Bandung –
Fakultas Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas) menggelar pameran fotografi bertema mental health (kesehatan mental) di Bandung Creative Hub, Rabu (24/2/2026). Pameran ini menampilkan berbagai karya mahasiswa Unpas dengan benang merah yang sama.
Foto-foto yang dipajang tergolong unik dan memiliki pesan mendalam karena teknik pengambilan gambar yang tidak biasa. Penggunaan atribut yang relevan juga memperkuat kesan pada setiap karya.
Tema kesehatan mental dipilih menyusul maraknya kasus yang berkaitan dengan isu tersebut. Ketua pelaksana pameran Muhammad Hasbi mengatakan seseorang sering kali terjebak pada kondisi masa lalu yang menghambat kemajuan diri. Hal ini mendorong inisiatif Hasbi dan rekan-rekannya untuk meningkatkan kesadaran publik melalui medium fotografi ini.
“Jadi pameran ini tuh menceritakan tentang mengangkat isu mental health gitu. Nah, yang mana itu seringkali kita terjebak di masa lalu. Entah itu dari kenangan buruk, kenangan indah, dan membuat kita terjebak di situ,” katanya.
Kesehatan mental memang menjadi isu sensitif yang sering kali disembunyikan. Pameran ini berupaya agar pengunjung dapat memahami berbagai spektrum emosi, seperti amarah dan kesedihan, melalui makna di balik foto. Melalui goresan, warna, dan instalasi, Hasbi dan tim mencoba menerjemahkan kecemasan yang tak terucap, depresi yang tak rupa, serta harapan yang perlahan tumbuh di sela-sela luka.
Karya yang dipamerkan beragam dengan pengemasan menarik, mulai dari konsep monokrom hingga permainan perspektif. Terdapat deskripsi singkat di setiap karya untuk membantu pengunjung memahami narasi foto. Salah satu teknik yang mencuri perhatian adalah cyanotype. Teknik cetak foto tua ini menggunakan bahan kimia peka cahaya ultraviolet (UV) yang dioleskan pada kertas atau kain.
“Ketakutan terhadap masa depan digambarkan sama karya yang ini. Nah, si biru warna cyanotype itu bukan sekadar cuma warna biru doang, tetapi melambangkan kayak dingin banget di sana gitu. Nah di sini tuh, ketakutan terhadap masa depan,” ungkap Hasbi.
Cyanotype dikenal karena prosesnya yang sederhana tanpa perlu kamar gelap, sehingga populer di kalangan seniman, fotografer, maupun pemula. Ini merupakan formulasi cetak fotografi yang bereaksi lambat dan sensitif terhadap spektrum cahaya biru serta ultraviolet. Cara kerjanya adalah meletakkan objek di atas kertas berlapis larutan garam besi sebelum dipaparkan sinar ultraviolet dan dicuci dengan air untuk menciptakan gradasi warna biru prusia yang menakjubkan.
Inovasi tidak berhenti di situ. Beberapa foto dilengkapi teknologi Augmented Reality (AR) yang memungkinkan gambar bergerak saat dipindai menggunakan aplikasi khusus. AR adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua atau tiga dimensi ke dalam lingkungan nyata secara real-time. Total terdapat 42 karya yang dipamerkan. Melalui pameran ini, Hasbi berpesan agar setiap individu berani beranjak dari masa lalu demi masa depan yang lebih baik.
“Tadi yang saya cerita, sering kali kita terjebak di masa lalu, jadi tidak bisa melangkah, tidak apapun, takut. Jadi pameran ini tuh ngajak kita untuk buat hidup di detik ini juga, sekarang. tidak perlu takut dengan apapun yang ada di masa lalu, ya sudah terjadi biarkan.” kata Hasbi.
