Galeri Ruhiyat yang kini dikenal sebagai produsen sekaligus ruang pelestarian wayang golek memiliki nilai sejarah besar bagi masyarakat sekitar. Dampaknya terasa nyata, mulai dari pemberdayaan karyawan oleh mendiang Alun Ruhiyat, hingga kehadiran turis yang membantu biaya sekolah anak-anak di lingkungan galeri.
Pada masanya, Alun Ruhiyat aktif memberdayakan warga sekitar, terutama anak-anak yang putus sekolah. Eti Kurniati, salah satu warga yang pernah dibantu Alun Ruhiyat, mengenang kembali masa awal ia mulai diberdayakan di galeri tersebut.
“Karena saya sepuluh bersaudara dan yang lain mulai masuk SD serta SMP, saya memutuskan tidak sekolah dulu. Biar adik-adik saja. Nah, kemudian Pak Ruhiyat menyuruh saya kerja sambil sekolah, jadi biayanya ditanggung beliau,” kenang Eti kepada infoJabar.
Tak hanya Eti, Alun Ruhiyat juga menyekolahkan dan mempekerjakan keluarga serta tetangga lainnya. “Di keluarga Ibu saja ada tiga orang yang disekolahkan, ibu, kakak, dan adik. Banyak juga anak-anak lain yang putus sekolah dibiayai sambil diajarkan membuat wayang,” tambahnya.
Sujana, mantan pekerja di Galeri Ruhiyat mengungkapkan jumlah karyawan saat itu mencapai 30 orang. Semua pekerja mendapatkan fasilitas, termasuk sepeda yang kala itu tergolong barang mewah.
“Karyawan zaman Pak Ruhiyat itu sampai 30 orang. Semuanya difasilitasi sepeda. Dulu, sepeda itu sudah sangat mewah,” jelasnya.
Budaya wayang golek makin populer di kalangan turis sejak keluarga Alun Ruhiyat pindah ke kawasan dekat Hotel Savoy Homann. Nama resmi galeri, yakni A. Ruchyat Gallery: Wooden Puppet & Mask Gallery, sengaja menggunakan bahasa Inggris agar tamu internasional mudah mengenalinya. Kehadiran para turis ini pun membawa dampak ekonomi positif bagi warga.
“Saat saya SMK, saya menjadi anak angkat seorang warga Jerman yang sering berkunjung ke sini. Sejak SMK sampai menikah, biaya hidup saya ditanggung olehnya,” ujar Sujana, salah satu warga yang terbantu oleh kunjungan turis.
Pak Bob, sapaan akrab turis Jerman tersebut, dikenal dermawan dan sering memberikan bantuan kepada anak-anak lain. “Total anak asuh Pak Bob ada 23 orang. Kebanyakan dari mereka sekarang bekerja di Saung Angklung Udjo,” jelas Sujana.
Sepeninggal Alun Ruhiyat, warga bersama sang penerus, Tatang Heryana, berinisiatif menjadikan daerah tersebut sebagai Kampung Seni. Tujuannya agar wisatawan lebih mudah menemukan lokasi Galeri Ruhiyat.
“Pembentukan kampung seni ini inisiatif warga dan Pak Tatang menjelang perayaan 17 Agustus. Anak-anak di sini ikut menggambar dinding, pohon-pohon ditata, bahkan Pak RT dan Pak RW pun turun tangan,” tutur Eti.
Sejak bertransformasi menjadi kampung seni, arus kunjungan turis kembali meningkat. Mereka datang untuk menyaksikan langsung bagaimana kelestarian budaya wayang golek tetap terjaga di Galeri Ruhiyat hingga saat ini.







