Bandung –
Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Seorang pedagang daging sapi di Pasar Astana Anyar, Kota Bandung, tampak sibuk mengiris dan mengemas pesanan pembeli.
Setelah itu, pedagang bernama Asep Kandar (38) tersebut merapikan daging yang tersisa di jongkonya. Saat dihampiri, Asep menuturkan daging yang tersisa tinggal bagian kepala dan hati, serta tulang sapi yang sudah dibersihkan.
“Tinggal daging kepala,” kata Asep kepada, Kamis (5/2/2026).
Asep menyebut, menjelang bulan Ramadan, harga daging sapi yang dijualnya kerap berfluktuasi.
“Harga daging sapi sekarang Rp120 ribu, pasti naik lagi kalau dekat ke puasa. Daging saya ambil dari kakak, cuman motong nya di Ciroyom,” ujarnya.
Asep mengungkapkan, daging sapi dengan harga Rp120 ribu per kilogram itu memiliki kualitas biasa. Menurutnya, pada waktu sebelumnya, harga tersebut sudah bisa mendapatkan daging dengan kualitas bagus.
“Harga naik terus, buat pembeli menurun. Normal yang super Rp120 ribu, kalau sekarang harga segitu ada selap gajihnya,” ungkapnya.
Asep menuturkan, omzetnya kini merosot tajam. Jika biasanya beberapa minggu jelang puasa permintaan meningkat, kondisi saat ini justru lesu.
“Sehari sekarang bawa 6 kilogram. Tadinya saya bisa jual 50 kilogram per hari. Sekarang yang jual bakso sulit beli dengan harga segini,” tuturnya.
Asep, yang sudah hampir sepuluh tahun berjualan daging sapi, menyebut kondisi pasar dari tahun 2025 ke 2026 adalah yang paling anjlok.
“Menurut saya pas COVID-19 masih bagus, memang turun, tapi masih ada penghasilan. Paling sulit itu di tahun ini,” jelasnya.
Polisi Sidak Pasar Astana Anyar Bandung
Menjelang bulan Ramadan, Satgas Pangan yang terdiri dari unsur Polda Jawa Barat, Bulog, Disperindag, DKPP, Bapanas, hingga Dinas Pertanian melakukan sidak ke pasar. Petugas mengecek langsung stabilitas harga dan ketersediaan stok pangan di lapangan.
“Adapun hasil yang kami temukan, secara umum beberapa komoditi sudah sesuai dengan harga eceran terdiri dengan harga acuan penjualan pemerintah,” kata Dirkrimsus Polda Jabar Kombes Wirdhanto Hadicaksono.
Dalam sidak itu, pihaknya menemukan dua komoditas yang menjadi fokus perhatian karena harganya di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP), yakni gula pasir dan cabai rawit merah.
“Kami menemukan di dua titik responden penjual untuk harga gula itu yang seharusnya harga eceran tertingginya Rp17.500 masih ada yang menjual Rp18.000 per kilonya dan kemudian selanjutnya untuk cabai rawit merah kami masih menemukan untuk harganya masih di atas harga acuan penjualan yaitu yang seharusnya Rp57.000 per kilonya ini masih dijual cukup tinggi di harga Rp80.000-90.000,” ungkapnya.
“Nah oleh karena itu langkah dari Satgas ini nanti ke depan akan memastikan rantai distribusi dari Pasar Astana Anyar ini menuju ke pasar-pasar yang lain yang menjadi distributor dari dua komoditi tersebut,” tambahnya.
Antisipasi Penimbunan
Disinggung terkait antisipasi penimbunan produk pangan, Wirdhanto menegaskan pihaknya akan menyiagakan posko di tingkat kabupaten/kota. Selama bulan Ramadan hingga Lebaran, polisi menjamin ketersediaan Bapokting (bahan pokok penting) agar harganya tetap sesuai koridor HET dan HAP.
“Termasuk selain juga respon di pasar, tapi nanti kami akan mengarah juga kepada distributor 1 dan 2. Termasuk produsen yang akan kami lakukan pengawasan,” tuturnya.
Terkait sanksi, Wirdhanto menyebut saat ini masih sebatas teguran lisan. Namun, jika di kemudian hari ditemukan pedagang yang tetap membandel, pihaknya akan melayangkan surat teguran tertulis hingga sanksi terberat berupa pencabutan izin usaha.
“Jadi kembali lagi bahwa satgas ini selain juga mengatur terkait masalah pengawasan harga Juga termasuk masalah keamanan dan mutu Jadi apabila ada praktik-praktik penyimpangan terkait pangan Baik itu penimbunan, termasuk juga menurunkan kualitas keamanan dan mutu dari produk-produk yang diawasi, tentunya tidak segan-segan kami akan melakukan penegakan hukum apabila diperlukan,” jelasnya.







