Kata Kontraktor soal Bangunan di Alun-alun Gadobangkong Disorot

Posted on

Sukabumi

Sorotan mengenai kondisi fisik Alun-alun Gadobangkong, Palabuhanratu, yang dinilai terbengkalai dan berbahaya langsung direspons oleh pihak pelaksana proyek.

Pihak kontraktor dengan tegas membantah anggapan bahwa bangunan bernilai belasan miliar tersebut merupakan produk konstruksi yang gagal.

Perwakilan perusahaan rekanan proyek pembangunan kawasan Gadobangkong, Imran Firdaus, angkat bicara untuk meluruskan asumsi yang beredar.

Pria yang akrab disapa Ibong itu membeberkan penjelasan teknis guna menepis keraguan terkait keamanan fasilitas, khususnya pada bangunan dek pandang (viewing deck) atau dek selfie.

Klaim Konstruksi Kuat Sesuai Spesifikasi

Ibong memastikan bahwa pembangunan dek selfie sudah sepenuhnya mengacu pada gambar perencanaan awal. Secara konstruksi, ia menjamin bangunan tersebut sangat kuat dan mumpuni untuk menampung banyak pengunjung.

“Selfie deck sudah sesuai gambar dan konstruksinya bisa dipertanggungjawabkan. Tiang pancang 12 meter dan pembesian pakai besi 19 ulir. Pada dasarnya saya jamin konstruksi itu bisa menahan beban 200 orang di atasnya, bahkan lebih,” tegas Ibong memberikan klarifikasinya kepada, Jumat (20/2/2026).

Pernyataan Ibong juga dilengkapi dengan dokumen Justifikasi Teknis (Justek) yang diterbitkan oleh konsultan perencana CV Griya Loka pada September 2024.

Dokumen tersebut disusun untuk meninjau kelayakan bangunan, termasuk merespons adanya temuan tiang kolom yang sedikit miring akibat faktor pelaksanaan di lapangan.

Berdasarkan hasil analisis dan uji perangkat lunak dalam dokumen teknis tersebut, struktur bangunan dinyatakan tetap aman. Meskipun terdapat kolom yang miring, rasio kapasitasnya dipastikan masih berada di bawah batas kritis sehingga kuat memikul beban dek di atasnya.

Material beton dan baja yang digunakan pun telah melalui proses uji kelayakan dan dipastikan sesuai dengan mutu yang direncanakan sejak awal.

Secara teoritis, dokumen tersebut menyebutkan bahwa dek didesain untuk menampung hingga ratusan pengunjung dengan aman.

Palang Kayu Cegah Pungli

Terkait kondisi akses tangga dek selfie yang saat ini ditutup menggunakan palang kayu seadanya, Ibong meluruskan bahwa hal itu bukan karena bangunan nyaris ambruk.

Penutupan tersebut merupakan langkah taktis dari kepolisian setempat (Polsek) terkait manajemen risiko.

Mengingat dek tersebut berada di ketinggian dengan embusan angin laut yang cukup kencang, pengunjung dituntut untuk lebih berhati-hati.

Selain itu, pemalangan dilakukan untuk mencegah oknum tak bertanggung jawab melakukan pungutan liar (pungli) kepada pengunjung yang ingin naik.

“Dan itu dipakai palang kayu oleh Polsek kalau enggak salah alasan keselamatan dan pungli, karena tinggi dan angin kencang jadi pengunjung harus hati-hati. Bukan konstruksinya yang gagal,” Ibong menjelaskan.

Ia menambahkan, karena risiko ketinggian tersebut, diperlukan tata kelola yang baik dari pemerintah daerah agar pengunjung tetap terjamin keselamatannya tanpa dipungut biaya ilegal.

“Dilarang dinaikin karena harus ada pengelola khusus agar pengunjung bisa berhati-hati saat selfie di ketinggian. Dan ada yang mengarahkan untuk memandu pada saat naik ke selfie deck tanpa dipungut biaya. Pengelolaan harus dari Pemda. Jadi aman untuk naik ke atas sebetulnya,” urainya.

Landmark Berstatus Gratis, Dibangun Senilai Rp 153

Selain bangunan dek, Ibong juga mengklarifikasi perihal landmark tulisan raksasa “ALUN-ALUN GADOBANGKONG” yang kini kondisinya hancur atau “rungkad”.

Ia mengungkap fakta bahwa huruf-huruf tersebut berstatus sebagai pemberian cuma-cuma dari pihak kontraktor.

Hal ini bermula dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menjadikan pengerjaan huruf tersebut sebagai temuan, sehingga dananya harus dikembalikan ke kas negara.

“Total pekerjaan huruf 153 juta dan sudah dikembalikan ke BPK senilai 153 juta juga. Jadi huruf itu gratis dari kita, besinya, resinnya, dan tenaga kerjanya kita anggap nyumbang buat huruf,” beber Ibong.

Terkait kerusakannya, Ibong sangat menyayangkan minimnya kesadaran masyarakat. Elemen landmark tersebut didesain murni untuk estetika visual agar indah dipandang, bukan untuk dipanjat atau menahan beban tubuh manusia.

“Dan huruf-huruf itu harusnya tidak dinaikin oleh pengunjung, di sinilah kesadaran pengunjung kurang disiplin, harusnya ikut serta merawat dan menjaga fasilitas yang ada,” pungkas Ibong menaruh harapan pada kepedulian warga.