Bandung –
Membangun bisnis yang bertahan belasan tahun bukanlah perkara mudah. Bagi Ian, pemilik Fresh Yoghurt Mitama atau yang dikenal masyarakat sebagai Fresh Yoghurt Jalan Saad, perjalanan bisnisnya adalah buah dari keberanian mengesampingkan gengsi serta keteguhan menjaga kualitas bahan baku.
Merintis dengan berjualan secara langsung menjadi napas kehidupan bagi Ian. Bermula dari rasa ingin tahu yang tinggi, pada 2007, Ian mempelajari teknik produksi yogurt dari temannya yang merupakan lulusan teknik pangan.
Berbekal ilmu yang telah dipelajari, Ian memulai debutnya dengan turun langsung ke lapangan menggunakan mobil bak sederhana. Ia memasang tenda milik keponakannya untuk menutupi bagian belakang mobil tersebut.
Ian yang ditemani seorang temannya mengawali perjalanan ke pesisir Pantai Pangandaran untuk menjual yogurt buatan sendiri. Kala itu, sempat muncul rasa gengsi dalam diri Ian saat harus berjualan secara langsung.
“Awal mulai turun langsung ke jualan langsung di lapangan memang ada campur gengsi apa segala macam, sengaja memilih ke Pangandaran buat tes uji mental, sama uji di lapangan seperti apa” jelas Ian kepada, Kamis (5/2/2024).
Setelah seharian, 80 liter yogurt ludes terjual. Hal ini memicu semangat Ian untuk menyeriusi usahanya. “Jadi dari sore sampai besoknya siang jam 2-3 itu habis kisaran 80 liter. Dari situ saya pikir worth it lah untuk diprospek ke depannya, makanya saya tekunin sampai sekarang” tambah Ian.
Riset kembali dilakukan Ian demi menghasilkan kualitas produk yang prima, terutama terkait bahan baku susu. Ian memilih mengambil pasokan susu dari Koperasi Tanjungsari karena kualitasnya yang terjamin. Susu tersebut kemudian diproduksi di kawasan Cileunyi untuk menjaga kesegarannya sebelum dipasarkan.
“Kita ngambil produk susunya dari Koperasi Tanjungsari dan produksi di daerah Cileunyi. Karena kalau susunya dibawa ke sini di produksi di sini kelamaan di jalan itu makan waktu, ada risiko basi, makanya kita ambil terdekat di daerah Cileunyi buat bagian produksinya” tutur Ian.
Selanjutnya, Ian menjemput bola dengan berkeliling menggunakan mobil ke lima titik berbeda di Kota Bandung. Hasil keuntungan yang didapat bahkan mampu membiayai pernikahannya.
“Alhamdulillah ada bekal buat nikah buat bekal dari jualan yogurt ini, Alhamdulillah usaha sendirilah berkat yogurt” ungkapnya.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Bisnis ini sempat mencapai masa keemasan di sekitar tahun 2020. Saat itu, pengiriman ke luar kota rutin dilakukan, mulai dari Jakarta, Cirebon, hingga Cilacap. Pada periode tersebut, volume produksi dan penjualan harian hampir menyentuh angka 200 liter.
“Kalau pengiriman luar kota sekarang nggak serutin kayak dulu, kalau lima tahun yang lalu, itu sehari ada yang 30 ada yang 40 ada yang 20 liter pengiriman. Bahkan mau mencapai target 200 liter sehari produksi sama kejualnya waktu lima tahun yang lalu” ungkap Ian.
Namun, permintaan sempat menurun akibat adanya kecurangan yang dilakukan oknum di bagian produksi. Oknum tersebut sengaja mencampur susu dengan air demi keuntungan pribadi. Dampaknya, tekstur yoghurt menjadi lebih encer dan memicu komplain dari pelanggan setia.
“Waktu itu pernah kejadian rasanya berubah, kekentalan yogurt juga berubah, kandungan airnya jadi lebih banyak, kelihatan berbeda kalau di gelas. Ternyata ada bagian produksi yang nakal, misal dari 100 liter susu mereka ambil 10-20 liter susunya, terus diganti sama air biasa” ucap Ian.
Ian tidak tinggal diam melihat kualitas produknya merosot. Ia langsung turun tangan memonitor seluruh proses produksi, mulai dari pengecekan susu di koperasi hingga pengawasan ketat di dapur pengolahan. Langkah ini perlahan berhasil mengembalikan kepercayaan konsumen. Kini, jumlah produksi berkisar 60-80 liter per hari, dengan mayoritas penjualan diserap oleh para reseller.
Bagi Ian, berjualan di lapangan bukanlah hal yang memalukan. Dengan mengesampingkan gengsi, usaha yogurt ini telah terbukti menjadi tulang punggung keluarga yang kokoh.
“Ternyata dengan jualan turun langsung ke lapangan dengan menyampingkan gengsi dan lain-lain ya bisa jadi prospek yang baik ke depan gitu. Malah bisa menabung untuk biaya menikah, juga buat bayar sekolah, juga buat bayar kuliah contohnya” tutup Ian.







