Markas Polrestabes Bandung di Jalan Merdeka, Kota Bandung, dahulu merupakan bangunan sekolah. Muridnya adalah anak-anak dari kalangan rakyat biasa yang menaruh harapan besar untuk naik status menjadi ‘menak’ setelah lulus.
Bangunan Mapolrestabes Bandung tersebut dahulu adalah Sakola Radja (Sekolah Raja). Demikian sebutan warga lokal untuk sekolah yang nama aslinya adalah Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers (dibangun 1864-1866).
Sudarsono Katam Kartodiwirio dalam buku ‘Bandung: Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah’ (2006) menyebutkan, alasan sekolah tersebut dinamai sekolah raja karena murid-muridnya merupakan anak-anak para pembesar pribumi kala itu.
Selain mengutip ‘Kuncen Bandung’ Haryoto Kunto, Sudarsono juga mengutip sastrawan sekaligus tokoh pers Sunda, Syarif Amin. Syarif menyebut penyebutan sekolah raja muncul karena pendirian sekolah tersebut bersamaan dengan naik takhtanya Ratu Wilhelmina di Belanda.
Namun, M Rizky Wiryawan dalam tulisan ‘Sekolah Kolonial di Bandung: OSVIA dan Kweekschool’ (2010) memiliki pandangan lain. Menurutnya, ada salah kaprah dalam menyebut Kweekschool yang merupakan sekolah guru sebagai sekolah raja.
Sebab, sekolah raja yang muridnya benar-benar dari kalangan menak atau putra-putri pembesar pribumi adalah Hoofdenschool (1865) yang berlokasi di kawasan Tegallega. Pada 1900-an, Hoofdenschool berubah menjadi OSVIA (Opleiding voor Inlandsche Ambtenaren) yang mencetak pegawai dan administratur bagi instansi Belanda.
Jika demikian, maka Kweekschool yang mencetak guru menjadi jalan bagi warga biasa untuk naik status sebagai ‘menak’. Pasalnya, setelah lulus, mereka akan ditempatkan sebagai guru di sekolah-sekolah milik pemerintah dan mendapatkan sejumlah fasilitas serta gaji tetap.
Menurut M Rizky Wiryawan, Kweekschool terbuka untuk umum dengan sistem asrama. Istimewanya, para murid justru mendapatkan insentif. Sekolah ini diinisiasi oleh KF Holle, seorang administratur perkebunan teh ‘Waspada’ di Garut sekaligus penasihat urusan dalam negeri pemerintah Belanda.
Lulusan sekolah guru Kweekschool di Jalan Merdeka akan berprofesi sebagai guru dengan gaji f40 bagi mereka yang lulus ujian. Bagi yang tidak lulus, mereka tetap bisa mengajar dengan gaji f20. Demikian catatan M Rizky Wiryawan.
Selain gaji, mereka memiliki hak untuk menggunakan payung, tombak, tikar, dan kotak sirih sebagai simbol kehormatan. Di antara benda-benda tersebut, kotak sirih menjadi yang paling menarik. Di Priangan, kotak sirih merupakan atribut resmi kaum menak.
Dikutip dari buku ‘Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942’ karya Dr Nina H Lubis (1998), sirih beserta wadahnya (epok) adalah bagian dari simbol kehormatan.
“Para abdi dalem seperti tukang epok (pembawa sirih dan rokok), tukang pembawa pakecohan (tempat ludah), pembawa payung kebesaran, hingga priyayi pengantar surat, disediakan untuk melayani pegawai semacam ini. Di samping gaji, beberapa bupati juga mendapat tunjangan (toelage) yang cukup besar,” tulis Nina.
Dalam bahasan lain terkait kata ‘Ngampil’, Nina menjelaskan bahwa kotak sirih harus diperlakukan dengan sangat baik. Ada tata cara khusus membawanya, harus didekap jika pembawanya laki-laki, dan digendong dengan kain jika pembawanya perempuan.
Benarkah sirih adalah simbol kehormatan? Sejak dahulu, bahkan sebelum era penjajahan Eropa, sirih telah diposisikan sebagai benda yang dihormati. Dalam buku ‘Simbol-simbol Hindu dan Islam Wetu Telu pada Pura Taman Lingsar Lombok’ (2024), Dr I Wayan Sumertha menjelaskan bahwa sirih digunakan untuk menghormati tamu.
“Pada zaman dulu, baik di Jawa maupun Bali, setiap ada tamu yang datang, tuan rumah pasti menyuguhkan sirih,” tulisnya.
I Wayan Sumertha melanjutkan, dalam kekawin Nitisastra V4 disebutkan: “Masepi tang waktra tan amucang wang, masepi tikang wesma tan ana Putra, masepi tikang desa tan ana mukya, sepinikanang tri apupul ing anartha.”
Artinya: Tanpa sirih di bibir perasaan menjadi sepi, namun lebih sepi rasanya jika di rumah tanpa ada putra. Desa pun menjadi sepi jika tidak ada yang memimpin. Jika ketiga kesepian itu dikumpulkan, maka itulah gambaran orang yang tidak memiliki harta.
