Di tengah arus musik digital yang serba cepat, instan, dan tanpa jeda, sekelompok anak muda justru memilih kembali ke cara lama. Mereka meluangkan waktu, membuka kotak demi kotak, membaca sampul album, dan memutar kaset pita, medium yang bahkan tak pernah mereka jumpai di masa kecilnya.
Pemandangan itu nyaris selalu hadir di DU 68 Musik. Sebuah ruko kecil di kawasan Dipatiukur yang saban hari dipenuhi wajah-wajah muda. Rak sempit berisi kaset pita menjadi titik temu generasi yang lahir di era streaming, namun rindu pengalaman yang lebih pelan dan berjarak.
Begitu pintu toko dibuka, pengunjung berdatangan. Mereka menyusuri rak, berdiskusi soal band-band lama, dan menimbang pilihan dengan sabar. Di antara mereka ada Kayla dan Nafisya, dua mahasiswa yang tumbuh bersama ponsel pintar, bukan tape deck.
Kedatangan mereka bukan sekadar ikut tren, melainkan didorong rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang tak mereka alami sebelumnya.
“Karena sekarang udah serba modern, jadi pengin tahu yang vintage-vintage gitu,” kata Nafisya.
Di toko kecil itu, musik tidak lagi hanya soal bunyi. Mendengarkan kaset mengubah ritme, memaksa pendengarnya terlibat penuh dalam proses.
“Kalau di HP kan cuma dengar aja, tapi kalau di kaset tuh ada prosesnya, nyari dulu, masukin kasetnya, dengarnya juga beda,” kata Nafisya.
Bagi Nafisya, kaset pita menjadi simbol kecil perlawanan terhadap cara menikmati musik yang semakin cepat dan dangkal.
“Secara nggak langsung ini bentuk perlawanan sih. Walaupun kita udah modern, tapi nggak menghilangkan identitas mendengarkan musik zaman dulu,” ujarnya.
Ketertarikan terhadap kaset pita ini juga tak lepas dari pengaruh tren ‘skena’ yang menjalar di kalangan gen z. Namun bagi Nafisya, tren ini justru membuka ruang baru bagi budaya lama untuk hidup kembali.
“Sekarang kan lagi hype skena mentok gitu, terus fomo juga, tapi yaa setidaknya fomo ini tuh bermanfaat juga. Jadi banyak lagi yang koleksi kaset, bahkan ada yang jual-beli lagi,” kata Nafisya sambil tertawa.
Sementara bagi Kayla, DU 68 Musik terasa seperti ruang yang terlepas dari hiruk pikuk Dipatiukur yang modern. Keberadaannya justru mencolok karena kelangkaannya.
“Sekarang tuh tempat kaya gini jarang banget. Jadi pas tau ada, aku mikir, kenapa enggak nyobain,” ujarnya.
Proses itulah yang membuat pengalaman mendengarkan terasa lebih dalam. Imajinasi tumbuh, rasa ingin tahu muncul, dan musik tak lagi berdiri sendiri.
“Jadi sambil mikir oh berarti orang-orang jaman dulu juga kaya gini ya, gimana sih dulu orang-orang bikin musik sampai bisa jadi kaset gini,” ucap Kayla.
Selain soal gaya hidup, keterbatasan platform digital turut mendorong mereka kembali ke format fisik. Tidak semua musik yang mereka cari tersedia di layanan streaming.
“Awalnya dengerin dari spotify, tapi disana ngga semua lagu itu ada. Kaya The Beatles, Radiohead, Smashing Pumpkins juga lagunya banyak yang gaada,” kata Kayla.
Fenomena ini disaksikan langsung oleh Om Benz, pemilik DU 68 Musik. Ia melihat bagaimana generasi baru datang dengan kegelisahan yang sama, musik digital memang mudah, tetapi terasa kehilangan sesuatu.
“Banyak yang bilang juga, terutama generasi sekarang, ketika mereka dengar digital Kayak ada yang kosong, kayak ada yang hilang. Jadi mereka cari yang originalnya gimana sih, ada perbedaan dari segi ini ya pengalaman mendengarkannya gitu,” ujarnya.








