Suasana Saung Lumbung di Desa Sukamukti, Jalaksana, Kuningan, riuh oleh pengunjung. Mereka menikmati sensasi bersantai di tengah hamparan kebun bunga pikok yang sedang mekar. Beberapa orang tampak asyik berswafoto dengan latar warna-warni bunga yang estetik.
Di sudut kebun, Setiabudi (49) atau akrab disapa Bopak, sibuk memantau tanaman miliknya. Kecintaan pada flora mendorong Bopak membudidayakan bunga pikok di tanah kelahirannya sejak tiga tahun silam.
Ia berambisi mematahkan ketergantungan pasar lokal terhadap pasokan bunga dari Lembang, Bandung. Bopak yakin, tanah Kuningan memiliki potensi besar untuk menghasilkan bunga berkualitas yang tak kalah saing.
Namun, langkah awalnya tak mulus. Pada tahun pertama, hasil panen Bopak justru terbuang karena ia belum memiliki jaringan pasar yang jelas. Di tengah keputusasaan dan modal sewa lahan yang menipis, ia melihat peluang baru. Banyak warga berdatangan hanya untuk sekadar melihat dan berfoto di kebunnya. Momentum inilah yang melahirkan kedai Saung Lumbung.
“Awalnya saya nekat saja. Dulu bunga sempat dibuang karena tidak ada pembeli. Saya hampir menyerah karena kurang dukungan dan modal sewa tanah lumayan besar. Tapi melihat orang senang berfoto di sini, saya akhirnya bangun kedai,” kenang Bopak saat berbincang dengan infoJabar, Jumat (23/1/2026).
Budi daya pikok memang menuntut ketelatenan ekstra. Bopak menjelaskan, meski hanya sekali tanam dalam setahun, bunga pikok jenis putih dan ungu ini bisa dipanen hingga tiga kali melalui perawatan intensif.
“Asal tahu triknya. Kalau ada ulat kita semprot, kalau kemarau kita siram. Setelah ditebang, tanah langsung dibersihkan dan dipupuk agar tumbuh tunas baru. Dulu kami gagal karena tidak tahu waktu panen yang tepat. Sekarang kami atur agar panen saat permintaan tinggi, seperti menjelang Lebaran,” jelasnya.
Strategi ini membuahkan hasil. Dalam sekali siklus panen raya, Bopak mampu meraup omzet hingga Rp15 juta. Saat permintaan melandai, ia masih mengantongi sekitar Rp5 juta. Bunga-bunga tersebut dijual seharga Rp10.000 per ikat, baik untuk dekorasi pernikahan maupun dibeli langsung oleh pengunjung kedai.
“Dari lahan 600 meter persegi ini bisa menghasilkan ribuan ikat bunga. Biasanya permintaan melonjak saat musim nikah, Idulfitri, Iduladha, atau bulan Maulid,” tambah Bopak.
Bagi Bopak, menjadi petani bunga adalah profesi yang menjanjikan. Ketahanan bunga pikok yang tidak mudah layu hingga satu minggu menjadi keunggulan utamanya. Ia membuktikan bahwa dengan kreativitas, kegagalan panen bisa diakali dengan mengandalkan sektor agrowisata melalui kedai sederhananya.
“Menanam sekali, panen bisa tiga kali. Jadi meskipun ada fase gagal, kita masih bisa untung. Kalau pesanan dekorasi sepi, kita masih bisa mengandalkan penjualan bunga ikat di kedai,” pungkasnya.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.







