Jalan Aceh Bandung dan Perannya dalam Rencana Ibu Kota Hindia Belanda

Posted on

Bandung

sebagian warga Bandung, Jalan Aceh mungkin hanya nama jalan yang dilewati tanpa kesan istimewa. Namun, di balik ketenangannya, kawasan ini menyimpan cerita tentang ambisi besar pemerintah kolonial Belanda dalam membangun Bandung sebagai kota modern, sehat, dan terencana.

Terletak di kawasan Bandung bagian utara, tidak jauh dari pusat kota lama, Jalan Aceh menyimpan jejak sejarah tentang bagaimana Bandung dibangun sebagai kota modern, teratur, dan strategis pada awal abad ke-20.

Dalam peta kolonial awal abad ke-20, kawasan ini masuk dalam wilayah pengembangan Bandung sebagai kota hunian elite Eropa. Saat itu, wilayah utara Bandung diarahkan menjadi kawasan permukiman orang Belanda yang jauh dari pusat aktivitas pribumi di selatan rel kereta api.

Penamaan Jalan Aceh sendiri mengikuti pola kolonial yang menggunakan nama daerah di Hindia Belanda. Langkah ini lazim dilakukan untuk menandai ruang kota sekaligus mempertegas kekuasaan administratif Belanda atas wilayah jajahan.

Transformasi Fungsi

Pada masa kolonial, Jalan Aceh dikenal sebagai kawasan hunian elite yang sunyi dan tenang. Rumah-rumah besar dengan halaman luas dibangun dengan gaya arsitektur Indische Empire, menyesuaikan iklim tropis Indonesia, namun tetap mencerminkan gaya Eropa.

Kawasan hunian ini dirancang dengan jarak bangunan yang renggang, banyak ruang terbuka, dan vegetasi sebagai peneduh. Pola ini terlihat jelas di sekitar Jalan Aceh yang sampai saat ini masih mempertahankan kesan teduh dan sunyi.

Memasuki tahun 1920-an, fungsi Jalan Aceh mulai bergeser. Bandung yang semula dirancang sebagai kota hunian, berkembang menjadi pusat administrasi dan pendidikan. Beberapa bangunan penting didirikan di sekitar Jalan Aceh.

Gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas publik yang kini menjadi cagar budaya ada di sana. Bandung sejak awal abad ke-20 diproyeksikan sebagai kota pendidikan, ditandai dengan berdirinya berbagai sekolah Eropa dan lembaga teknis.

Jalan Aceh menjadi kawasan strategis yang menghubungkan antara hunian elite, kantor pemerintahan, dan sekolah-sekolah kolonial.

Perubahan ini sejalan dengan rencana Belanda yang ingin menjadikan Bandung sebagai calon ibu kota Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang dianggap sudah terlalu padat dan tidak sehat.

Meskipun mengalami beberapa perubahan, dari simbol eksklusivitas kolonial menjadi bagian dari ruang publik kota yang lebih inklusif, Jalan Aceh tetap mempertahankan namanya.

Mengapa Jalan Aceh Jarang Dibicarakan

Ada paradoks menarik tentang Jalan Aceh. Meski penting secara historis, kawasan ini jarang menjadi sorotan. Salah satu alasannya adalah minimnya fungsi komersial dan wisata populer di Jalan Aceh, sehingga perhatian publik lebih tertuju pada Jalan Braga, Dago, atau Asia Afrika.

Membaca sejarah Jalan Aceh bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga membuka kesadaran tentang pentingnya merawat kawasan bersejarah sebagai bagian dari identitas Kota Bandung.