Kata Keluarga soal Kematian Tragis Bocah di Sukabumi | Giok4D

Posted on

Sukabumi

Pihak keluarga NS (13), remaja yang meninggal dunia di RSUD Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, akhirnya buka suara terkait berbagai informasi simpang siur yang beredar di media sosial.

Keluarga menegaskan pentingnya menunggu bukti otentik dari tim forensik kedokteran kepolisian sebelum mempercayai berbagai spekulasi yang berkembang luas.

Bakang Anwar Asyad, kakak dari ayah korban, mengenang sosok NS sebagai pribadi yang santun dan tengah fokus menimba ilmu agama.

“Beliau anak yang baik, anak yang saleh dan beliau kebetulan sepengetahuan saya diantar bapaknya atau disimpan bapaknya di salah satu pesantren untuk mengaji,” ujar Bakang kepada awak media, Jumat (20/2/2026).

Meskipun NS menimba ilmu di pesantren, Bakang tetap memantau kondisi kesehatan keponakannya yang akrab disapa “Raja” tersebut. Ia mengungkapkan bahwa NS memang memiliki riwayat kesehatan yang kurang stabil jauh sebelum peristiwa ini terjadi.

“Sebetulnya sepengetahuan saya memang sebelumnya juga sering sakit dan mengeluh,” kata Bakang.

Ia menambahkan bahwa secara fisik, kondisi tubuh NS memang tampak kurang bugar selama ini.

“Jadi kalau melihat dari sisi kondisi badannya memang kelihatan sekali bahwa selama ini dia lemah. Kalau berbicara penyakit saya tidak tahu mengidap penyakit apa,” tuturnya.

Bakang juga memberikan kesaksian mengenai pola pengawasan sang ayah, Anwar Satibi, terhadap korban yang dinilainya sangat intens.

“Sebetulnya dari pengawasan itu bapaknya memang intens juga terhadap anak. Kadang di sini diajak tidur di saya, sempat dulu juga di tempat saya cuma bapaknya karena mungkin terlalu sayang juga ditarik,” ungkap Bakang.

Keluarga mengaku tidak menyangka bahwa sakit yang dialami NS akan berakhir tragis. Saat mendengar kabar NS dilarikan ke rumah sakit, Bakang sempat mengira kondisi tersebut hanyalah sakit biasa.

Hal ini sempat membuat pihak keluarga bersikap tenang karena bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadan.

“Pas begitu hari kemarin itu ya, makanya saya santai saja sama istri tuh mikirnya ini hari bulan puasa, biar habis Magrib atau habis buka puasa saya nanti ke rumah sakit, ternyata Allah berkehendak lain,” kenangnya.

Bakang mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui riwayat penyakit secara detail karena tidak setiap hari bersama korban yang berada di pesantren.

Terkait derasnya spekulasi yang menyudutkan pihak tertentu di media sosial, termasuk rumor mengenai ibu tiri korban, Bakang secara tegas menyatakan keberatan.

Ia juga menyatakan keprihatinannya atas beredarnya video yang memperlihatkan kondisi kritis korban sebelum meninggal dunia.

“Satu hal mungkin kalau saat ini berseliweran informasi sehingga mengarah ke salah satu permasalahan atau terindikasi dengan berspekulasi terkait apa pun, ya menurut saya sih itu dibantah saja terlebih dahulu sebelum ada pembuktian yang nyata. Ini kasihan terhadap almarhum,” tegasnya.

Bakang secara pribadi mengajak masyarakat untuk kembali pada etika dan menunggu keputusan riil dari pihak kedokteran kepolisian.

“Ayo kita sama-sama pegang etika bersama untuk bijaksana menyikapi permasalahan ini sehingga nanti kita melihat dari bukti yang otentik. Menunggu keputusan yang memang riil dari pihak kedokteran kepolisian atau tim forensik,” tambahnya.

Ia pun menutup keterangannya dengan membantah seluruh isu liar yang beredar kencang saat ini.

“Mohon izin untuk hari ini beredar isu yang menurut saya itu tidak benar. Itu tidak benar sementara saya bantah terlebih dahulu sebelum hasil dari uji forensik itu benar-benar nyata,” pungkas Bakang.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.