Jalan Hidup Iman, Cerita Gerobak Pinjaman dan Berhasil Kuliahkan Anak

Posted on

Indramayu

Selasa (24/2/2026) siang, aroma santan dan gula merah merebak dari sebuah rumah di Perum Bumi Dermayu Indah (BDI) 3, Indramayu. Di dapur sederhana tersebut, Muhammad Iman (52) bersama istrinya, Eni Kristinawati (45), sibuk menyiapkan aneka takjil untuk berbuka puasa. Tangan mereka terampil meracik kolak, candil, lumpia, hingga mi ragit, mi khas Indramayu yang hanya hadir saat Ramadan.

Di balik kesibukan itu, tersimpan kisah keteguhan seorang ayah yang menempuh jalan berliku demi masa depan keluarga. Iman mungkin tampak seperti pedagang biasa di kantin kantor Perum Bulog Indramayu. Namun dari usaha kecil yang dirintisnya, ia berhasil membiayai pendidikan anak sulungnya hingga duduk di semester dua Universitas Diponegoro, Semarang. Sementara putra bungsunya kini menempuh pendidikan di kelas XII SMA.

“Alhamdulillah, anak sudah ada yang kuliah. Saya dulu hanya lulusan SMA, istri juga sama,” tuturnya saat ditemui di kediamannya, sembari tetap merapikan aneka takjil.

Keputusan besar yang mengubah hidupnya terjadi pada 2012. Saat itu, Iman memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya di bengkel variasi mobil. Rasa lelah karena terus-menerus berada di bawah perintah atasan mendorongnya mengambil langkah berani, yakni menjadi wirausaha.

“Sudah cape diperintah terus, akhirnya mencoba berdiri sendiri,” kenangnya.

Langkah tersebut bukan tanpa risiko. Pada masa awal merintis usaha, Iman berjualan kaki lima di pinggir jalan, berbekal kemampuan memasak yang dipelajari dari keluarga sang istri.

Ia harus berpindah-pindah lokasi karena penertiban, bahkan sempat meminjam gerobak milik saudaranya yang kemudian diminta kembali ketika usahanya mulai berkembang.

Dengan perlengkapan seadanya, bermula dari sebuah meja kecil Iman menabung sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, sebuah kesempatan datang ketika seorang kenalan menawarkan dirinya mengelola kantin di kantor Bulog. Sejak saat itu, roda usahanya berputar lebih stabil.

Memasuki Ramadan, kantin tempatnya berdagang libur. Namun bagi Iman, keadaan itu justru membuka peluang lain. Dari rumah, ia memproduksi aneka takjil dan mi ragit yang hampir selalu habis dipesan sebelum sempat dipajang di depan rumahnya.

Sekadar diketahui, mi ragit adalah hidangan yang memadukan mi bertekstur kenyal dengan taburan irisan telur dadar berbumbu, lalu disiram kuah kari santan yang gurih dengan cita rasa kaldu udang yang kuat. Perpaduan tersebut menghadirkan sensasi rasa yang khas dan membangkitkan selera saat waktu berbuka tiba.

Kuliner musiman ini umumnya diproduksi secara rumahan oleh warga Kelurahan Karanganyar, Indramayu. Di luar Ramadan, mi ragit hampir tidak pernah ditemukan di pasaran, sehingga kehadirannya selalu dinantikan masyarakat setiap tahun.

Setiap hari selama Ramadan, Iman dan istrinya mulai mempersiapkan produksi sejak pukul 12.00 WIB agar dapat dipasarkan menjelang sore. Dalam sehari, sekitar empat kilogram adonan mi diolah menjadi kurang lebih 50 porsi Mi Ragit.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, yakni Rp7.000 per porsi. Iman juga menyediakan porsi seharga Rp5.000 sesuai permintaan pembeli. Bahkan, tidak sedikit pelanggan yang memesan untuk dijual kembali dengan harga sekitar Rp10.000 per porsi.

“Masuk hari ketiga puasa saja sudah habis duluan karena pesanan. Sampai ada tetangga yang bilang katanya jualan, tapi tidak pernah kelihatan,” ujarnya sembari tersenyum.

Usaha musiman tersebut menjadi penopang penting menjelang Idulfitri. Dari keuntungan berjualan, Iman dan istrinya juga mampu mencicil rumah subsidi yang kini mereka tempati.

Bagi Iman, pilihan menjadi pengusaha adalah jalan hidup yang ia yakini. Ia mengaku lebih nyaman mengatur arah usaha sendiri, meski penuh tantangan. Kunci yang ia pegang sederhana, ikhtiar, doa, dan keikhlasan.

“Tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini. Tapi saya percaya, selama kita berusaha dan berdoa, insyaallah ada jalan,” ucapnya.

Dari kaki lima hingga mampu mengantarkan anak ke perguruan tinggi, perjalanan Iman ini memberikan pelajaran bagi detikers bahwa kerja keras yang dijalani dengan ketulusan, dapat membuka pintu-pintu harapan yang sebelumnya terasa jauh.