Indramayu –
Bagi warga Indramayu, jalur Pantai Utara (Pantura) bukan sekadar jalan nasional yang menghubungkan kota ke kota. Jalur itu adalah urat nadi ekonomi, jalur harapan, sekaligus -bagi sebagian orang- jalan yang menyimpan cerita pilu.
Tak heran jika sebagian warga menjulukinya sebagai jalur ‘tengkorak’, karena setiap tahun selalu menelan korban jiwa. Sepanjang ruas Pantura Indramayu, dari Kecamatan Sukagumiwang hingga Sukra, lalu lintas nyaris tak pernah sepi.
Truk besar, bus, mobil pribadi, hingga sepeda motor saling berbagi ruang di atas aspal yang kondisinya kerap tak bersahabat.
Lubang jalan, penerangan minim, hingga kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi menjadi kombinasi yang berulang kali berujung petaka.
Awal Januari 2026, duka kembali menyelimuti Pantura. Seorang pengendara motor, Sadana (48), warga Kabupaten Cirebon, meregang nyawa di Jalan Raya Pantura Desa Cadangpinggan, Kecamatan Sukagumiwang.
Sore itu, ia berusaha menghindari lubang di badan jalan. Namun motor yang dikendarainya oleng dan terjatuh.
Nahas, dari belakang melaju sebuah truk tractor head dengan jarak yang sudah terlalu dekat. Benturan tak terhindarkan, dan Sadana meninggal dunia di tempat.
Peristiwa tersebut menambah daftar panjang kecelakaan maut di jalur ini. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya Minggu pagi 7 September 2025, kecelakaan beruntun terjadi di Desa Sumuradem, Kecamatan Sukra.
Sebuah truk tronton, dua minibus, satu sepeda motor, dan seorang pejalan kaki terlibat dalam insiden mengerikan itu.
Sebanyak 19 orang mengalami luka-luka, sementara dua orang, yakni pejalan kaki bernama Cicih (50) dan penumpang minibus Ara Sutara (67), kehilangan nyawa.
Rentetan kecelakaan belum berhenti. Paling baru, Rabu malam, 4 Februari 2026, kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di jalur Pantura Desa Kiajaran Wetan, Kecamatan Lohbener, arah Cirebon-Jakarta.
Informasi yang beredar menyebutkan korban terjatuh usai menabrak lubang jalan, lalu terlindas kendaraan lain. Korban meninggal dunia di lokasi kejadian.
Bagi warga Indramayu, tragedi demi tragedi ini bukanlah kejutan. Nono (43), warga Desa Larangan, Kecamatan Lohbener, menilai kondisi jalan menjadi salah satu penyebab utama.
Menurutnya, kerusakan jalan di Pantura seolah tak pernah tuntas diperbaiki.
“Selain itu, PJU sering mati. Jangan heran kalau banyak jalan gelap, terutama di wilayah Widasari,” ujarnya, saat berbincang santai dengan jurnalis di warung pinggir jalan Pantura, Jumat (6/2/2026).
Asmari (39), warga Larangan lainnya, merasakan suasana Pantura yang berbeda saat malam hari. Ia menyebut jalur tersebut terasa mencekam, terlebih dengan banyaknya kendaraan yang melaju kencang.
“Banyak yang ngebut, padahal jalannya nggak mulus semua. Apalagi pengendara motor, ngeri sekali kalau malam,” katanya.
Sementara itu, Rofi (28) menduga tingginya curah hujan belakangan ini ikut memperparah kondisi jalan.
Lubang-lubang bermunculan dan kerap luput dari perhatian pengendara. Ia berharap pemerintah segera melakukan rekonstruksi jalan dan memperbaiki penerangan yang rusak.
“Pengennya, sih, jalan dibeton semua kayak di Pantura Losarang yang mau masuk Kandanghaur, tuh, itu sudah bagus. Kayaknya itu panjangnya kurang dari satu kilometer, deh,” ungkap Rofi.
“Lampu-lampu yang mati tolong segera dibenahi, ini listriknya korslet atau lampunya yang rusak. Pokoknya harus segera diperbaiki demi keselamatan bersama,” lanjutnya.
