Kuningan –
Di tengah derasnya hujan sore yang mengguyur Alun-Alun Kuningan, seorang pedagang tahu gejrot tampak berteduh di dekat jembatan penyeberangan yang menghubungkan area alun-alun dengan masjid. Gerobak pikulnya disandarkan, sementara tangannya tetap lincah menyiapkan pesanan.
Dialah Udin (53), yang lebih akrab disapa Mang Kopral. Meski hujan turun tanpa jeda, semangatnya tak surut. Sambil meracik tahu gejrot, memotong tahu, mengulek cabai, dan menyiramkan kuah gula asam, ia bercerita tentang perjalanan panjangnya menekuni usaha kaki lima itu. Puluhan tahun sudah ia jalani profesi sebagai pedagang tahu gejrot.
Perjalanannya bermula di Bandung pada akhir 1980-an. Saat itu, ia mencoba peruntungan menjajakan tahu gejrot khas Cirebon. Namun usaha tersebut tak bertahan lama. Sepinya pembeli ditambah kondisi keamanan yang menurutnya rawan membuatnya kesulitan bertahan.
“Sebelumnya itu di Bandung sekitar tahun 1989, paling beberapa tahun, nggak lama. Karena di sana sepi, terus banyak preman juga. Sering kehilangan. Akhirnya pindah ke Kuningan tahun 1993 sampai sekarang. Sudah 30 tahun lebih. Dinamakan Kopral kayak cukuran rambutnya pendek gini terus kayak Kopral,” tutur Kopral belum lama ini.
Memasuki awal 1990-an, ia memutuskan hijrah ke Kuningan. Sejak 1993, kawasan alun-alun menjadi tempatnya menggantungkan hidup. Ia membawa identitas rasa dari tanah asalnya, tahu dari sentra produksi Ciledug, Cirebon, lengkap dengan cobek hitam yang ia bakar sendiri agar menghasilkan aroma khas.
Selama lebih dari tiga dekade berjualan, berbagai suka dan duka telah ia lewati. Salah satu masa terberat baginya terjadi saat pandemi COVID-19. Mobilitas warga dibatasi, sementara ia harus bolak-balik dari Cirebon ke Kuningan. Situasi itu membuatnya tak bisa berjualan berhari-hari.
“Kadang dikejar satpol PP, untuk ditertibkan. Apalagi pas COVID-19, saya kan dari Cirebon ke sana kemari orang nggak bisa lewat. Dilarang semua, jadi nggak jualan. Untungnya sekarang sudah nggak, apalagi tamannya sudah lebih di tata,” tutur Kopral.
Tahu Gejrot Mang Kopral Foto: Fahmi Labibinajib/ |
Kini, wajah Alun-Alun Kuningan memang lebih tertata. Namun menurut Kopral, keramaian pembeli justru tak seramai dulu. Ia mengenang masa ketika terminal dan gedung bioskop masih berdiri di kawasan itu, dua magnet keramaian yang mendatangkan banyak pelanggan.
“Masih enak dulu. Dulu pas masih terminal, gedung film bisa habis sampai 200 porsi, sekarang mah sudah banyak yang jualan. Harganya juga masih murah cuman Rp 2.000, sekarang mah sudah Rp 10.000,” tutur Kopral.
Perubahan zaman ikut memengaruhi pendapatannya. Jika dulu ratusan porsi bisa terjual dalam sehari, kini ia paling banyak menjual sekitar 50 porsi, dengan omzet kira-kira Rp500 ribu. Cuaca juga sangat menentukan, hujan seperti sore itu bisa membuat penghasilannya anjlok drastis.
“Sehari kalau malam minggu nggak hujan habis 50 porsi atau Rp 500 ribu. Tapi kalau lagi hujan kayak gini turun drastis. Kayak kemarin saja sehari jualan dari siang sampe malam cuman dapat Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu. Seharian hujan terus,” tutur Kopral.
Meski penghasilan tak selalu menentu, Mang Kopral tetap setia pada gerobak pikulnya. Baginya, tahu gejrot bukan sekadar dagangan, melainkan jalan hidup yang telah membesarkan keluarganya. Bahkan kini, salah satu anaknya mulai mengikuti jejak sang ayah berjualan tahu gejrot.








