Bandung –
Gang sempit di Jalan Cihampelas itu mungkin tak banyak dilirik orang. Namun di balik riuh pusat perbelanjaan dan lalu lalang wisatawan, berdiri sebuah bangunan sederhana yang menyimpan sejarah panjang Kota Bandung, Masjid Mungsolkanas.
Didirikan pada 1869 oleh Kiai Haji Abdulrohim atau Mama Aden, masjid ini menjadi salah satu yang tertua di Bandung. Namanya unik, Mungsolkanas singkatan dari kalimat Sunda Mangga Urang Ngaos Sholawat Ka Kanjeng Nabi SAW atau Mari Kita Membaca Selawat kepada Nabi SAW.
Namun sejarah panjang itu tak hanya soal bangunan dan tahun berdiri. Ia hidup lewat orang-orang yang menjaganya. Salah satunya Nurholis.
Nurholis adalah seorang marbut di Masjid Mungsolkanas. Bukan hanya marbut, sesekali, pria 60 tahun ini juga bertugas sebagai muazin. Meski tubuhnya tak lagi muda, tapi geraknya cekatan. Kepada Nurholis lah, segala keperluan dan kebutuhan masjid diserahkan.
Ia datang ke Bandung pada 1984. Merantau dari Singaparna, Tasikmalaya, Nurholis saat ini hanya memiliki harapan sederhana yakni bekerja dan bertahan hidup. Saat tiba di Bandung, rumah pertamanya adalah masjid.
Namun kala itu, ia tak langsung datang ke Masjid Mungsolkanas. Nurholis lebih dulu berdiam di Masjid Al Hikmah, yang menurut dia jaraknya tak jauh. Setelah 7 tahun, barulah ia datang ke Masjid Mungsolkanas.
“Kalau ke Bandung itu tahun 1984, waktu itu ada dua masjid di Mungsolkanas dan Al Hikmah. Dulu di Al Hikmah awalnya, baru tahun 1991 mulai bantu-bantu di sini,” tutur Nurholis saat berbincang dengan .
Rutinitas Nurholis dimulai saat pagi hari. Sejak pagi buta, ia sudah harus membersihkan seluruh area masjid, memasang karpet untuk digunakan salat Subuh berjamaah.
Menjelang siang, setelah urusan masjid relatif tenang, Nurholis berganti peran. Ia mendorong gerobak siomaynya menyusuri kawasan Cihampelas. Untuk menambah pemasukan, ia juga berjualan siomay yang dibuatnya sendiri.
“Jualan siomay keliling, di daerah Cihampelas itu. Tadinya dari orang lain cuma saya belajar buat sendiri, sekarang punya sendiri,” katanya.
Awalnya ia hanya membantu orang lain. Lalu belajar, mencoba, hingga akhirnya punya usaha sendiri. Dagangan siomay itu menjadi penopang hidupnya, berdampingan dengan tugasnya sebagai marbut.
Baginya, suka dan duka bukan hal yang perlu dirinci panjang. Sebagai seorang marbut, Nurholis hanya punya satu tujuan yakni membantu masyarakat dengan ikhlas.
“Kalau suka duka ya ada, cuma kita itu niatnya ikhlas ya yang penting bisa membantu masyarakat, membantu umat,” ucap dia.
Tahun 2015 menjadi salah satu ujian berat bagi Nurholis. Tangannya patah karena tertindih motor. Ia harus menjalani operasi dan terapi berbulan-bulan. Kondisi itu memaksanya sempat pulang kampung ke Tasikmalaya.
Nurholis (60) marbut masjid Mungsolkanas Foto: Bima Bagaskara/ |
“Waktu itu patah tangan saya, ketindihan motor. Kejadiannya itu tahun 2015 terus di sini dibantu sampai operasi dan sampai terapi 3 bulan. Waktu itu sempat istirahat dulu, istirahat di kampung sampai sembuh total,” katanya mengingat.
Sejak itu, Nurholis berjanji kepada dirinya sendiri untuk terus menjaga Masjid Mungsolkanas dan membantu masyarakat di sekitarnya. “Makanya saya ngomong begini, selama kebutuhan masyarakat, ada pengajian, pernikahan apapun saya siap bantu apapun,” jelasnya
Dua puluh lima tahun lebih ia menjaga Mungsolkanas. Namun tak pernah terbesit dalam benaknya untuk pensiun meski hal itu diinginkan oleh keluarganya di kampung halaman. Bagi Nurholis, marbut sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
“Ya mungkin sampai (sisa) umur saya. Anak-anak sih maunya di sana, udah aja di kampung, kalau saya selama masih kuat dan mampu ya kenapa enggak,” ujarnya.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Sementara Ketua DKM Masjid Mungsolkanas, Tatang Somantri menyebut Nurholis sebagai sosok yang setia. Dia mengungkap tak ada gaji tetap yang diterima Nurholis dan marbut lainnya. Pihak DKM hanya memberi apresiasi ala kadarnya.
“Gak ada gaji hanya sukarela aja. Kalau jadi marbot kan pasti suka disuruh-suruh, nah yang nyuruhnya pasti gak enak jadi ngasih. Awalnya mereka dikasih Rp300 ribu, naik-naik sampai sekarang Rp1 juta, itu dari uang kencleng disesuaikan sama uang kas DKM,” ungkap Tatang.








