Jejak Raja Thailand dan Keindahan yang Tersembunyi di Curug Dago

Posted on

Di balik riuhnya kawasan Dago, Curug Dago menghadirkan permata wisata yang tidak hanya menawarkan kesejukan alam, tetapi juga nilai sejarah internasional yang tinggi. Air terjun setinggi kurang lebih 12 meter ini merupakan saksi bisu hubungan diplomatik antara Indonesia dan Kerajaan Thailand yang telah terjalin sejak lebih dari seabad lalu.

Curug Dago bukan sekadar aliran air sungai Cikapundung. Dua Raja Thailand dari Dinasti Chakri pernah mengunjungi tempat ini sehingga menjadikannya istimewa. Raja Chulalongkorn (Rama V) tercatat mengunjungi tempat ini dua kali, yakni pada tahun 1896 dan 1901.

Dalam kunjungannya, beliau menorehkan paraf dan tahun Rattanakosin Era 120 pada sebuah batu besar yang kini dikenal sebagai Prasasti Curug Dago.

Jejak ini kemudian diikuti oleh putranya, Raja Prajadhipok (Rama VII), yang berkunjung pada 12 Agustus 1929 untuk melihat prasasti ayahnya dan turut menorehkan parafnya sendiri.

Keberadaan prasasti tersebut membuat Pemerintah Thailand memberikan perhatian khusus terhadap Curug Dago. Cece, salah seorang pengelola lokal yang telah menjaga tempat ini selama 11 tahun, menjelaskan bahwa dukungan pemeliharaan rutin seringkali datang dari pihak kedutaan.

“Pembiayaan berasal dari pihak Thailand, disalurkan melalui Kedutaan Thailand. Dana tersebut digunakan untuk pengecatan dan perbaikan di area prasasti,” jelasnya.

Bagi pengunjung yang sudah mengenal tempat ini cukup lama, perubahan infrastruktur sangat terasa. Gerald, seorang alumni ITB yang kembali berkunjung, merasakan sejumlah perbedaan sejak terakhir kali berkunjung ke Curug Dago.

“Sekarang kondisinya sudah jauh lebih bagus. Terakhir saya ke sini tangga masih tanah, licin sekali kalau hujan. Sekarang sudah dilapisi beton permanen, jadi lebih nyaman buat jalan,” ungkapnya.

Meskipun sudah direnovasi, keamanan akses masih menjadi perhatian, terutama bagi kelompok rentan. Ibu Neni, salah satu pengunjung, menyampaikan keluhannya terkait kemiringan tangga yang ekstrem.

“Tangga terlalu curam, agak ekstrem dan kurang aman untuk kelompok lansia. Meskipun tersedia pegangan, kami berharap kemiringannya dapat disesuaikan agar lebih nyaman saat menuruni tangga,” keluhnya.

Selain tantangan akses yang curam, Ibu Neni juga menyayangkan adanya sampah di sekitar curug yang berasal dari aliran sungainya. “Airnya keruh, dan banyak sampah di pinggir-pinggirnya. Sangat disayangkan jika tempat bersejarah yang bagus ini memiliki air yang kotor,” pungkasnya.

Wewenang di kawasan ini terbagi secara administratif. Area bagian atas yang mencakup taman bermain anak dan fasilitas MCK yang baru direnovasi berada di bawah naungan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Sementara itu, area air terjun dan prasasti berada di bawah pengelolaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud).

Saat ini, pengunjung dapat menikmati keindahan Curug Dago tidak dikenakan biaya masuk resmi (dengan opsi pembayaran sukarela) di gerbang bawah, meskipun sebelumnya sempat ada wacana penggabungan tiket dengan Tahura sebesar Rp17.000.

Pengalaman Pengunjung dan Tantangan Akses

Pengelolaan dan Fasilitas

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi