Jejak Panembahan Dako, Sang Penyebar Agama Islam di Kuningan

Posted on

Kuningan

Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan menyimpan jejak sejarah syiar Islam yang mendalam. Di sana, terdapat makam keramat seorang tokoh besar bernama Syekh Dako atau Panembahan Dako. Lokasinya berada di kawasan yang sama dengan makam ulama dan pejuang dari Kuningan, Eyang Hasan Maolani.

Untuk mencapai lokasi makam, pengunjung harus menyusuri gang kecil hingga menemukan area parkir kendaraan. Setelah menaruh kendaraan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki membelah deretan makam penduduk setempat.

Tak perlu takut tersesat. Papan petunjuk arah sudah terpasang jelas memandu peziarah menuju kompleks pemakaman Desa Lengkong. Setelah melewati jalan setapak di antara rerumputan dan makam-makam kuno dengan kontur tanah yang dinamis, sebuah bangunan permanen mungil akan menyambut di tengah area pemakaman.

Makam Penambahan Dako di Kuningan dan kitab tafsir Jailani karya Syekh Dako Foto: Fahmi Labibinajib/

Suasana klasik terasa kental di depan bangunan dengan deretan makam berbata merah yang dikelilingi rimbunnya pohon kamboja. Begitu memasuki pintu utama, hamparan karpet hijau, hiasan kaligrafi di dinding, serta deretan Al-Qur’an menciptakan atmosfer ziarah yang khusyuk.

Makam Syekh Dako sendiri berada di ruangan khusus yang terlindungi kaca dan tirai putih. Di dalamnya, terdapat nisan berbatu bata merah tampak bersahaja dengan guratan aksara Jawa kuno yang sarat akan nilai sejarah.

Meski catatan riwayat hidupnya tergolong minim, pegiat sejarah Kuningan, Agus Kusman, mengungkapkan bahwa Panembahan Dako adalah tokoh asal Cirebon yang berdakwah di Kuningan pada akhir abad ke-18. Di tanah Lengkong inilah, beliau mendirikan pesantren yang kemudian menjadi mercusuar dakwah di wilayah tersebut.

Pesantren Lengkong pun tumbuh menjadi pusat penyebaran Islam di Kuningan. Salah satu fragmen sejarah yang paling ikonik adalah kemampuan Panembahan Dako dalam memprediksi lahirnya ulama besar sekaligus pejuang Kuningan yang diasingkan di Manado oleh pemerintah Kolonial Belanda, Eyang Hasan Maolani.

Lebih dari sekadar pendakwah, Panembahan Dako adalah pecinta ilmu pengetahuan. Salah satu warisan intelektualnya yang luar biasa adalah mushaf Al-Qur’an dan Tafsir Jalalain Jilid 2 yang ditulis tangan langsung oleh beliau pada tahun 1850 M. Hingga kini, naskah berharga tersebut tersimpan rapi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kuningan.

Agus menjelaskan bahwa tafsir tersebut ditulis menggunakan aksara Pegon (Sunda-Jawa). Penggunaan aksara ini merupakan strategi cerdas agar masyarakat lokal lebih mudah memahami isi kandungan kitab suci melalui metode tradisional seperti sorogan di mana murid akan membaca kitab dan guru menyimak dan sistem bandungan di mana guru yang membaca kitab dan murid akan mendengarkannya secara bersama-sama.

“Dengan terjemah dan penjelasan dalam bahasa Jawa- Sunda melalui aksara Pegon, masyarakat yang tidak menguasai bahasa Arab dapat memahami pesan-pesan al-Qur’an secara langsung. Hal ini memudahkan umat Islam di pedesaan untuk mempelajari tafsir tanpa harus menempuh pendidikan pesantren secara penuh,” tutur Agus.

Tak jauh dari sana, terdapat pula makam Syekh Muhibat. Makamnya memiliki bentuk yang cukup panjang dan berada di dalam area yang dikelilingi tembok. Menurut Agus, Syekh Muhibat adalah rekan seperjuangan Syekh Dako dalam memperluas syiar Islam di Kuningan.

“Beliau menjadi ulama di Lengkong dengan mendirikan pesantren Lengkong yang mengajarkan dakwah Islam. Pesantren Lengkong ini nanti kedepannya akan diteruskan oleh Kiai Abdul Karim, Kiai Fakih Tolab, Kiai Lukmanul Hakim dan Kiai Hasan Maolani,” tutur Agus.