Indramayu –
Perairan sekitar Pulau Biawak, Kabupaten Indramayu, menjadi saksi tragedi yang tak hanya menyisakan duka, tetapi juga tuntutan keadilan. Di balik tenggelamnya KM Almujib pada Sabtu (28/2/2026) malam, suara seorang nelayan yang selamat kini menggema, meminta kasus tersebut diusut tanpa kompromi.
Alfianto Agus Sulistiyo (20), satu dari dua awak yang berhasil bertahan hidup, tak ingin insiden itu berlalu begitu saja. Ia selamat setelah kapal nelayan 6 GT yang ditumpanginya ditabrak tongkang bernomor lambung 3009 hingga karam. Dari delapan awak kapal, dua meninggal dunia dan empat lainnya masih dalam pencarian.
“Saya ingat betul nomornya, 3009,” kata Alfianto saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Paoman, Senin (2/3/2026). Baginya, mengingat nomor tersebut bukan sekadar detail, melainkan kunci agar tanggung jawab tidak menguap di tengah laut.
Alfianto menilai ada kejanggalan dalam peristiwa itu. Menurutnya, saat KM Almujib tengah menebar jaring di sekitar jalur kapal besar, tidak ada peringatan apa pun dari tongkang yang melaju. Tidak terdengar klakson, tak terlihat sorot lampu sebagai tanda bahaya.
“Seharusnya ada tanda dulu supaya kapal kecil bisa menghindar,” ujarnya tegas.
Ia mengibaratkan situasi itu seperti kendaraan besar yang tetap wajib memberi peringatan meski berada di jalur utama. Baginya, keselamatan di laut semestinya menjadi tanggung jawab bersama, bukan sekadar soal siapa yang berada di jalur mana.
Lebih jauh, Alfianto menduga adanya unsur kelalaian. Ia mempertanyakan kemungkinan sistem kemudi yang tidak diawasi atau kru yang tidak siaga penuh saat kapal melintas di area yang juga digunakan nelayan kecil.
Pengalaman tiga tahun bekerja sebagai ABK di Taiwan membentuk pandangannya soal disiplin pelayaran. Di sana, kata dia, setiap awak kapal memahami konsekuensi hukum dan risiko besar jika lalai hingga mencelakakan pihak lain. Standar keselamatan dijaga ketat karena nyawa menjadi taruhannya.
Kini, di tengah upaya pencarian empat rekannya yang belum ditemukan, Alfianto tetap menyuarakan harapan agar aparat penegak hukum mengusut tuntas tabrakan tersebut. Ia bahkan memilih ikut membantu proses pencarian bersama tim SAR, sembari menunggu kejelasan hukum.
“Yang penting sekarang teman-teman ditemukan. Tapi soal ini juga harus jelas. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi,” ucapnya.
Bagi Alfianto, tragedi di laut bukan sekadar musibah. Ada pertanyaan tentang tanggung jawab yang menanti jawaban, agar para nelayan kecil merasa terlindungi saat mencari nafkah di perairan utara Jawa Barat.







