Bandung –
Di antara rak-rak buku dan ruang sunyi perpustakaan Masjid Pusdai Bandung, tersimpan sebuah karya monumental yang tak sekadar memuat ayat suci, tetapi juga identitas budaya. Mushaf Sundawi merupakan Al-Quran bercorak khas Jawa Barat yang lahir dari gagasan monumental yang dirintis hampir tiga dekade lalu.
Mushaf ini mulai digagas pada 14 Agustus 1995, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi. Prakarsa tersebut datang dari Gubernur Jawa Barat saat itu, R. Nuriana. Keinginan menghadirkan mushaf dengan identitas tanah Sunda muncul dari pemikiran sederhana, Jawa Barat belum memiliki mushaf khas daerah, sementara sejumlah wilayah lain telah lebih dulu memilikinya.
“Gagasan itu diprakarsai dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, R. Nuriana, karena ingin menghadirkan mushaf Sunda dan ada khas Jawa Barat gitu,” ujar Bagus Raihan, staf perpustakaan Pusdai.
Mushaf Sundawi, Alquran bercorak khas Jawa Barat (Foto: Gheyna Sabila Z/). |
Proses penulisan dilakukan selama kurang lebih 15 bulan dan rampung pada akhir 1997. Mushaf ini terdiri dari 762 halaman yang ditulis tangan dengan pendekatan kaligrafi yang tetap mengacu pada kaidah Rasm Utsmani.
Dalam pengantar buku, penanggung jawab pelaksana penulisan menjelaskan bahwa mushaf ini menggunakan khat Naskhi untuk teks utama serta sentuhan iluminasi khas Jawa Barat sebagai bingkai artistiknya.
Yang membedakan Mushaf Sundawi dari mushaf pada umumnya adalah iluminasi pinggirannya. Motif yang digunakan terinspirasi dari flora dan batik khas Jawa Barat, seperti kacapiring, wijayakusuma, patrakomala, hingga batik mega mendung Cirebon. Pada bagian tertentu, terlihat pula siluet mamolo atau tiara masjid khas Banten dan Cirebon sebagai ornamen puncak.
Tujuan kehadirannya bukan sekadar menyajikan kitab suci berukuran besar, melainkan memperkenalkan seni tulis Al-Qur’an dengan sentuhan lokal yang mendalam.
“Memperkenalkan karya seni Al-Qur’an yang ditulis tangan dan juga pinggirannya tuh kayak ada hiasan motif-motif khas flora dan batik Jawa Barat,” kata Bagus.
Dalam buku penjelasan Mushaf Sundawi disebutkan bahwa proses pembuatannya melalui tahap riset, perencanaan desain, hingga eksperimen bahan. Iluminasi dirancang dengan memperhatikan kekayaan ragam hias Sunda, namun tetap menjaga kesakralan teks suci.
Secara teknis, mushaf ini ditulis di atas kertas Conqueror laid, tipe Ripple Art Special, China White, 250 gram buatan Inggris. Penulisannya menghabiskan sekitar 24 ribu mililiter tinta warna dan 5.000 tinta hitam, ratusan pena handam, 750 kuas, 350 pensil, serta 25 dus penghapus.
Pada bagian pinggir bingkai, digunakan emas murni 24 karat dalam bentuk serbuk dan lembaran yang didatangkan dari Jepang dan Taiwan. Menariknya, proses desain motif dilakukan dengan bantuan komputerisasi sebelum diaplikasikan secara manual pada mushaf.
“Jadi di-design dari komputer dulu. Habis itu langsung dimasukin di dalam mushafnya. Setiap juz itu beda-beda motif,” jelas Bagus.
Pendekatan ini dilakukan agar ornamen tidak mengganggu teks Al-Qur’an. Ayat-ayat tetap menjadi pusat perhatian, sementara iluminasi berfungsi sebagai bingkai estetika yang memperkuat makna.
Dalam salah satu bagian buku yang ditulis oleh Drs. H. Ragam Sandika, disebutkan bahwa penulisan Mushaf Sundawi merupakan refleksi pembangunan material dan spiritual, sekaligus simbol kebangkitan identitas daerah melalui karya monumental.
Mushaf ini bukan hanya kitab suci dalam format besar. Karya ini adalah titik temu antara tradisi kaligrafi Islam dan kekayaan visual Sunda. Di setiap halaman, ayat-ayat suci berdampingan dengan jejak flora, batik, dan emas-membentuk narasi bahwa Al-Qur’an dapat menjadi ruang dialog antara iman dan budaya.
Kini, Mushaf Sundawi dapat disaksikan langsung oleh masyarakat pada jam operasional perpustakaan, Senin hingga Jumat pukul 08.00 sampai 17.00 WIB, khususnya selama momentum bulan Ramadan di Masjid Pusdai Jabar.
Video Info Rangkaian Agenda Ramadan di Masjid Istiqlal“








