Ketika Jaminan Kesehatan Terhenti, Afzal Tetap Berjuang Lawan Kanker

Posted on

Bandung

Afzal Atalah hanya terdiam. Bocah tiga tahun asal Limbangan, Kabupaten Garut itu tampak lemah saat digendong ibunya, Hera Sagita, di Rumah Pejuang Kanker Ambu, Kota Bandung. Tubuhnya kecil, wajahnya pucat, perutnya masih menyisakan bekas perjuangan melawan penyakit yang terlalu berat untuk seusianya, Tumor Wilms atau kanker ginjal.

Di sudut ruangan sederhana itu, Hera berusaha tegar. Namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa lelah dan takut yang menumpuk berbulan-bulan terakhir. Afzal adalah anak pertamanya. Sejak vonis kanker itu datang, hidup Hera dan suaminya, Muhamad Jaja, seakan berpindah dari rumah ke rumah sakit, dari satu kecemasan ke kecemasan berikutnya.

“Pas tanggal 3 harusnya kontrol, pas mau daftar di rumah sakit katanya BPJS sudah gak aktif. Terus saya cek ke bagian BPJS benar sudah gak aktif, pas dilihat nonaktif sejak akhir bulan (Januari),” tutur Hera saat berbincang dengan, Senin (9/2/2026).

Hari itu seharusnya menjadi rutinitas medis biasa. Afzal dijadwalkan kontrol pascaoperasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Hera datang tanpa rasa curiga sedikit pun. Ia tak pernah mendapat pemberitahuan bahwa kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN BPJS Kesehatan anaknya telah dinonaktifkan.

“Gak tahu kalau nonaktif makanya datang ke RSHS memang jadwal kontrol setelah operasi,” katanya.

Kabar itu menghantam keras keluarga kecil ini. Di tengah kebingungan, Muhamad Jaja terpaksa kembali ke Garut untuk mengurus BPJS mandiri agar pengobatan Afzal tidak terhenti. Pilihannya berat, tapi tak ada jalan lain.

“Karena gak aktif ayahnya pulang ke Garut, buat ngurus BPJS yang mandiri. Jadi sekarang BPJS yang mandiri, berbayar. Alhamdulillah sudah diurus sudah selesai besok rencana mau kontrol,” ujar Hera.

Ia mengaku sangat terpukul saat pertama kali tahu BPJS anaknya nonaktif. Bukan hanya soal administrasi, tapi tentang masa depan pengobatan Afzal yang masih panjang.

“Kaget banget, kan dedek itu masih panjang prosesnya, belum juga kemo karena sempat tertunda karena harus operasi,” ucapnya lirih.

Afzal didiagnosis mengidap Tumor Wilms, kanker ginjal yang membuat perutnya sempat membesar. Pada Desember lalu, satu ginjal Afzal harus diangkat demi menyelamatkan nyawanya.

Saat itu, BPJS masih aktif dan proses operasi berjalan lancar. Karena itu, Hera tak habis pikir mengapa kepesertaan anaknya tiba-tiba dinonaktifkan.

“Anak saya Tumor Wilms, itu kanker ginjal perutnya sempat membesar. Ginjalnya sudah diambil satu waktu operasi bulan Desember, waktu itu baru aktif BPJS-nya, makanya saya bingung kan baru kok sekarang gak aktif,” katanya.

Perjuangan Afzal belum selesai. Ia masih harus menjalani kemoterapi yang sempat tertunda, bahkan satu operasi besar lagi menanti. Tumor yang dideritanya diketahui telah menyebar ke usus.

“Bayar yang kelas 3 yang murah aja, yang penting dedek bisa berobat. Dedek masih harus operasi satu kali lagi, soalnya dia tuh tumornya sudah menyebar ke usus, jadi yang saluran ke anus katanya harus dipotong dan akan dioperasi lagi,” tutur Hera dengan suara bergetar.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Hera hanya punya satu harapan agar anaknya tetap bisa berobat tanpa dihantui biaya dan administrasi. Ia pun menitipkan harapan kepada pemerintah, bukan hanya untuk Afzal, tetapi juga anak-anak lain yang bernasib serupa.

“Ya BPJS diaktifkan lagi, apalagi yang cuci darah nanti, belum kemo, belum pengobatan masih panjang perjuangan dedek. Tolong pemerintah perhatikan anak-anak yang sakit, kasihan. Buat makan aja susah, apalagi buat pengobatan anak,” ucap Hera.