Bagi Kyle Terence Abanto, usia 23 tahun seharusnya menjadi fase terbaik untuk mengejar mimpi sebagai fotografer dan videografer. Namun, rencana masa depan itu runtuh ketika dokter mendiagnosisnya menderita gagal ginjal kronis stadium 5 atau chronic kidney disease (CKD) tahap akhir.
Di usia yang masih sangat muda, Kyle harus menerima kenyataan pahit: fungsi ginjalnya telah berhenti sepenuhnya. Sejak saat itu, hidupnya bergantung pada mesin dialisis untuk bertahan.
“Ini seperti hukuman seumur hidup tanpa jeruji besi,” kata Kyle kepada Inquirer. Ia wajib menjalani cuci darah tiga kali dalam sepekan, dengan durasi sekitar empat jam setiap sesi.
Kasus yang dialami Kyle bukanlah peristiwa tunggal. Secara global, jumlah pasien CKD stadium akhir di kelompok usia produktif, yakni 20 hingga 40 tahun, terus meningkat secara signifikan. Di Filipina, negara tempat Kyle tinggal, sekitar tujuh juta orang dewasa muda tercatat mengidap berbagai stadium penyakit ginjal.
Data National Kidney and Transplant Institute (NKTI) menunjukkan pergeseran pola penderita yang cukup mencolok. Sebanyak 57,44 persen pasien penyakit ginjal berada pada rentang usia 20 hingga 59 tahun. Kelompok usia produktif ini kini melampaui jumlah pasien lansia berusia di atas 60 tahun yang sebelumnya mendominasi statistik.
Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia. Prevalensi penyakit ginjal kronis pada usia di bawah 45 tahun terus meningkat. Ironisnya, banyak kasus baru terdeteksi ketika pasien telah memasuki stadium lanjut atau kritis.
Pada masa lalu, gagal ginjal umumnya disebabkan komplikasi penyakit degeneratif atau peradangan penyaring ginjal (glomerulonefritis). Namun, sejak awal 2000-an, pola penyebab mengalami pergeseran. Gaya hidup serba instan dan konsumsi ultra-processed foods (UPF) menjadi faktor dominan gagal ginjal pada usia muda.
Kyle mengakui kebiasaan makannya berperan besar dalam kondisinya saat ini. Ia kerap mengandalkan mi instan, makanan kaleng, minuman bersoda, serta camilan tinggi garam demi menghemat waktu di tengah kesibukan bekerja.
Selain pola makan, ia juga rutin mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa resep dokter agar tetap bisa beraktivitas meski tubuhnya terasa sakit.
“Saya tahu ini kesalahan saya, tapi dulu saya tidak tahu lebih baik. Saya hanya makan apa saja yang mudah dimakan, semuanya serba instan karena saya terlalu fokus mengejar target,” ujar Kyle.
Dampak gagal ginjal tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga kesehatan mental. Kyle sempat mengalami depresi berat dan kecemasan. Ia merasa hidupnya terhenti, sementara orang-orang seusianya terus melangkah maju.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Perubahan fisik turut memperburuk kondisi psikologisnya. Warna kulit yang menggelap dan pembengkakan tubuh akibat penumpukan racun membuat kepercayaan dirinya menurun drastis.
Setelah menjalani transplantasi ginjal dari donor meninggal dunia, Kyle perlahan bangkit. Kini, ia aktif membagikan pengalamannya melalui media sosial. Ia berharap kisahnya menjadi pengingat bahwa tubuh yang tampak sehat di usia 20-an tetap rentan jika gaya hidup diabaikan.
“Kenapa harus saya? Seandainya dulu ada peringatan yang jelas bahwa apa yang saya makan dan minum itu berbahaya, mungkin ceritanya akan berbeda,” tutup Kyle.
Artikel ini telah tayang di .







