Bandung –
Setiap Ramadan, jadwal imsak dan berbuka puasa terasa terus bergeser. Hari ini berbuka pukul 18.17 WIB, esok bisa saja menjadi 18.16 WIB. Perubahan satu atau dua menit itu kerap memunculkan pertanyaan mengapa jam imsak dan berbuka puasa selalu berubah?
Jawabannya berkaitan dengan pergerakan Matahari, rotasi Bumi, serta posisi geografis di setiap daerah. Perbedaan posisi garis bujur dan lintang suatu wilayah menyebabkan variasi waktu terbit serta terbenamnya Matahari, yang kemudian dijadikan acuan dalam menentukan jadwal salat dan waktu ibadah puasa.
Fenomena ini juga merupakan bagian dari sistem astronomi yang terukur secara ilmiah dan dihitung dengan metode falak.
Penentuan Imsak dan Berbuka Puasa
Dalam ajaran Islam, waktu imsak dan berbuka puasa tidak ditentukan secara sembarangan, melainkan merujuk pada dalil Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Patokan utamanya adalah pergerakan Matahari yang menandai pergantian waktu siang dan malam.
Dasar utama penentuan waktu puasa terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 yang berbunyi:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ
Artinya: “Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.”
Frasa “benang putih dari benang hitam” oleh para ulama tafsir dimaknai sebagai terbitnya fajar sadik, yakni cahaya putih yang membentang horizontal di ufuk timur sebagai tanda masuknya waktu Subuh. Sejak saat itulah puasa dimulai dan segala hal yang membatalkannya harus dihentikan.
Sementara itu, batas akhir puasa ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
“Jika malam datang dari arah sini dan siang pergi dari arah sana serta Matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.”
Artinya, waktu berbuka puasa ditandai secara langsung oleh tenggelamnya Matahari, bukan oleh gelapnya langit sepenuhnya. Dalam kajian fikih, para ulama membedakan antara fajar kazib dan fajar sadik. Fajar kazib adalah cahaya awal yang tampak vertikal dan belum menandakan masuknya waktu Subuh.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, penentuan waktu-waktu tersebut tidak lagi mengandalkan pengamatan kasatmata. Ilmu falak atau astronomi Islam berkembang untuk menghitung posisi Matahari secara presisi. Di Indonesia, jadwal imsak dan berbuka puasa ditetapkan berdasarkan perhitungan astronomi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui metode hisab yang terstandar.
Dengan demikian, dasar penentuan waktu imsak dan berbuka puasa menurut Islam merupakan perpaduan antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Dalil Al-Qur’an dan hadis menjadi fondasi utamanya, sementara perhitungan astronomi memastikan ketepatan waktunya. Keduanya berjalan selaras, menjaga agar ibadah puasa terlaksana sesuai tuntunan syariat sekaligus akurat secara ilmiah.
Mengapa Terjadi Perubahan
Perubahan jam imsak dan berbuka puasa yang terjadi setiap hari bukanlah kebetulan atau kesalahan perhitungan. Pergeseran satu hingga dua menit itu merupakan konsekuensi dari pergerakan Bumi yang terus berlangsung tanpa henti. Dalam sistem tata surya, Bumi tidak hanya berotasi pada porosnya, tetapi juga berevolusi mengelilingi Matahari.
Setiap hari, posisi Bumi dalam orbitnya sedikit berubah. Perubahan kecil ini membuat sudut datang sinar Matahari ke suatu wilayah ikut bergeser. Dampaknya, waktu terbit dan terbenam Matahari pun berubah secara bertahap. Karena waktu Subuh dan Magrib menjadi dasar penentuan imsak dan berbuka, maka jadwal puasa otomatis ikut menyesuaikan.
Selain revolusi Bumi, kemiringan sumbu Bumi sekitar 23,5 derajat juga berperan penting. Kemiringan ini menyebabkan panjang siang dan malam tidak selalu sama sepanjang tahun. Pada periode tertentu, siang terasa lebih panjang sehingga waktu berbuka menjadi lebih lambat. Di periode lain, malam lebih panjang dan waktu berbuka terasa lebih cepat.
Oleh karena itu, perubahan waktu imsak dan berbuka setiap hari adalah hasil dari mekanisme alam yang presisi. Pergeseran menit demi menit itu menunjukkan keteraturan sistem kosmik yang menjadi dasar penentuan waktu ibadah dalam Islam.
Perubahan jam imsak dan berbuka puasa adalah hal yang sepenuhnya normal dan dapat diprediksi. Seluruh jadwal telah dihitung menggunakan perangkat lunak astronomi dan metode hisab yang diakui secara ilmiah.
Kementerian Agama setiap tahun menerbitkan jadwal resmi berdasarkan data astronomi yang diverifikasi. Dengan demikian, perubahan satu hingga dua menit setiap hari bukan kesalahan, melainkan konsekuensi dari sistem pergerakan Bumi yang presisi.







