Sosok Ki Warsad Darya (87) memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indramayu. Maestro seni budaya wayang cepak ini telah mentahbiskan dirinya sebagai dalang sejak berusia 19 tahun, tepatnya pada 1958.
Pada 2018, ia memutuskan berhenti mendalang lantaran kondisi fisik yang menurun. Praktis, Ki Warsad telah mendedikasikan hidupnya di atas panggung selama enam dekade. Lebih dari setengah abad ia mengabdikan diri, merawat seni budaya sekaligus mengais rezeki dari sana.
Saat ditemui infoJabar di bangunan tua bertuliskan ‘Sanggar Jaka Baru’ Ki Warsad mengenang perjalanan hidupnya, Selasa (13/1/2026). Lahir dari keluarga pembuat tahu, Ki Warsad justru memiliki ketertarikan tinggi terhadap wayang. Meski tak punya garis keturunan seni, ia kerap terhipnotis setiap kali menonton pementasan wayang kulit di desanya hingga ke desa tetangga.
Kegemaran menonton itu memantik ambisinya untuk menjadi dalang saat dewasa kelak. Ki Warsad mulai memainkan wayang cepak dengan menyewa milik kerabatnya. Namun pada 1963, sang kerabat berhenti meminjamkan wayang tanpa alasan jelas. Rasa sakit hati itu ia ubah menjadi ambisi, Ki Warsad mulai membuat wayang sendiri dan mendirikan Sanggar Jaka Baru pada 1964. Nama ‘Jaka Baru’ dipilih untuk merepresentasikan statusnya yang kala itu masih lajang.
Masa awal hingga 1970 menjadi periode terberat bagi Ki Warsad. Kondisi politik Indonesia yang tidak menentu akibat gejolak gerakan separatisme turut berdampak pada keamanan warga. Pengalaman pahit pun dialami Sanggar Jaka Baru, saat pementasan, sekelompok orang tak dikenal merangsek masuk, menyobek kelir (layar kain), hingga membalikkan panggung.
“Pernah saat pentas, kelirnya disobek kelompok tak dikenal. Panggung dibalikkan,” kenang Ki Warsad.
Meski menderita kerugian materiil, semangatnya tak padam. Ia justru kian terpacu karena yakin masyarakat masih mencintai seni tersebut.
Kariernya melonjak tajam pada periode 1971 hingga 1980-an. Dalam setahun, ia bisa naik panggung sebanyak 100 hingga 150 kali. Kesuksesan itu membuatnya mampu membeli satu unit oplet untuk menggantikan pedati sebagai pengangkut peralatan. Ki Warsad bersama sinden dan kru berdesakan di dalam oplet, sementara kru lainnya menyusul dengan sepeda. Saking padatnya jadwal, ia pernah tak pulang selama sepekan hingga kurang tidur.
Baginya, mendalangi wayang adalah panggilan jiwa yang dijalani tanpa beban. “Pernah ada anggota yang jatuh dari sepeda karena mengantuk. Saat itu kami benar-benar lupa kapan terakhir kali tidur,” tuturnya.
Kala itu, sekali pementasan di wilayah terdekat dibayar 5 kuintal padi kering. Untuk wilayah jauh, Sanggar Jaka Baru dibayar 7 kuintal atau lebih. Sanggar ini telah menjajaki berbagai wilayah di Pulau Jawa, bahkan menembus panggung internasional di Jepang saat ajang Asian Games 1994 Hiroshima.
Namun, roda berputar. Memasuki era 1990-an, krisis moneter menghantam. Jadwal pentas menyusut drastis seiring gelombang demonstrasi dan kerusuhan di berbagai daerah. Lonjakan harga kebutuhan pokok membuat masyarakat tak lagi memprioritaskan hiburan seni. Puncaknya, stabilitas negara terguncang hingga Presiden Soeharto lengser pada 21 Mei 1998.
Harapan baru sempat muncul di era Reformasi di bawah kepemimpinan Presiden B.J. Habibie. Namun, animo masyarakat tak lagi sama. Wayang cepak harus bersaing dengan beragam hiburan modern dan budaya populer mancanegara.
“Paling banyak hanya 50 kali pentas setahun,” ujar Ki Warsad merujuk periode pasca-1998 hingga 2006.
Sejak 2007, eksistensinya kian tergerus. Panggungnya menyusut hingga tersisa 15 kali pementasan setahun, sebelum akhirnya ia memutuskan pensiun pada 2018. Kini, tongkat estafet dalang diteruskan oleh sang anak, sementara Ki Warsad berperan sebagai motivator di balik layar.
“Sekarang yang penting bagaimana caranya bertahan. Sudah hampir tidak pernah ditanggap di acara pernikahan atau Sedekah Bumi. Hanya orang-orang tertentu yang masih setia,” ucapnya lirih.
Untuk menyambung napas, sanggar ini memproduksi kerajinan topeng khas Indramayu-Cirebon, wayang cepak, dan berokan. Usaha ini menjadi tumpuan baru. Terbaru, dua paket wayang cepak siap dikirim ke Yogyakarta untuk kemudian diekspor ke Amerika Serikat pada Januari ini.
Riwayat hidup Ki Warsad Darya adalah potret ketekunan. Ia membuktikan bahwa pekerjaan yang didasari panggilan hati akan terasa ringan dijalani. Kisahnya sekaligus menjadi undangan bagi generasi muda untuk tetap menghargai dan merawat seni budaya khas Bumi Wiralodra.







