Bandung –
Sepi. Itulah suasana eks objek wisata Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (13/2) malam. Kondisi tersebut dimanfaatkan seorang streamer TikTok untuk melakukan siaran langsung dan menayangkan suasana kawasan itu.
Di tengah ketegangan saat siaran berlangsung, streamer tersebut dikejutkan oleh temuan sesosok mayat dalam posisi tengkurap di sekitar semak belukar lokasi kejadian.
Belakangan diketahui, mayat tersebut merupakan seorang pelajar SMP negeri di Kota Bandung berinisial ZAAQ. Sebelum ditemukan tewas, korban dilaporkan hilang sejak Selasa (10/2).
“Hari Selasa malam kehilangan anak tersebut. Sampai muncul pemberitaan, sampai diunggah di grup,” kata Titin saat ditemui di SMPN 26 Bandung, Jalan Cibogo, Kecamatan Sukajadi, Sabtu (14/2).
Menurut Titin, muridnya itu dikenal sebagai anak yang baik dan tidak pernah memiliki masalah di sekolah.
“Pendiam,” ujarnya singkat.
Ia menegaskan, ZAAQ tidak pernah tercatat memiliki persoalan di sekolah. Pihak sekolah, kata dia, selalu memantau potensi konflik antar-siswa maupun antara siswa dan guru. Namun, nama ZAAQ tidak pernah muncul dalam catatan negatif.
“Tidak ada catatan namanya di Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan. Anaknya baik, lebih ke pendiam,” terangnya.
Titin mengungkapkan, ZAAQ telah lama ditinggal ibunya yang meninggal dunia sejak korban duduk di kelas lima sekolah dasar. Berdasarkan penuturan sang ayah, ZAAQ memang jarang bercerita kepada keluarga jika menghadapi persoalan.
“Cuma anak itu sudah tidak punya ibu sejak kelas lima, kata ayahnya. Kebetulan ayahnya juga sedang sakit,” ungkapnya.
“Namanya anak laki-laki, mungkin jarang bercerita,” lanjutnya.
ZAAQ merupakan anak kedua dari empat bersaudara, terdiri atas dua laki-laki dan dua perempuan. Dua kakaknya telah beranjak dewasa.
Titin menambahkan, jenazah ZAAQ rencananya dimakamkan di kampung halaman ibunya di Garut.
“Katanya nanti sore dimakamkan di Garut,” ucapnya.
Informasi tersebut diperolehnya langsung dari ayah korban. Ia juga sempat mendatangi rumah duka bersama lurah setempat.
“Tadi saya kebetulan ke rumahnya barengan dengan Pak Lurah. Pak Lurah sudah membawa ambulans, tetapi jenazahnya belum tiba,” ujar Titin.
Atas kejadian tersebut, pihak sekolah menyampaikan duka mendalam atas kepergian almarhum.
“Kami sudah menyampaikan kepada pihak keluarga. Ini bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi juga bagi kami di SMPN 26. Kami sangat terpukul,” ucapnya.
Ia menegaskan, sekolah selama ini berupaya melindungi siswa dari segala bentuk kekerasan melalui edukasi dan kerja sama dengan aparat kewilayahan. Namun, pihaknya mengaku belum memperoleh informasi utuh terkait peristiwa tersebut.
“Kami berupaya melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan, mengedukasi, bekerja sama dengan aparat kewilayahan. Namun kami belum mendapat informasi yang jelas, apakah yang membawa korban orang yang dikenal atau tidak dikenal,” pungkasnya.







