Kedai Kopi di Bandung Ini Berdayakan Barista Down Syndrome

Posted on

Bandung

Di Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Hagya Coffee and Roastery menghadirkan sesuatu yang berbeda. Di balik meja bar, barista dengan down syndrome terbiasa meracik kopi dengan telaten dan profesional. Pesannya jelas, keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.

Kedai ini berada di bawah naungan Spektrum Production dan berkolaborasi dengan Persatuan Orang Tua Anak Down Syndrome (POTADS) Jawa Barat untuk menciptakan ruang kerja inklusif yang berkelanjutan.

Pemilik Spektrum Production, Vica Azizah, menegaskan sejak awal Hagya tak hanya dibangun sebagai bisnis semata. “Tetapi sebagai ekosistem kreatif yang memiliki dampak sosial,” ujar Vica, Sabtu (14/2/2026).

Bagi Vica, langkah ini berangkat dari visi kesetaraan. “Kami tidak melihat mereka sebagai disabilitas, tetapi sebagai individu yang telah melalui pelatihan dan siap bekerja secara profesional. Kepercayaan adalah fondasi. Ketika diberi ruang dan sistem yang tepat, mereka mampu menunjukkan performa yang membanggakan,” paparnya.

Saat ini, Hagya Coffee memberdayakan enam individu down syndrome, tiga pegawai tetap dan tiga peserta magang. Seluruhnya telah menjalani pelatihan intensif dari POTADS Jabar sebelum melayani pelanggan.

“Di titik itu kami sadar, yang sering menjadi hambatan bukan kemampuan mereka, tetapi kurangnya ruang dan kepercayaan dari dunia usaha. Hagya hadir untuk menjadi jembatan antara potensi dan kesempatan,” katanya.

Dijelaskannya, standar kualitas tetap menjadi prioritas. Semua barista mengikuti SOP yang sama dengan pendampingan ketat di awal.

“Fokus kami bukan pada keterbatasan, tetapi pada kemampuan dan repetisi latihan. Hasilnya, konsistensi rasa, keramahan pelayanan, dan pengalaman pelanggan tetap terjaga,” ucapnya.

Budaya kerja inklusif ini juga membawa dampak internal. Tim menjadi lebih empatik dan saling mendukung.

“Kami melihat perubahan bukan hanya pada teman-teman down syndrome, tetapi juga pada tim internal kami. Lingkungan kerja menjadi lebih hangat, lebih sadar sosial, dan lebih menghargai perbedaan,” paparnya.

Secara jenama, kolaborasi ini memperkuat identitas Hagya. Pelanggan datang bukan hanya untuk kopi, tetapi juga untuk nilai yang diusung.

“Ini membangun emotional connection yang jauh lebih kuat dibanding sekadar transaksi,” ucapnya.

Senada, Handy Santika selaku pemilik Spektrum Production lainnya menilai program ini memperkaya kultur perusahaan. “Kolaborasi ini membentuk Hagya bukan hanya sebagai coffee shop berkualitas, tetapi sebagai ruang yang membangun nilai kemanusiaan,” ujar Handy.

Ia berharap semakin banyak pelaku usaha berani membuka lapangan kerja inklusif. “Kami percaya bisnis dan dampak sosial bisa berjalan beriringan,” katanya.

Ke depan, Hagya Coffee ingin menjadi model kedai kopi inklusif di Jawa Barat dengan memperluas pelatihan dan kolaborasi CSR.

“Bagi kami di Spektrum, kolaborasi ini bukan hanya tentang membuka lapangan kerja, tetapi tentang membangun ekosistem yang saling belajar. Teman-teman down syndrome belajar menjadi profesional, dan kami belajar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih inklusif,” pungkasnya.