Kerinduan Bocah Korban Longsor Cisarua untuk Kembali Sekolah

Posted on

Bandung Barat

Sebelas hari berlalu sejak longsor dahsyat meratakan 48 rumah di Kampung Pasir Kuda, Pasir Kuning, dan Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

80 warga dinyatakan jadi korban dalam longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1), pukul 03.00 WIB. Ratusan warga terpaksa mengungsi, aktivitas pun sejenak berhenti.

Fasilitas pendidikan, kesehatan, hingga pemerintahan disulap jadi posko penanganan pascabencana. Salah satunya bangunan SD Negeri 1 Pasirlangu yang difungsikan menjadi dapur umum sejak bencana terjadi.

Praktis longsor itu juga memaksa kegiatan pembelajaran di sejumlah sekolah di lokasi longsor dialihkan menjadi dalam jaringan (daring) demi faktor keamanan dan keselamatan para pelajar terutama jenjang SD dan SMP.

Namun sebelas hari tak sekolah tatal muka, membuat bocah-bocah mulai bosan. Seperti Acep Evan Dimas, yang lantang menyebut ingin kembali bersekolah seperti sebelum kejadian longsor.

“Iya bosan, mending sekolah. Bisa main dengan teman-teman,” kata Acep Evan Dimas, Selasa (3/2/2026).

Meskipun di pengungsian ia tetap bisa bermain dan beraktivitas, namun tetap berbeda jika dengan teman-temannya yang lain. Di pengungsian, biasanya Acep cuma menggambar, membaca buku, namun tak bisa bermain di lapangan terbuka.

“Kemarin menggambar, terus mewarnai. Tapi inginnya main bola, lari-larian di lapangan,” kata Acep Evan Dimas yang kini sudah menginjak kelas 5 SD.

Hal serupa dikeluhkan Denis Syahrakana. Teman sekolah Acep Evan Dimas itu juga merasakan hal yang serupa. Ia kangen bercengkrama dengan teman-teman sekolahnya yang lain.

“Di sini ada teman-teman, tapi cuma sedikitan. Kalau di sekolah kan ramai, terus di pengungsian enggak enak, enggak bebas,” ujar Denis.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan KBB, Asep Dendih menyebut saat ini beberapa sekolah di lingkungan yang terdampak longsor menjalani pembelajaran secara daring karena digunakan sebagai dapur umum hingga pelayanan lain selama masa tanggap darurat.

“Enggak libur, cuma sejak kejadian itu belajarnya jadi daring soalnya dekat dengan lokasi kejadian. Misalnya SDN Pasirlangu itu jadi dapur umum,” kata Asep Dendih.

Aktivitas belajar secara daring sendiri akan berlangsung sampai masa tanggap darurat usai pada 6 Januari mendatang. Kabar pilu dari dunia pendidikan di Bandung Barat, yakni adanya dua siswa SD yang turut jadi korban longsor dari Gunung Burangrang.

“Sampai tanggap darurat selesai, mudah-mudahan. Untuk yang jadi korban ada 2, pemerintah sudah menyiapkan santunan bagi yang meninggal dan lain-lain. Tentu kami dari Disdik juga akan memberikan bantuan bagi siswa yang menjadi korban longsor,” tutur Asep Dendih.