Oh jangan takut, semua yang berhasil bukan karena pandai, bukan karena ganteng, bukan karena kaya, tetapi karena berani. Jadi, beranikanlah dirimu sebab berjuta – juta orang yang berhasil itu hanya karena berani. Saya rasa di muka bumi ini gak ada yang bodoh kan, yang ada males belajar. Kita belajar, belajar dan belajar nanti juga terjawab hasilnya seperti apa,” katanya.







