Batang-batang tanaman jagung terhampar di lahan perbukitan di Desa Kanangasari, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Akses menuju ke perkebunan jagung yang dikelola warga itu memang cukup sulit karena mesti melewati jalan-jalan kecil yang cuma cukup untuk satu mobil. Namun lokasinya strategis, karena di kelilingi tanaman lain sebagai sumber pendapatan warga setempat.
Jagung itu ditanam oleh warga yang tergabung di dalam kelompok tani. Namun secara kepemilikan, tanaman tersebut milik Polres Cimahi sebagai upaya mendukung swasembada pangan nasional.
Wakapolda Jabar, Brigjen Pol Adi Vivid Bachtiar didampingi Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra mengecek langsung tanaman jagung di pelosok Bandung Barat itu. Semuanya ternyata sudah siap dipanen.
“Hari ini kita memanen jagung kurang lebih sebanyak 20 ton, ditanam di lahan seluas 5 hektare oleh kelompok tani dan Polres Cimahi,” kata Brigjen Adi Vivid saat ditemui, Kamis (8/1/2026).
Pada kuartal 1 tahun 2026, di Jawa Barat setidaknya ada sebanyak 300 ton jagung yang bakal dipanen. Produksi tanaman jagung oleh Polres-polres jajaran itu menempatkan Polda Jabar di peringkat ke-4 secara nasional.
“Untuk luas lahan seluruhnya di wilayah Jawa Barat itu mencapai 75,99 hektare, kurang lebih hasil panennya sekitar 300 ton. Kita ada di peringkat ke-4 secara nasional untuk produktivitas jagung,” kata Adi Vivid.
Setidaknya ada 241 orang yang tergabung di dalam 24 kelompok tani mengelola tanaman jagung di Jawa Barat. Nantinya tanaman jagung yang sudah dipanen akan diserap langsung oleh Bulog.
“Kita memberdayakan 241 petani dalam 24 kelompok tani untuk mengelola tanaman jagung. Nanti hasilnya akan diserap bulog, tentu ada hasilnya juga buat para petani,” kata Adi Vivid.
Ita Sumitra (60), salah seorang petani jagung yang terlibat, senang bisa produktif lagi. Sudah 4 bulan, Ita dan puluhan petani lain di Desa Kanangasari mengelola tanaman jagung di lahan perbukitan yang sebelumnya ditanami tanaman keras.
“Sudah 4 bulanan, sebelumnya ya serabutan. Jadi sebelum ikut bertani, ada pelatihan dulu. Untuk menanam jagung saya pribadi baru sekarang,” kata Ita.
Ita mengaku tak begitu mengalami kesulitan dalam menanam hingga merawat tanaman jagung di lokasi tersebut. Hal yang menjadi tantangan adalah kontur tanah yang berbukit-bukit.
“Kalau kesulitan, ya itu lokasinya kan nggak rata di sini. Banyak bukitnya, jadi lumayan capek. Mudah-mudahan bisa manjang dan bikin kami sejahtera,” kata Ita.







