Kisah Bocah Sumedang yang Pulang Usai Jadi Pemulung di Jakarta

Posted on

Sumedang

Jagat media sosial tengah dihangatkan oleh kisah pilu seorang bocah asal Sumedang. Di saat anak-anak seusianya asyik menikmati masa bermain, bocah ini justru harus bergelut dengan kerasnya jalanan ibu kota sebagai pemulung barang bekas.

Ia adalah Fikri (6). Sosoknya menjadi sorotan publik usai video yang menunjukkan dirinya sedang memungut barang bekas di jalanan viral di media sosial.

Berdasarkan pantauan dalam video tersebut, Fikri yang mengenakan baju lusuh tampak memikul karung berisi botol bekas. Ia terlihat berbincang dengan seseorang di dalam truk. Diketahui, percakapan tersebut terjadi di kawasan Cakung, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Dalam video berdurasi 49 detik itu, terekam percakapan singkat antara keduanya. Pria di dalam truk menanyakan keberadaan orang tua hingga aktivitas harian bocah tersebut.

“Dek, bapak kamu kemana?,” tanya seseorang di dalam video viral itu.

“Bapak ku ke penjara,” jawab bocah tersebut dengan nada rendah.

“Kamu cari botol?,” tanya kembali seorang di dalam truk.

“Kalau mamah nikah lagi,” kata bocah itu melanjutkan pertanyaan sebelumnya.

“Mamah nikah lagi? Kalau kamu tinggal sama siapa?,” tanya lagi seorang di dalam truk.

“Nenek,” jawab bocah itu.

“Kalau dapat botol di jual?,” tanya seorang di dalam truk kembali.

“Nggak, dikumpulin dulu,” jawab bocah itu kembali.

“Udah sekolah?,” kata seseorang yang kembali bertanya.

“Belum,” jawab bocah itu dengan singkat.

Di akhir video, pria di dalam truk tersebut memberikan sejumlah uang. Fikri pun langsung menerima pemberian itu sebelum melanjutkan langkahnya.

“Makasih,” kata bocah itu setelah menerima uang.

Usai video tersebut viral, berbagai pihak bergerak mencari keberadaan Fikri, termasuk jajaran Polres Metro Jakarta Timur dan Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta. Hanya berselang beberapa hari, bocah itu akhirnya berhasil ditemukan.

Berdasarkan penelusuran, Fikri merupakan warga Dusun Cisetra, Desa Sukaraja, Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Petugas di Jakarta Timur juga menemukan fakta bahwa Fikri tidak sendirian. Adiknya, Noval, yang masih berusia tiga tahun, ternyata juga ikut memulung barang bekas di jalanan.

Kabar ini terus berkembang hingga memicu koordinasi antarwilayah. Akhirnya, disepakati bahwa kedua bocah tersebut akan dipulangkan ke Sumedang sesuai keinginan sang ibu yang berharap buah hatinya kembali ke pelukannya.

Kepulangan mereka difasilitasi oleh Polres Metro Jakarta Timur, Dinsos DKI Jakarta, dan Polres Sumedang. Bertempat di Mapolres Sumedang, Kamis (12/3/2024) malam, kedua bocah itu akhirnya tiba di tanah kelahiran. Kedatangan Fikri dan Noval disambut tangis haru sang ibu, Sri Listiawati.

Fikri dan Noval yang kini telah kembali ke pelukan ibunya tampak tersenyum bahagia. Mereka seolah sejenak melupakan kerasnya kehidupan di ibu kota.

Kepada awak media, Sri mengungkapkan rasa bahagianya karena kedua anaknya telah kembali. “Ya, alhamdulilah lama juga itu mau ketemu juga susah juga, tapi sekarang alhamdulillah sudah ketemu alhamdulillah terima kasih buat semuanya,” ujar Sri.

Sri mengaku tidak mengetahui aktivitas kedua anaknya selama di Jakarta. Pasalnya, ia telah bercerai dan putus komunikasi dengan ayah dari anak-anaknya tersebut.

“Kalau terkait yang viral di video Instagram itu ngak tahu, tahu-tahu dikabarin udah viral aja gitu nggak tahu, anak nyari-nyari rongsok,” katanya.

