Indramayu –
Di sebuah sudut Desa Tamansari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, tumbuh seorang anak yang tak sekadar suka berceramah, tetapi merajut impian di antara bayang-bayang kesenian tradisional.
Namanya adalah Agung Budiman (23), ketertarikannya pada dunia dakwah bersemi sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Musala kecil di depan rumahnya menjadi panggung perdana. Di sanalah ia pertama kali berdiri, menggenggam mikrofon dengan tangan gemetar, memanfaatkan delapan menit waktu ceramah sebagai laboratorium keberanian.
Bagi Agung kecil, setiap kesempatan berbicara adalah pijakan menuju versi dirinya yang lebih matang.
Lingkungan yang suportif membuat langkahnya kian mantap. Namun jalan dakwah yang ia pilih tak berhenti pada mimbar. Ada denyut lain yang memanggilnya sejak belia, wayang kulit.
Sejak kecil, ia kerap diajak ayahnya menyaksikan pagelaran wayang kulit. Dari balik layar putih itu, ia melihat bukan sekadar lakon para ksatria, tetapi juga cermin kehidupan.
Di tengah kegemarannya yang menggebu-gebu, sang ibu meninggal dunia saat ia masih duduk di bangku sekolah madrasah tsanawiyah (pendidikan formal setaraf SMP).
Agung merasa terpukul. Namun ia sadar, perjalanan hidupnya masih sangat panjang, ada mimpi besar menjadi dai dengan wayang kulit sebagai identitasnya.
Memasuki kelas 10 madrasah aliyah (setaraf SMA), Agung benar-benar ‘terjun’ ke dunia pedalangan. Ia belajar kepada Sukardi (53), dalang lokal yang membimbingnya memahami filosofi pewayangan tentang kebenaran, pengorbanan, tanggung jawab moral, dan pencarian jati diri.
“Wayang pertama saya itu terbuat dari kertas karton, itu pemberian bapak. Alhamdulillah sampai tahun 2020 saya bisa membeli wayang kulit. Nyicil belinya,” ujar Agung saat ditemui di kediamannya, Senin (16/2/2026).
Ilmu pewayangan ia rajut dengan nilai-nilai keislaman, menjadikan tokoh-tokoh wayang sebagai metafora kehidupan sosial.
Tak hanya satu guru, Agung memperkaya diri dengan berguru kepada dalang H Rusdi dari grup Langen Budaya, serta KH Ibrohim Nawawi, ulama yang juga memanfaatkan wayang sebagai medium dakwah. Dari mereka, ia memetik keyakinan bahwa seni dan agama bukan dua hal yang berseberangan, melainkan bisa saling menguatkan.
Kesungguhan itu berbuah manis. Ia menorehkan prestasi sebagai Juara 1 Dai Nasional 2021, Juara 3 Dai Nasional 2022, hingga Juara 1 Dai se-Jawa Barat 2022. Rangkaian capaian tersebut mengantarkannya pada satu titik penting pengukuhan Dai Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tahun 2025.
Hingga saat ini, ia akan tampil berdakwah di salah satu TV nasional dalam sebuah program khusus Ramadan 2026.
“Alhamdulillah ini semua berkat keyakinan dan ketekunan. Ini bukan semata-mata mencari uang, tapi ini adalah ladang amal. Saya yakin, perbuatan baik akan menuai hasil yang manis,” ucap Agung.
Di tengah perjalanan dakwahnya yang baru saja dimulai, Agung ditinggalkan sang ayah yang kembali ke haribaan Sang Kuasa pada Desember 2025 lalu.
Kesedihan mendalam ia rasakan karena sudah tidak punya orang tua. Namun, kondisi tersebut justru membuat Agung tumbuh semakin kuat. Kini ia hidup bersama sang paman, Dadi (58), dalam sebuah rumah sederhana di gang kecil Desa Tamansari.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Bersama sang paman yang populer dengan panggilan Rambo itu, ia mulai menata kembali langkah-langkahnya yang sempat tidak karuan akibat kesedihan mendalam tentang kepergian ayah.
Langkahnya itu secara tidak langsung menghidupkan kembali jejak dakwah kultural yang dahulu ditempuh Sunan Kalijaga pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, menggunakan wayang kulit sebagai jembatan penyebaran Islam di tanah Jawa. Bedanya, Agung melakukannya di tengah lanskap generasi muda dan arus digital.
Baginya, dakwah bukan semata perkara mimbar dan pengeras suara. “Wayang kulit di sini sebagai bahasa tafsir atau penafsiran dari Al-Qur’an. Bukan sekadar dalil-dalil Al-Qur’an yang saya bawakan dalam dakwah, tapi juga penafsirannya dalam lakon yang diperankan oleh para wayang ini,” kata dia.
Karir sang dai muda ini tidak selalu baik-baik saja. Di desanya sendiri, dakwahnya pernah mendapat penolakan. Rantai motornya juga pernah putus sewaktu dalam perjalanan menuju lokasi dakwah di daerah Kecamatan Terisi.
“Waktu awal-awal manggung, kan, saya masih di desa sendiri saja manggungnya. Nah, ada yang protes, dari kata-katanya sih kayak nggak terima; dia orang tua tapi diceramahin sama bocah. Ceramah sempat terhenti hampir satu jam, setelah diberi pemahaman ke dia akhirnya ceramah bisa dilanjutkan,” ungkap Agung.
“Terus juga pernah rantai motor potol waktu perjalanan ke Terisi, ban bocor juga pernah, waktu itu, kan, lagi ngejar waktu tapi kita nggak ada yang tahu kapan musibah datang,” sambungnya.
Tidak hanya itu, di tahun 2026 ia mengikuti audisi dai di Kota Malang. Saat itu ia tertinggal bus di Terminal Harjamukti Cirebon pada sore hari. Uang tiket bus seharga Rp300 ribu hangus. Akhirnya ia terpaksa menunggu bus jurusan Surabaya pada malam hari dengan harga yang relatif sama.
“Saya ketinggalan bus, busnya sudah berangkat duluan. Waktu itu agak cemas dan khawatir tidak bisa ikut audisi, akhirnya masih bisa ikut meskipun agak terlambat,” ucapnya.
Perjalanan Agung Budiman menjadi penanda bahwa masa muda bukan alasan untuk menunda kontribusi di tengah-tengah masyarakat.
Di tangan Agung, dakwah dengan wayang kulit bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang dialog antara tradisi dan spiritualitas. Ia berharap pesan-pesan yang disampaikannya tak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjelma tuntunan dalam kehidupan sehari-hari.