Berdasarkan informasi dari keluarga mantan suaminya, ayah dari anak-anak tersebut memang tengah mendekam di penjara. Selama ini, kedua anaknya tinggal bersama kakek dan nenek dari pihak ayah di Jakarta.

“Kalau kabar ayahnya di penjara, sempat dikasih tahu juga sama keluarganya. Kalau nggak salah itu sekitar 2,5 tahun. Kalau masuknya masih baru-baru ini, baru sidang,” ucapnya.

Sri menceritakan, mereka dahulu memang tinggal di Jakarta. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat anak. Namun setelah bercerai, anak-anak mereka terbagi; Fikri dan Noval ikut bersama ayahnya di Jakarta.

“Awalnya (tinggal) di Jakarta. Ya, saya berpikir, saya kan anak-anaknya ada empat, bagi-bagi 2 itu sama saya, 2 itu sama bapaknya, siapa tahu gitu diurus, eh tahu-tahunya udah viral gitu. Sebenarnya saya juga pengen ke sana juga ya, namun keadaan faktor ekonomi juga gitu,” kata dia.

Kini setelah anak-anaknya kembali, Sri menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu, terutama Polres Sumedang yang berkomitmen untuk menyekolahkan kedua anaknya.

“Terkait mau di sekolahkan oleh polisi ya senang-senang aja gitu biar dia punya pendidikan juga, biar punya masa depannya yang terbaiklah. Anak-anak ini dari empat bersaudara. Ini (anak saya) yang nomor dua, dan nomor tiga,” ungkapnya.

Sementara itu, Kapolres Sumedang AKBP Sandityo Mahardika yang menyambut langsung kedatangan kedua anak ini memastikan kondisi mereka sehat. Ia menilai keduanya adalah anak yang pintar dan memiliki inisiatif tinggi meski masih belia.

“Kondisi anak, alhamdulillah, sehat. Kemudian ceria, karena memang anak ini anak yang pintar, yang tanpa diajari ya, melihat neneknya di Jakarta setiap harinya memulung botol, memulung kardus, anaknya dengan inisiatif sendiri ikut memulung. Jadi, tidak ada yang mengajari,” kata Sandityo.

Dari hasil pemeriksaan sementara, polisi tidak menemukan adanya dugaan eksploitasi anak. Sandityo justru mengapresiasi niat tulus kedua anak tersebut yang memulung demi membantu nenek mereka.

“Jadi, untuk sementara, karena ini memang pintar, Jadi, tidak ada dugaan eksploitasi anak, tidak ada sama sekali, karena memang anak ini anak yang pintar, jadi melihat neneknya memulung, dia ikut-ikutan memulung untuk membantu neneknya,” kata dia.

“Tadi sudah kita tanya, anak ini luar biasa, kepekaannya tinggi, kecerdasannya tinggi. Tanpa disuruh, memulung di jalan untuk membantu perekonomian neneknya, sehingga viral, kemudian diamankan oleh kami Polri, khususnya di Jakarta Timur dan sudah diantar ke Sumedang pada malam hari ini,” imbuhnya.

Sandityo membenarkan bahwa ayah kedua anak tersebut sedang menjalani hukuman penjara. Hal itulah yang membuat mereka tinggal bersama kakek dan neneknya tanpa pengawasan langsung orang tua.

“Kebetulan ayahnya di penjara sehingga anak ini tinggal bersama dengan nenek dan kakeknya, tanpa pengawasan orang tua. Sehingga dikembalikan ke Sumedang untuk dipertemukan dengan ibunya supaya bertemu dengan ibunya kembali,” katanya.

Selain pemantauan dari kepolisian dan Dinsos Sumedang, kedua anak ini akan dibantu dalam pengurusan administrasi kependudukan. Mereka juga direncanakan mengikuti program Sekolah Rakyat mengingat kondisi ekonomi keluarga yang terbatas.

“Rencananya akan kita masukkan ke Sekolah Rakyat yang memang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu,” pungkasnya.

Halaman 2 dari 2